Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 84


__ADS_3

Pintu terdorong dengan kasar dan langsung dikunci. Myria yang tadi serius, seketika mendatangi sang suami apalagi melihat Angkasa tampak berbeda.


Wanita itu memangkas jarak, lantas merapatkan tubuhnya pada Angkasa. Myria mendongak dan mengamati ekspresi suaminya lagi dan memang benar-benar berbeda. “Kasa, ada apa? Kenapa buru-buru gini?”


Tangan Myria yang menempel di dada, diambil dan diremas Angkasa. Pria itu menunduk, lalu menatap tajam sang istri. Wanita di depannya itu sampai menelan ludah.


Tak cukup hanya tatapan intimidasi, ternyata remasan tangan Angkasa makin menyakitkan. Myria berusaha melepaskan diri, tetapi tertahan karena kalah tenaga.


“Kasa, sakit ….” Rintihan akhirnya terlontar dari mulut Myria. Dia bahkan meringis seraya menahan rasa ngilu yang timbul.


Tak jua minta maaf, Angkasa menarik Myria ke tengah ruangan dengan gerakan cukup kasar. Kelembutan pria itu hilang beberapa persen karena terlahap emosi.


“Ngomong apa kamu sama Mama?”


Jantung Myria seperti dihantam dari depan belakang mendapati pertanyaan demikian. Berulang kali dia menelan ludah susah payah karena tak ada persiapan untuk membahas hal tersebut. Myria tak menyangka Angkasa tahu begitu cepat atas permintaannya tadi pada Nyonya Nasita. Dia kira, hal itu akan dirundingkan besok-besok.


“Suamimu ngomong, Myria!”  Kamar dominan abu-abu itu langsung penuh akan suara Angkasa. Dia tak bisa lagi berlemah lembut karena merasa tak dianggap. Berapa banyak nasihat untuk membuat istrinya mengerti, tetapi Myria tetap kekeh akan pendapat sendiri.


“Kamu membangkang? Bisa-bisanya ngomong sama Mama buat  nyuruh aku nikah lagi?”


“Kasa, tapi aku ….”


“Aku apa? Aku pengin punya anak? Kalau kamu nggak sabar, kita lakukan bayi tabung. Kenapa harus minta aku nikah lagi?”

__ADS_1


“Kasa, aku nggak mau bayi tabung. Aku takut.”


“Operasi nggak mau, bayi tabung nggak mau, sabar buat hamil alami nggak bisa juga, terus maumu apa? Masih maksa buat aku nikah lagi? Biar apa? Biar apa, Myria!” Suara Angkasa makin menggelegar memenuhi pendengaran hingga menimbulkan gemetar di tubuh istrinya. Emosi pria itu meledak, melebihi kemarahannya saat pernikahan di masa remaja dahulu.


Entah apa yang ada di kepala Myria sampai-sampai membuat Angkasa kuwalahan memikirkan ide pasangannya itu dengan pikiran normal. Sungguh! Angkasa tertekan sendiri menghadapi kelakuan sang istri kali ini.


Bibir Myria kembali bungkam. Seluruh kata-kata yang nyaris keluar, kembali tertelan. Angkasa marah padanya, Myria tak mungkin menyiram bensin pada kemarahan pria itu lebih jauh lagi. Mau tak mau, dia harus menunda penyampaian saran.


Dua manusia yang masih berhadapan itu sama-sama diam. Angkasa tak sedetik pun mengalihkan perhatian dari Myria sekalipun wanita itu terus menunduk. Bukan dia tidak tahu jika istrinya takut dan mulai menangis, tetapi hati Angkasa kali ini terlampau kesal. Kesabarannya terkikis hingga tak bersisa.


Ketukan pintu berhasil memecah ketegangan. Awalnya, Angkasa abai akan hal itu karena tahu siapa yang ada di luar. Namun, karena panggilan terus diulangi, dia menyerah.


Langkah pria itu berputar menuju meja nakas, lalu  menyambar kunci motor dan jaket dari lemari. Sebelum membuka pintu dan ketika melewati Myria, dia berkata, “Diam di sini dan renungi kesalahanmu. Jangan temui aku kalau belum sadar sama apa yang kamu mau!”


Angkasa pergi. Dia tinggalkan Myria yang masih mematung di tengah ruangan sambil terisak-isak. Tidak seperti biasa yang selalu khawatir saat istrinya menjatuhkan air mata, kini hati pria itu mengeras layaknya batu.


“Ka.”


“Aku keluar, Ma.”


Belum sempat Nyonya Nasita bertanya dan baru menggapai lengan, tetapi Angkasa lebih dahulu melenggang tanpa cium tangan seperti biasa. Nyonya Nasita tahu sang anak masih emosi, tetapi tak ada guna mengejar. Lebih baik, dirinya melihat sang menantu.


“Ya Allah, Sayang.” Langkah Nyonya Nasita dipercepat sampai ke dalam. “Kasa nyakitin kamu? Apa dia mukul kamu? Bilang pada Mama, Nak.”

__ADS_1


Myria menggeleng cepat sambil tersedu. Bahunya naik turun seiring dada kembang kempis lantaran terlalu sakit. Dia tak pernah dapat bentakan sedahsyat itu dari Angkasa sebelumnya sehingga menyisa rasa takut luar biasa.


Nyonya Nasita memeluk erat dan mengusap rambut Myria. Wanita itu berulang kali menghela napas. “Maafkan Kasa, ya, kalau dia kasar sama kamu. Mama tadi dengar dia teriak-teriak sampai seperti itu, jadi Mama langsung ke sini. Angkasa memang kadang tidak terkendali, tapi Mama rasa kamu juga tahu itu.”


Kepala Myria mengangguk meski masih dalam kondisi menangis. Dia tak pantas marah karena semua yang terjadi akibat ulahnya. Angkasa mungkin merasa terluka karena posisi sebagai kepala keluarga seperti diremehkan, bahkan ditentang.


“Myria yang salah, kok, Bun.”


Malam itu, ternyata tak cukup hanya perdebatan, tetapi Angkasa juga tak pulang sampai beberapa hari. Bahkan, bertanya kabar pun tidak. Myria sendiri tidak berani kembali ke rumah sebelum dijemput sang suami. Dia menginap di rumah ibu mertua dan tidak kemana pun. Urusan butik diserahkan pada pekerja yang ada dan beruntungnya tidak ada kllien mendesak yang datang.


***


“Lo berantem sama Myria?” Sakti datang sembari mengantongi ponsel. Dia curiga sejak kemarin Angkasa banyak diam dan enggan menelan makanan.


“Ngapain nanyain istri gue.”


Dari jawaban Angkasa, Sakti sudah bisa menyimpulkan. Pria dengan kaus panjang biru muda itu menghela napas, lalu mendudukkan diri di kursi depan meja sahabatnya. “Nyokap lo telfon gue tadi. Beliau nyuruh lo ke rumah katanya. Ini soal Myria.”


Mendengar ibunya dibawa-bawa, Angkasa memberi perhatian pada sahabatnya. Pria itu memutar kursi 45 derajat hingga posisinya lurus berhadapan dengan Sakti. Dia memang mengabaikan pesan dan panggilan dari semua keluarga. Angkasa pusing memikirkan rumah tangganya.


“Omongin baek-baek kalau ada masalah. Tapi kayaknya parah banget masalah lo sampek bawa-bawa ortu.”


Dua mata Angkasa memicing, tetapi setelahnya memejam. Jari-jemarinya memijat ujung mata secara perlahan guna mencari kenyamanan. Beberapa hari pria itu sering terserang migraine mendadak karena stress berat.

__ADS_1


“Myria minta gue nikah lagi.”


“Apa?” Punggung Sakti menegak secara spontan. “Lo bercanda?”


__ADS_2