
Myria membuang pandangan. Dia melepas peluk lalu mundur. Angkasa yang melihatnya tentu heran sehingga mendekati.
Pria itu berjongkok di lantai dengan lutut menyangga badan, sementara Myria duduk di tepi ranjang. Dua tangan Angkasa meraih telapak tangan sang istri. “Kenapa? Kamu kecewa sama aku?”
“Hm?” Angkasa berdehem karena merasa tak dihiraukan.
Akan tetapi memang benar adanya. Myria masih membisu dan enggan membalas tatapan Angkasa. Apakah dia kecewa seperti pertanyaan suaminya itu? Jawabannya tentu bukan karena Myria tahu risiko yang harus dihadapi sejak awal.
“Kasa.” Bibir merah jambu itu menggumam seiring pandangan mengarah pada pria di depannya. Myria melipat bibir sekejap karena ragu dan takut menyakiti. “Sejauh mana depresimu?”
Napas Angkasa tiba-tiba tertahan. Tenggorokannya seolah tercekik mendadak. Hanya untuk menjawab pertanyaan singkat itu sepertinya sulit.
Ya, memang sulit, terbukti dari pertanyaan soal konsumsi obat saja, pria itu begitu ragu mengaku. Namun, Angkasa sadar bahwa dia dan Myria kini suami istri. Myria wanita yang akan menemani siang dan malam ke depannya sehingga tidak sepatutnya menyembunyikan sesuatu lagi.
Dengan perasaan berat, Angkasa menarik napas lalu membuang pelan. Kepalanya merebah ke paha Myria. “Kamu nanya sejauh mana, Habibati?”
Myria terdiam. Tanganya yang satu mengusap kepala Angkasa perlahan. Dia hanya bisa menunggu tanpa harus berteriak minta penjelasan selanjutnya.
“Sejauh kamu melihat orang gila di jalanan.” Suara Angkasa bergetar, tetapi itu tidak menghalanginya lanjut berujar, “Yah, mungkin aku dulu gitu, Cuma lebih terawat karena ada petugas rumah sakit. Sakti sempet cerita kalau aku banyak diem waktu dia dateng di jam besuk, tapi kalau sendiri, sering juga ngomong nggak jelas. Aku sering halusinasi dan berakhir dengan menangis. Seperti itu berulang kali entah berapa lama.”
Pipi Angkasa terasa kejatuhan sesuatu. Dia mendongak dan langsung melihat Myria menangis. Sejak kapan? Entah, pria itu tidak menyadari. Padahal, dia baru bercerita singkat, tetapi istrinya sudah bersedih.
Angkasa buru-buru bangkit dan memeluk Myria. “My ….”
“Maafin aku, Ka. Maafin Ayah yang dulu jahat banget sama kamu. Harusnya waktu kita lulus itu, kita pergi yang jauh sama-sama.”
Antara sedih dan lucu menanggapi Myria, Angkasa hanya bisa tersenyum. “Pikiranmu aneh. Remaja kayak kita dulu mau ke mana? Ayah bukan sembarang orang, beliau bisa ngerahin banyak orang bayaran buat nyari kita. Lagian bukan tanpa alasan aku lepasin kamu.”
__ADS_1
Myria mengangkat kepala sedikit hingga menghentikan omongan suaminya. Namun, Angkasa justru memberikan kecupan singkat di bibir. “Kasa, ih. Modus!”
Tawa akhirnya keluar dari bibir Angkasa. Pelukan pria itu makin erat. “Aku kasih tahu kenapa dulu mau nggak mau harus jatuhin talak sama kamu.”
“Um?”
Ditepuknya punggung sang istri perlahan, Angkasa berkata, “Bukan soal takut ngajak kamu hidup susah, kalau soal itu aku masih bisa biayain kuliah kita berdua. Tapi yang aku pikirin, Ayah pasti nggak bakal diem sebelum dapetin kamu. Aku takut Mama sama Papa jadi sasaran, My. Ayah dulu bisa lakuin apa aja pastinya.”
Myria mengangguk-angguk dalam pelukan karena ada benarnya pemikiran Angkasa dahulu. Namun, sekarang hal terpenting semua telah berlalu. Dia telah memiliki hidup baru, meski masalah baru juga akan hadir ke depannya.
“Berapa lama kita nginep di sini?” Isi pembicaraan berubah karena tak seharusnya terus bersedih.
“Tiga hari.”
“Lama amat, Ka.” Tubuh Myria menjauh. Dia amati wajah sang suami untuk mencari ekspresi bercanda, tetapi tidak menemukan. Justru senyuman manis diberikan Angkasa padanya.
“Kenapa? Kamu nggak betah di sini? Ya, udah kita pulang kalau gitu.” Belum sempat dapat jawaban, Angkasa telah beranjak menuju koper di ujung ruang. Dia bahkan bergerak cepat membereskan barang-barang.
Angkasa terkekeh lagi. “Ya … aku nggak mau maksa kamu andai nggak setuju. Kemarin yang reservasi ini Mama, aku terima beres. Kalau kamu nggak betah, kita pulang, lah! Kenyamanan istriku ini harus nomor satu.”
Ribuan kupu-kupu seolah menggelitiki perut hingga bibir Myria tersenyum lebar. Dia tenggelamkan kepala makin dalam ke dada sang suami sambil menikmati degup jantung dan parfum Angkasa yang menguar. Myria tak berharap kebahagiaannya kini hanya mimpi. Andaipun itu mimpi, dia tak ingin bangun.
Akan tetapi, semua nyata. Pemuda yang dahulu duduk di belakang bangkunya, kini tumbuh dewasa secara paripurna dan pasti jadi idola para wanita. Myria tak ingin berpikir itu, dia telah kebal sejak dahulu jika Angkasa begitu digilai.
***
Mentari bergulir hingga mengantarkan malam. Kebetulan, bulan purnama sedang bersinar indah sejak kemarin. Sembari memeluk Myria dari belakang, Angkasa memandangi keindahan malam tersebut.
__ADS_1
“Seperti namaku, seluas itu cintaku padamu, Myria.”
Tubuh Myria bergetar karena tawa. Wanita yang tengah duduk bersandar di pelukan sambil menggenggam cokelat hangat itu merasa geli dapat pengakuan demikian. “Nggak usah ngegombal. Aneh tahu, nggak?”
Tangan terulur ke depan guna menarik mug yang digenggam Myria. Angkasa menyeruput minuman untuk membasahi tenggorokan. “Gombalin istri dapat pahala.”
Lagi-lagi Myria tertawa dan makin tak terkendali saat Angkasa menciuminya. “Kasa, modus banget, sih! Udah, ah! Kamu hobi banget cium-cium terus.”
“Tiap sentuhan berpahala, siapa yang nggak mau?”
“Ngeleesss … udah, deh. Kita ngobrol serius.”
Alis terangkat salah satu, Angkasa memajukan wajah. “Apa?”
“Kasa ….” Myria mendorong bahu sang suami perlahan. “Bisa nggak serius? Aku mau nanya dari kemarin lupa. Kalau abis ini kita tinggal di mana?”
Tarikan napas menimbulkan perubahan di wajah. Angkasa membenarkan duduknya, lantas kembali menatap luar. “Aku belum beli rumah karena nunggu kamu. Selama ini kita nggak bisa ngobrol berdua, jadi habis ini kita cari sama-sama biar sesuai seleramu. Sementara waktu, terserah kamu mau tinggal di mana. Ikut ke rumah orang tuaku atau ke rumah orang tuamu. Atau … beli apartemen dulu.”
“Ngapain beli apartemen kalau mau beli rumah?” Memang benar, pikiran Angkasa terkadang aneh hingga membuat istrinya syok. Bukan hanya sekarang, tetapi sejak dahulu demikian. Myria jadi ingat saat dahulu memberi cincin di mal, suaminya itu juga tidak pandang harga. “Suka banget buang-buang duit. Nggak baik, tauk!”
“Terus? Apa sewa aja sampek kita dapat rumah baru?”
Helaan napas ganti keluar dari bibir Myria. Wanita itu menaruh mug ke samping sofa, lalu menangkup pipi sang suami. Dipandanginya mata sehitam langit malam ini, Myria lantas bicara lembut penuh perasaan, “Kamu lupa atau nggak tahu kalau aku ada apartemen? Kita tinggal di sana dulu sementara.”
Senyum terbit di bibir. Angkasa mengangguk. Tanpa aba-aba, pria berkaus putih itu mengangkat Myria hingga membuat istrinya menjerit.
“Kasa, turunin! Nanti jatoh.”
__ADS_1
Permintaan Myria dituruti, Angkasa membanting tubuh istrinya ke ranjang lalu memenjarakan dengan dua tangan. “Mumpung malam terakhir di sini, aku mau minta jatah sepuasnya.”
Myria mendelik. Ingin mendorong tubuh pria yang ada di atasnya, tetapi kalah cepat. Pada akhirnya, mau tak mau pasrah dan hanya menurut sebagai bukti istri yang baik.