
“Minum obat lo.” Sakti membantu Angkasa secara perlahan untuk meminum obat. Setelah kepergian Tuan Tirta, sahabatnya itu mulai hilang kendali.
Ruang desainer ditinggalkan Angkasa segera begitu tubuh Myria hilang dari penglihatan. Setibanya di ruang sendiri, tepat ketika pintu baru tertutup, tubuh jangkung pria itu lunglai dan nyaris limbung ke lantai andai tidak dipegangi Sakti.
Sakti sengaja mengikuti sebagai antisipasi. Benar saja, ketegaran sahabatnya ternyata hanya akting belaka. Angkasa belum pulih total.
“Atur napas lo,” kata Sakti memberi arahan. “Airnya kurang nggak?” tanyanya memastikan.
Angkasa menggeleng. Dia menyerahkan gelas kosong pada Sakti, lantas memejam untuk meraih ketenangan. Meski bayang permasalahan sulit pergi, paling tidak Angkasa harus melawan.
“Jangan kasih tahu nyokap. Gue nggak mau beliau khawatir.” Di sela napas yang terengah, Angkasa berujar. Namun, sepertinya Sakti sulit menerima permintaan itu.
“Tapi lo butuh kontrol kalau gini.” Dua alis Sakti hampir menyambung. Kulit wajahnya yang mulus berkerut-kerut di bagian dahi.
“Gue bisa berangkat sendiri.”
“Lo yakin?”
Di tengah keputusasaan, Angkasa mengangguk. Wajah serta bibirnya memucat seperti orang sakit.
Sakti membuang napas sembari meraup wajah mendengar jawaban sahabatnya. Angkasa memang keras kepala dan sulit sekali dinegosiasi. Alhasil, Sakti hanya mengikuti kemauan sahabatnya itu.
Mulut Sakti tak bicara apa pun. Dia duduk di sudut sofa lain sembari menunggu Angkasa mengumpulkan energi. Efek obat memang belum sepenuhnya bereaksi, tetapi bersyukur tidak telat meminum.
“Gue harus ngurus karyawan yang lihat kejadian tadi. Lo nggak pa-pa gue tinggal?”
“Hm. Pergilah.”
“Panggil gue kalau butuh apa-apa.”
Masih dalam kondisi mata terpejam, Angkasa mengangguk dan membiarkan Sakti pergi.
Kepergian Sakti meninggalkan sunyi dalam ruang. Angkasa memijat pelipis dan kembali terbayang Myria. Untuk kesekian kali, dia harus melihat wanita yang dicinta menangis terisak tanpa bisa menyentuh. Ada tembok penghalang yang begitu tinggi harus dilewati Angkasa agar bisa melakukan itu.
“My, gue harap lo baik-baik aja. Sabar, My. Biarin Allah yang selesaiin semua ini kalau kita nggak bisa.”
***
__ADS_1
Di ruangan Sakti telah berkumpul para manager dari semua divisi yang ada di lantai lima. David dan tiga manajer lain yang kebetulan satu lantai dengan para petinggi perusahaan.
Sakti melangkah masuk. Ketukan sepatunya terdengar nyaring dan sukses membuat ketegangan anak buahnya makin menjadi. Pria itu memutari meja, lalu berdiri di depan kursi kebesaran.
“Kalian ingin tahu kenapa aku memanggil?”
Sempat terjadi adu pandang antar manajer karena tidak paham alasan mereka dikumpulkan. Namun, akhirnya empat orang itu kompak menjawab dengan gelengan.
Sakti membungkuk sedikit dengan tangan mencengkeram sisi meja. Tatapan pria itu menajam, memusnahkan binar keramahan yang biasa dilihat para karyawan.
“Divisi pemasaran dan desainer, tim merchandiser, semua pasti tahu apa yang terjadi hari ini. Salah satu anggota tim desainer dipecat langsung oleh Pak Kasa.” Kalimat Sakti terjeda sebentar, tetapi mata terus menatap tajam.
Para manajer susah payah menangkap maksud Sakti. Ingin bertanya, tetapi tidak berani. Kalimat pemecatan seperti momok bagi semua karyawan yang memang bekerja karena kebutuhan.
“David!”
“Y–ya, Pak, saya.” David tergagap. Perasaannya sudah tidak karuan selama perjalanan menuju ruangan Sakti tadi.
Kilatan serius makin memancar dari indra penglihatan Sakti. Pria itu menegakkan punggung dan berdiri sempurna. “Semua anggotamu tahu apa yang kumaksud, pastikan mereka tutup mulut. Satu saja gosip beredar dan ketahuan siapa yang menyebarkan, pelaku dan kamu!”
“Kamu akan ikut aku pecat!”
Seperti halilintar yang menggunjang langit. Peringatan Sakti membuat anak buahnya berjingkat. Mereka kompak gelagapan dan susah bernapas.
“Semuanya! Bukan hanya David. Tim merchandising, pemasaran, atau bahkan OB sekalipun kalau membuat gosip tentang Pak Angkasa, aku yang akan menendang kalian tanpa peduli.”
Bulu kuduk tiap manajer kembali berdiri. Bahkan, dua dari mereka yang bergender perempuan sampai mengusap leher dan lengan bersamaan.
Empat orang manajer itu harus berjanji akan tutup mulut agar lepas dari masalah. Setelah Sakti percaya, mereka diizinkan keluar.
Sebenarnya, semua pekerja sepakat bahwa Sakti lebih ramah dan mudah bercanda daripada Angkasa. Akan tetapi, saat mengamuk, dua pria itu ternyata sama.
Berbeda dari Angkasa yang terus berusaha meraih ketenangan, Myria masih sibuk menangisi nasib. Sepanjang jalan sampai tiba di rumah, pipinya tidak kering sedikit pun.
“Setega ini kamu berkhianat atas kepercayaan Ayah, Myria?”
Suara Tuan Tirta menggelegar hingga mengundang Nyonya Caroline dan Andreas yang kebetulan baru pulang dari perusahaan langsung berlari ke ruang tengah. Dua manusia itu melihat Myria dan Tuan Tirta berdiri di dekat tangga.
__ADS_1
Nyonya Caroline mendekat, sementara Andreas memosisikan diri di belakang Myria.
“Tirta, ada apa? Kenapa harus berteriak seperti ini?” Tangan Nyonya Caroline mendarat di lengan sang suami.
“Ayah turuti semua kemauanmu, bukan berarti Ayah tidak bisa marah.” Tuan Tirta terus mencerca. Tidak sedikit pun merespons pertanyaan Nyonya Caroline. Pria itu masih meradang dengan mata berkilat-kilat dan dua tangan berada di pinggang. “Lihat dirimu! Kamu berpakaian tertutup seperti ini, apa pantas mengejar-ngejar pria dan berhubungan terang-terangan tanpa ada ikatan halal?”
Dua mata Myria melebar. Dia mengangkat wajah dan membalas tatapan sang ayah. Di sela isak tangis, wanita itu menjawab, “Apa yang Ayah maksud? Aku dan Kasa nggak ada komunikasi di luar pekerjaan selama ini. Aku nggak punya nomornya, dia juga nggak pernah ngehubungi aku. Kenapa Ayah bisa ngomong gitu? Kami juga nggak pernah keluar berduaan? Kasa selalu ngehargai aku, Yah!”
“Tetap saja selama ini kalian bebas bertemu, kan? Bilang pada Ayah, apa yang dijanjikan anak muda itu sampai kamu tergila-gila dengannya? Di luar sana banyak pria lebih dari dia yang bisa Ayah carikan untukmu. Kenapa harus dia?”
“Apa yang salah dari Angkasa, Yah! Apa? Ayah enggak kenal Kasa selama ini, tapi kenapa segitu bencinya sama dia? Kalau soal keluarga, aku udah bilang dari dulu kalau Kasa nggak tahu apa-apa. Tapi kenapa Ayah gini? Kenapa, Yah?” Tangis Myria tak mau berhenti. Selama ini dia pendam semua pada keluarga tentang perasaannya pada Angkasa dan berdalih belum siap menikah lagi karena takut gagal. Padahal, dia hanya sedang menunggu keajaiban dari semua doa yang selalu dipanjatkan di sepertiga malam.
Tuan Tirta menggeram. Tangannya sampai mengepal mendengar putrinya melawan. Baru kali ini Myria bicara sekeras itu di hadapannya sehingga cukup menyakiti hati. “Apa pun itu, semua hal yang menyangkut Aji dan ibunya, Ayah tidak akan terima!” Selesai berucap, Tuan Tirta hendak meninggalkan tempat. Dia biarkan Myria menangis tanpa memberi penghiburan karena kemauan anak itu sulit dikabulkan.
“Ayah jahat! Ayah egois!” Myria berlari menghadap Tuan Tirta, lalu mendorong tubuh pria tua itu kuat-kuat. “Asal Ayah tahu, sepeninggalnya Ibu, aku hidup sendirian. Aku terlunta-lunta karena Ibu anak tunggal dan nggak tahu ayahku siapa. Mulai sekarang perlu Ayah tahu kalau selama itu cuma Angkasa dan orang tuanya yang mau bantu aku. Aku bahagia hidup di keluarganya meski sebatas anak mantu. Enggak kayak sekarang yang sama ayah kandungku sendiri, justru terus tersakiti.”
“Myria!” Teriakan diikuti tamparan secara refleks mendarat di pipi Myria. Wanita itu sampai terjerembab ke lantai karena tidak siap menerima pukulan.
Andreas dan Nyonya Caroline terenyak. Dua orang itu segera membantu Myria berdiri.
Dapat tamparan dari sang ayah makin memperdalam luka di hati. Myria menjerit sekencang-kencangnya, “Aku benci Ayah!” Sekali lagi, tubuh berbalut jas hitam itu didorong. Tidak sekuat tadi, tetapi mampu menggeser kaki Tuan Tirta ke belakang. Selepas itu, Myria menuju kamar dan membanting pintu cukup keras.
Ucapan Myria seperti ribuan jarum menusuk jantung. Tuan Tirta tidak mengira kata-kata kebencian akan diterima dari anak sendiri yang selama ini dicari. Beliau mematung di tempat dan hanya bisa memandangi tangan kanan yang dipakai tadi. “Apa yang aku lakukan?”
.
.
****
Iklan:
layaknya hidup yang selalu memiliki alur dan proses, novel ini juga begitu, ya, Kak. nggak bisa wuss .... happy or sad ending gitu aja. dan melalui proses itu, setiap penulis ingin menyampaikan sesuatu dalam karyanya. termasuk aku.
semoga aja, apa yang aku ingin sampaikan di tiap tulisanku bisa ditangkap pembaca.
udah, gitu aja curhatnya. semoga masih setia menemani. aku sayang kalian.
__ADS_1