
Tiba di ruang kerja, Angkasa langsung didudukkan Sakti. Meski sempat kebingungan dan menganggap bahwa sahabatnya itu bercanda, tetapi melihat ekspresi Sakti yang begitu tegas, Angkasa menyadari ada suatu hal.
“Gimana masalah lo sama Myria?”
Alis Angkasa naik tinggi mendengar pertanyaan Sakti. Hati pria itu bertanya, masalah apa yang dimaksud? Dia merasa hubungannya bersama Myria baik-baik saja meski kemarin-kemarin sempat berselisih perkara ayah Erika yang tiba-tiba muncul.
“Gue sama dia baik-baik aja. Ngomong apa sebenarnya lo?”
“Serius udah baikan?” Sakti berusaha meyakinkan. “Apa lo udah jelasin soal masa lalu lo sama Erika?”
Tak hanya alis yang menaut, kening Angkasa ikut berkerut dalam. Omongan Sakti kali ini memang sulit dicerna. “Gue nggak bisa mikir banyak-banyak dulu. Lo kalo mau ngomong, jelasin sekalian aja dah,” kata Angkasa dengan nada pasrah.
Sepertinya Sakti lupa bahwa Angkasa belum pulih total. Dia terlalu khawatir sehingga datang-datang langsung mencerca tanpa ada basa-basi.
Dihelanya napas panjang, Sakti menarik ponsel dari saku celana lantas menyodorkan pada Angkasa. “Di hape lo ada obrolan ini nggak?”
Tak butuh waktu lama untuk menahan rasa penasaran, Angkasa segera menyahut ponsel tersebut. Sebelum membaca, tatapan pria itu mengarah pada Sakti lagi seakan dia bisa bicara melalui sorot matanya yang tajam.
Kening yang sejak tadi mencetak lipatan itu makin mengerut dalam. Angkasa berubah tegang, terbukti dari gradasi wajah yang berubah dan urat-urat di area leher serta pelipis ikut menonjol. Bahkan, sadar atau tidak, dia meremas ponsel di tangan.
__ADS_1
Ada panas menjalar di dada sebagai suami yang dikelabui. Entah apa menyebutnya, marah atau cemburu saat mendapati kenyataan sang istri diam-diam menghubungi pria lain sekalipun itu sahabat sendiri.
“Tahan emosi lo.” Sakti berusaha memberi penjelasan. “Gue bilang gini karena nggak pengin lo salah paham. Gue juga pengin lo buruan kelarin ini semua. Masa lalu emang sering jadi sumber masalah di suatu hubungan, Ka. Dan gue nggak mau istri lo denger dari orang lain. Lebih baik lo ngaku, kasih pengertian kalau semua itu udah selesai.”
Angkasa bergeming. Jemarinya mengurut pangkal hidung karena kepala mendadak pening memikirkan masalah yang terus datang. Padahal, dia kira setelah perjalanan panjang menggapai restu Tuan Tirta, akan ada sedikit jeda untuk bisa bernapas lega lebih lama. Namun ternyata, yang ada justru sebaliknya.
Ponsel yang sejak tadi tersimpan di saku itu akhirnya ikut keluar. Angkasa baru menyadari jika Myria telah mengirim kabar bahwa wanita itu telah sampai di rumah. Biasanya dia akan senang dihubungi istri tercinta, tetapi kini ada sedikit kekecewaaan.
“Myria ngehapus percakapan di hape gue ternyata.” Angkasa membenarkan isi obrolan yang ada di ponsel Sakti. Sahabatnya itu menghela napas panjang tanpa menambahi apa pun.
“Dia punya alasan buat itu.”
“Sampein alesan lo sama Myria.” Sakti menukas. “Biar dia lega dan berhenti nyari tahu soal masa lalu lo. Dia istri lo, Ka, bukan orang lain.”
Alih-alih langsung setuju atas saran Sakti, Angkasa justru mendesah panjang. Ada rasa tidak siap andai Myria tidak mau menerima dan akan menjaga jarak.
Detik berputar hingga menjadi puluhan menit. Sakti biarkan Angkasa terdiam di posisi duduk cukup lama. Saat tak lagi betah, pria itu beranjak dan memesankan segelas susu pada pekerja yang ada di pantry.
“Minum ini dan gue anter lo balik kalau itu udah abis.”
__ADS_1
Angkasa melirik sepintas. Dia berdecak, tetapi akhirnya menerima dan meminum susu itu sampai habis. Setelah lebih tenang lagi, barulah menerima saran Sakti.
Dengan memakai mobil perusahaan, Sakti mengantar Angkasa kembali ke rumah tanpa ada pekerjaan yang sempat ditangani sahabatnya itu. Lagipula, kondisi Angkasa belum stabil jika dipakai untuk bekerja. Sakti khawatir hal itu memengaruhi jangka kesembuhan nanti.
“Sekali lagi gue bilang kontrol emosi lo. Nggak perlu marahin dia, lo juga salah di sini karena nggak mau terbuka. Gue juga nggak bisa belo lo atau Myria kalau kayak gini.”
Ocehan Sakti hanya ditanggapi deheman. Angkasa lekas turun dan membiarkan sahabatnya kembali. Selepas membuka pagar, pria itu melihat mobil masih di rumah, itu artinya ibu serta sang istri belum pergi ke butik.
Tujuan Angkasa langsung ke kamar saat tahu tidak ada orang lain kecuali pekerja rumah tangga yang ada di dapur.
“Kasa!” Myria dibuat kaget saat pintu kamar terbuka tiba-tiba. Untung saja kegiatan berganti pakaiannya telah selesai. “Ada masalah? Kepalamu sakit? Kenapa udah pulang?”
Pertanyaan-pertanyaan Myria dibiarkan tersapu angin. Angkasa langsung memeluk dan mendaratkan kepala ke bahu sang istri. Dengan satu tarikan napas dan keberanian yang ada, pria itu berkata, “Maafin aku, My, kalau hubunganku sama Erika dulu bikin kamu kepikiran.”
Ucapan yang baru saja lolos dari bibir Angkasa menghadirkan ketegangan di sekujur tubuh. Myria hendak melepas pelukan dan melihat wajah sang suami, tetapi Angkasa bersikeras tetap bersandar. Terima tidak terima, Myria pasrah. “Kenapa tiba-tiba gini?”
“Aku tahu kamu nyoba cari tahu soal hubunganku sama Erika lewat Sakti.”
Napas Myria tertahan. Dadanya seperti terimpit tembok kanan-kiri, sementara bibir mungilnya otomatis terbungkam. Dia takut Angkasa marah sekarang.
__ADS_1
“Nggak perlu lakuin itu lagi, aku bakal ngaku sekarang, Myria.”