Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 30


__ADS_3

“Minum obat lagi atau cukup konsultasi?”


Angkasa menggeleng. Dia enggan bicara pada Sakti meski sudah didatangi. Tiga hari setelah menemui Tuan Tirta, pria itu belum mau keluar rumah.


Kamar menjadi tempat ternyaman bagi Angkasa sekarang. Dia kembali mengurung dan menarik dirinya dari lingkungan sosial yang penuh kesibukan. Bahkan, pekerjaan pun hanya dipantau dari rumah melalui tablet.


“Ka, lo bisa cerita sama gue apa yang lo rasain sekarang. Gue sama nyokap-bokap lo, nggak bisa kalau nemuin lo sama Myria. Dia ….”


“Gue nggak minta itu.” Angkasa menukas. Dia tegakkan diri dan memandangi pepohonan dari balik jendela kaca yang ada di kamar. “Gue emang bego banget kemarin. Sok-sokan ke rumah dia buat ngelamar, tapi malah kayak gini. Gue yakin dia bakal mikir ulang buat nikah sama gue.”


“Ngomong apa, sih, Ka, lo itu?” Nada bicara Sakti meninggi. Ketika sahabatnya merasa rendah diri, dia harus mati matian menguatkan. Sakti tahu depresi Angkasa mulai kambuh karena salah satu tandanya sudah terlihat jelas.


“Myria nggak kayak pikiran lo!” kata Sakti lagi tanpa menurunkan intonasi.


Angkasa kembali diam. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri. “Sakti, gue nggak bisa. Gue nggak bisa dapetin Myria lagi. Paman Mandala pasti makin nggak terima punya mantu pria gila kayak gue. Gue emang seharusnya tahu diri dan ngaca, nggak seharusnya gue ....”


“Itu cuma pikiran lo, Kasa!” Posisi Sakti yang awalnya di dekat meja televisi, kini mulai melangkah maju.  Dia arahkan pandangan pada Angkasa meski sahabatnya itu memunggungi. “Lo nggak gila, Ka! Berapa kali gue bilang lo itu sehat? Dokter juga bilang kondisi lo udah sembuh, kan? Kenapa lo gini lagi?”


Angkasa bergeming. Pria itu tidak menyahut sama sekali. Minat bicaranya masih hilang entah ke mana, tetapi pikirannya begitu berisik dengan asumsi-asumsi buruk yang diciptakan sendiri.

__ADS_1


Satu tangan Sakti mendarat di bahu Angkasa. Meski tidak direspons, pria dengan kemeja putih motif titik-titik hitam itu tetap ingin menyampaikan kalimat penyemangat. Dia tarik napas sebentar dan membuangnya pelan, lantas berujar, “Meski gue juga belum nikah, tapi gue yakin pernikahan nggak bakal semenyeramkan pikiran lo, Ka. Dulu, kegagalan yang lo alami, mungkin itu salah satu alasannya karena lo belum bisa berpikir dewasa dalam banyak hal. Gue tahu pasti berat banget ngambil keputusan dalam kondisi terdesak. Apalagi pilihan yang lo hadapi adalah orang-orang berarti di hidup lo.”


Bahu kokoh itu ditepuk Sakti berulang kali secara pelan. Dia maju dua langkah untuk menyejajarkan posisi dengan Angkasa. Tangannya yang sedikit berotot pindah ke sisi lain guna merangkul. “Tapi sekarang lo udah banyak berubah, Ka. Lo punya kekuasaan yang cukup kalau cuma buat bertahan hidup. Myria juga udah beda, jangan mikir hal yang bikin lo ngerasa insecure mulu. Coba lo lupain kekurangan lo, fokus pada kelebihan dan tunjukin itu sama bokapnya Myria. Kalau lo optimis, aura lo juga bakal beda di matanya nanti.”


Kali ini, Angkasa mendengar saran Sakti. Sejak tadi dia membisu dan melamun, bukan berarti abai begitu saja. Angkasa tidak lupa bagaimana repotnya Sakti sejak  dahulu.


Kepala Angkasa perlahan menoleh ke arah Sakti. Bibir yang sejak kemarin begitu sulit tersenyum, kini mulai terangkat sedikit. Dua tangan yang sejak tadi menganggur pun ikut membalas rangkulan sahabatnya. “Thanks. Lo selalu yang terbaik.”


Sakti bernapas lega melihat perubahan ekspresi Angkasa. Diberikannya tepukan beberapa kali lagi, lalu tangannya ditarik dan disimpan ke saku celana. Penglihatan Sakti ikut mengarah ke luar jendela. “Kita punya Allah, Ka. Gue nggak mau nyeramahin lo karena emang pikiran lo lagi kacau.”


Oksigen dihirup cukup banyak oleh Sakti guna memenuhi paru-parunya. Dia melanjutkan perkataan setelah membuang karbondioksida dari hidung. “Tapi satu hal yang gue pengin lo selalu inget. Takdir kita udah terukir rapi di Lauhul Mahfudz. Kehidupan lo dan gue di masa lalu bukan buat dipikirin terus menerus dan kehidupan kita yang akan datang, bukan juga buat dicemasin. Kalau manusia sibuk memikirkan yang udah berlalu dan mencemaskan apa yang belum kejadian, kapan manusia itu bisa menikmati hidup?”


“Keknya lebih pantes lo duluan yang nikah daripada gue,” kata Angkasa sembari melipat lengan ke perut.


Lidah Sakti berdecak. Dia memutar badan dan mundur menuju ranjang. Tiba di tempat tidur, lelaki itu merobohkan badan sepenuhnya. “Gue santai aja. Belum juga kepala tiga. Ngapain buru-buru? Lagian nikah bukan lomba yang berhadiah. Nanti aja, lah.”


“Betah banget lo jomlo.” Angkasa mencibir.


Sakti tak menggubris. Dia justru menutup matanya dengan lengan kiri dan siap tidur padahal hari sebentar lagi petang. Dirinya memang belum istirahat sama sekali lantaran pulang kerja langsung mendatangi Angkasa. Selama tiga hari seperti itu saking khawatirnya.

__ADS_1


“Emangnya ada hal yang bikin nggak betah?” kata Sakti secara santai. “Duit gue pegang, mau beli ini itu tinggal tunjuk, nyokap bokap juga di rumah. Apalagi yang dibutuhin? Kalau soal ada yang ngurusin, nyokap sama ART di rumah nggak kurang, Ka.”


Angkasa menghampiri lalu mendorong kaki Sakti yang menggantung ke lantai dengan kakinya. “Lo juga butuh keturunan, Bego! Nggak mungkin keluarga Pradana berhenti di elo!”


Mata Sakti kembali terbuka saat tangannya dipindah. Tatapannya mengarah pada Angkasa yang masih berdiri di tepi kasur. “Jadi lo mau rujuk cuma ngebet pengin punya anak? Ya, elah, Ka, gue kira apa.”


Salah asumsi membuat Angkasa geram. Tendangan kakinya makin kuat hingga mengundang ledakan tawa dari Sakti. Angkasa menyingkir dari posisinya, lalu menarik gelas kosong dari meja. “Gue nikah buat nyempurnain separuh agama. Kalau udah siap semua, mau nunggu apa?”


Bibir Sakti terkunci. Matanya mulai berat untuk terbuka. Suara Angkasa yang awalnya terdengar jelas mulai samar samar dan mengecil hingga hilang sepenuhnya.


Tak dapat tanggapan, Angkasa mendekati Sakti. Tahu penyebab diabaikan, dia berdecak. “Ini anak malah tidur. Nggak tahu bentar lagi magrib?”


Semenyebalkannya Sakti, Angkasa tetap sayang. Maka dari itu, dia biarkan sahabatnya istirahat dan akan membangunkan saat azan berkumandang.


Pria dengan kaus putih polos oversize dan celana pendek kain di bawah lutut itu hendak keluar. Gelas yang telah kosong sejak tadi perlu diisi. Angkasa tinggalkan Sakti begitu saja dan segera menuju pintu.


Baru saja pintu terbuka, gelas di tangan Angkasa jatuh dan pecah sehingga mengangetkan Sakti yang baru mulai menggapai lelap.


“Ka!”

__ADS_1


__ADS_2