
"Maaf, maaf mbak.. saya tidak sengaja.. saya kira kekasih saya.." Ucap permohonan maaf Rival. Orang itupun kemudian pergi meninggalkan Rival dan Rita. Rival sempat malu dibuat oleh perbuatannya sendiri.
Rita pun menggelengkan kepala melihat sikap Rival. Baru kali ini Rival halusinasi seperti ini. Dan Rita pun menggenggam tangan Rival. Kemudian menarik Rival untuk duduk di sebuah kursi panjang. Rival yang tidak bisa berucap apa-apa, hanya menurut saja apa kata Rita.
"Rival, kamu ikuti apa kata Aku ya.." Ucap Rita. Rival hanya diam saja.
"Sekarang kamu pejamkan mata kamu.. Lalu, katakan kalau Aku baik-baik saja.." Ujar Rita memberi arahan. Rival pun mengikuti apa kata Rita.
"Dan.. kamu coba rileks, lupakan semua yang terjadi. Lupakan semua yang menjadi beban pikiran kamu.. kosongkan pikiran kamu sekarang.. pusatkan dirimu, bahwa kamu baik-baik saja.." Ucap Rita.
Rival pun sedang menikmati meditasi yang diarahkan oleh Rita. Rita pun memberikan arahan lagi kepada Rival.
"Setelah di rasa cukup, sekarang coba tarik nafas dalam-dalam, kemudian hembuskan secara perlahan.. " Ujar Rita. Rival pun mengikuti saran Lisa. Dan Rival pun membuka mata secara perlahan.
"Bagaimana rasanya? Lebih enak kan?" Tanya Rita. Rival pun mengangguk. Dan Rival tidak menyangka, bahwa iya bisa setenang ini. Rita meminta Rival untuk bercerita kepadanya apa yang telah terjadi barusan.
"Rival, sekarang kamu cerita ya.. sebenarnya kamu kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba memeluk istri orang?" Tanya Rita. Rival tidak menjawab pertanyaan Rita. Iya hanya menunduk malu.
"Jawab aja ga apa-apa Rival.. siapa tau Aku bisa bantu kamu.." Ujar Rita. Rival pun menatap wajah Rita lekat-lekat. Dan Rival melihat ketulusan di wajahnya. Akhirnya Rival bercerita.
"Tadi, Aku melihat orang yang mirip sekali dengan kekasihku yang sudah meninggal. Dan itu benar-benar seperti nyata. Dia ada di hadapanku. Lalu Aku coba untuk mengejar dia. Dan ketika Aku berhasil mengejarnya, Aku langsung memeluknya. Tapi, kenapa tiba-tiba dia berubah menjadi orang lain?" Ujar Rival. Rita mengira bahwa Rival sedang berhalusinasi.
"Rival, kamu itu sedang halu ya?" Ujar Rita.
"Enggak kok.. Aku ga halu, itu beneran Namira.. Dan Aku ga bohong.. kamu percaya kan?" Ujar Rival sembari memegang kedua tangan Rita. Rita pun terkejut ketika kedua tangannya di pegang oleh Rival. Dan Rita pun berkata kepada Rival.
"Rival, sekarang coba kamu sadar, Kalau memang dia adalah Namira.. kenapa pas kamu peluk, dia berubah menjadi orang lain?" Ujar Rita.
"Tapi beneran Rita.. Aku benar-benar melihat Namira tadi.. tapi ga tau kenapa dia berubah menjadi orang lain.." Ujar Rival tetap keke dengan pendapatnya.
__ADS_1
"Iya.. Aku percaya kok sama kamu.. Kita sekarang pulang ya.." Ajak Rita. Rival mengikuti saran Lisa. Iya pun pulang bersama Rita. Rita merasa lebih ringan hari ini pekerjaannya. Karena Rival hari ini menurut saja apa kata Rita. Dan Rival pun juga tidak membantah apa yang disarankan oleh Rita.
.
.
Sesampainya di rumah Rival, Marta pun bingung kenapa Rival menjadi sangat pendiam seperti itu. Marta menanyakan apa yang telah terjadi kepada Rival.
"Rival.. kamu kenapa nak?" Tanya Marta. Rival tidak menjawab perkataan Ibunya. Rival pun langsung masuk ke kamar tanpa menghiraukan perkataan mamanya. Marta hanya melihat Rival yang berjalan menuju kamarnya.
"Rita.. Rival kenapa? Apa yang sudah terjadi padanya?" Tanya Marta.
"Rival berhalusinasi lagi tante.. tadi, Rival sempat memeluk istri orang.. sehingga Rival ditonjok deh, wajahnya sama suaminya.." Ucap Rita. Marta terkejut ketika mendengar Rival seperti itu. Seolah-olah Iya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rita.
"Kenapa sampai bisa begitu Rita?" Tanya Marta heran.
"Emangnya kalian itu habis darimana sih? Kenapa bisa Rival sampai memeluk istri orang..?" Tanya Marta.
"Maaf tante.. ini memang salah Aku.. tadi itu Aku mengajak Rival ke taman terdekat tante.. Niat Aku mengajak dia, supaya Rival itu tidak jenuh.. maksud Aku supaya Rival tidak selalu kepikiran soal Namira.. tapi, malah sebaliknya.. Tapi sekarang Rival sudah tenang kok tante.. hanya saja dia ga malas bicara.. mungkin malu atau bagaimana Aku juga tidak mengerti.." Ujar Rita.
...****************...
Setiap hari Rita selalu mendampingi Rival. Rita selalu memberikan semangat dan ketenangan terhadap Rival. Dan perlahan, Rival pun mulai merasa nyaman dengan Rita. Rival, memang belum bisa melupakan Namira. Tapi, seenggaknya sikap tempramen itu sudah mulai hilang secara perlahan. Rival pun akhirnya bertanya secara baik-baik kepada Rita.
"Rita.. Aku boleh tanya sesuatu enggak?" Tanya Rival.
"Tanya apa Rival?" Tanya Rita.
"Sebenarnya tujuan kamu kesini apa sih?" Tanya Rival.
__ADS_1
"Tujuan Aku?" Ujar Rita. Rita bingung mau menjawab pertanyaan Rival. Tapi, kalau iya menjawab yang sebenarnya ditakutkan Rival malah berburuk sangka. Akhirnya iya pun terpaksa berbohong.
"Aku ga ada tujuan apa-apa Rival.. Aku kesini hanya dititipkan oleh orang tuaku saja.. Dan tante Marta juga ingin Aku tinggal disini.. karena menurut tante Marta pekerjaan rumah, dapat terbantu.. sementara Nadia kan, kuliah dan jarang di rumah juga kan.." Ucap Rita.
...****************...
"Terimakasih ya Rita.. kamu sudah sabar menghadapi sikap Rival.. Tante sangat berterimakasih sama kamu nak.." Ujar Marta.
"Iya sama-sama tante.. Aku, senang kalau Aku bisa membantu tante.." Ucap Rita.
"Kamu memang hebat Rita.. buktinya sekarang kak Rival sudah membaik, ya.. meskipun belum sepenuhnya.. tapi seenggaknya ada banyak kemajuan.. itu semua karena kamu.. Dan, akhir-akhir ini Aku perhatikan.. kak Rival tidak lagi tuh menyebut nama Namira.. bahkan kak Rival pun hampir tidak pernah menyalahkan dirinya sendiri sekarang.." Ujar Nadia menimpali.
"Wah.. kalau itu bukan karena Aku Nadia, tapi karena Rival sendiri.. kan seiring berjalannya waktu dia menjadi terbiasa.." Ucap Rita merendah.
"Iya kamu jangan merendah gitu dong.." Ucap Nadia.
"Oh iya.. Aku mau ke kamar dulu ya.. kan masaknya udah selesai nih.. Aku mau mandi dulu tante.. soalnya gerah.." Ucap Rita.
"Iya Rita.. silahkan.. terimakasih ya.. kamu sudah repot-repot mau masakin buat keluarga kami.." Ucap Marta.
"Sama-sama tante.. Aku ga merasa direpotin kok.." Ucap Rita. Kemudian, Rita pun pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
"Ma.. emang mama yakin, kalau rencana ini akan berhasil?" Tanya Nadia.
"Yakinlah Nadia.. mama itu kan memang mau menjodohkan Rival dengan Rita.. supaya Rival itu cepat melupakan Namira.. makanya mama suruh Rita untuk mendekati Rival.." Ucap Marta.
Mereka tidak sadar bahwa pembicaraan mereka di dengar oleh Rival. Dan Rival pun sangat kecewa dengan rencana itu. Rival merasa dibohongi selama ini.
"Jadi ternyata, Rita itu membohongi Aku? Ga nyangka.." Ujar Rival sembari mengepalkan tangannya karena kesal.
__ADS_1