
Binar masih tidak terima dengan kebahagiannya Namira dan suaminya. Dan Binar pun merasa kalau Namira sudah merebut kebahagiaannya. Binar tetap merasa tidak pernah salah. Iya merasa kalau pernikahannya yang gagal gara-gara Namira.
"Ini semua gara-gara Namira.. Namira yang sudah menghancurkan hidup Aku. Gara-gara Namira.. pernikahan Aku jadi batal, dan sekarang ga ada laki-laki yang mau sama Aku.. bahkan gara-gara dia papa perusahaan papa Aku menurun. Namira memang selalu membawa masalah dalam hidup Aku. Ini ga bisa dibiarkan.." Pikir Binar.
Binar pun memikirkan sebuah rencana untuk menghancurkan Namira. Iya pun terlihat mondar-mandir untuk memikirkan bagaimana caranya menghancurkan Namira. Kemudian, Binar pun menemukan sebuah rencana bagus untuk menghancurkan Namira.
"Oh, iya.. Aku tau apa yang harus Aku lakukan. Suami Namira kan seorang dokter, Aku kerjain aja dia.. kalau Aku aja gagal dalam pernikahan, maka dia harus hancur juga pernikahannya." Pikir Binar.
...****************...
Binar pun langsung menemui Malik di rumah sakit. Iya pun pura-pura ingin mengecek kesehatan kepada Malik.
"Permisi, ruangan dokter Malik Ibrahim dimana ya?" Tanya Binar kepada pihak rumah sakit. Suster itu pun menunjukkan ruangan Malik. Binar pun langsung menuju ruangan Malik.
Tanpa mengetuk pintu dulu, Binar langsung masuk ke ruangan Malik. Dan Malik pun melihat ke arah pintu. Malik pun heran dan merasa sedikit tidak suka karena Binar tidak sopan.
"Maaf menggangu dok.." Ujar Malik.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Malik.
"Dokter Malik kan?"Tanya Binar lagi.
" Iya benar.." Jawab Malik.
"Dokter.. saya ini ada keluhan.. Dada saya terasa sesak dok.. dan juga terasa sakit pada bagian kiri.." Ujar Binar.
"Oh.. ya, sudah mari saya periksa dulu.." Ujar Malik.
Binar pun mulai berbaring untuk melakukan pemeriksaan. Dan tiba-tiba saja Binar pura-pura pusing. Lalu, Pura-pura jatuh. Dan Malik pun langsung terkejut dan menangkap Binar.
__ADS_1
"Hati-hati.. mbaknya ga apa-apa kan?" Ujar Malik.
"Kepala saya sangat pusing dok.." Ujar Binar. Dan Binar pun langsung merangkul Malik. Tanpa sepengetahuan Malik, Binar pun langsung memfoto dirinya saat merangkul Malik.
Dan Malik pun langsung memeriksa keadaan Binar. Aneh, Malik memeriksa Binar tidak ada yang serius kepada dirinya.
"Setelah saya periksa, Mbak Binar baik-baik saja.. semuanya bagus.. Mbak Binar ini terlalu banyak pikiran dan kecapekan.. sehingga akan mengganggu pernafasan. Saya sarankan agar bak Binar beristirahat yang cukup.." Ujar Malik. Binar pun mengangguk paham.
"Oh.. gitu ya dok.. Baik dok.." Ujar Binar.
"Iya.. saya kasih resepnya dulu.. nanti mbak Binar tebus di apotik ya.." Ujar Malik sembari menuliskan resep obat untuk Binar. Binar pun langsung berpamitan kepada Malik.
"Saya permisi ya dok.. mari.." Ucap Binar.
"Oh.. iya mbak.. terimakasih dan semoga lekas sembuh.." Ucap Malik.
...****************...
Setelah sampai di rumah Namira, Binar pun langsung mengetuk pintu rumah Namira. Dan tak lama Mona atau Monica pun membukakan pintu. Monica sangat terkejut ketika melihat Binar. Iya ingin sekali menyapa dan memeluk Binar. Hanya saja iya tau sekarang posisi dia. Binar tidak mengenali wajah Monica. Binar pikir itu adalah orang lain.
"Namira ada?" Tanya Binar kepada Mona.
"Non Namira ada.. mari masuk dulu.." Ujar Mona.
"Sebentar.. saya panggilkan dulu ya, Non Namira.." Ujar Mona.
Binar memperhatikan sosok Mona yang sedang berjalan. Binar mengernyitkan dahi dan memicingkan matanya.
"Itu, pembantu Namira kenapa jalannya mirip seseorang ya? Dan suaranya mirip suara seseorang.. Kayaknya Aku kenal dengan suara itu.. tapi, dimana ya? Aku pernah mendengar suara itu. Suaranya terdengar jelas.." Tanya Binar kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
Tak lama, Namira pun muncul. Namira terkejut ketika melihat Binar yang sedang bertamu di rumahnya.
"Binar... ngapain kamu kesini?" Tanya Namira. Binar pun langsung berdiri dari tempat duduknya dan tersenyum kepada Namira.
"Hai Namira.. apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu.." Ujar Binar basa-basi.
"Mau apa kamu kesini Binar? Langsung saja!" Tanya Namira sedikit ketus.
"Aduh.. santai aja.. jangan ketus begitu.. Aku ga lama kok ke sini.. saya cuma mau menyampaikan sebentar lagi, kamu akan menjadi maduku Namira.. jadi, mulai sekarang kita harus akur-akur.. ga boleh bertengkar.. yah.." Ujar Binar.
"Maksud kamu apa Binar? Aku ga ngerti kamu ngomong apa!" Ucap Namira tidak paham.
"Aduh.. Namira masak kamu ga ngerti sih.. sebentar lagi, Aku akan menjadi istri ke dua suami kamu.. kan di agama kamu diperbolehkan tuh.. memiliki istri lebih dari satu.." Ucap Binar. Namira pun ingin tertawa dengan ucapan Binar. Kemudian, Namira pun menjawab ucapan Binar.
"Oh.. kamu mau jadi istri ke dua suami Aku? Kamu itu baru bangun tidur atau lagi mimpi indah sih?" Ujar Namira sambil tersenyum sinis.
"Kamu ga percaya? Aku kasih buktinya ya?" Ujar Binar sembari memencet HPnya dan Binar pun langsung memberitahu kepada Namira foto dia ketika merangkul Rival. Dan Namira pun melihat foto dengan adegan rangkul-rangkulan tersebut. Dan Namira pun tidak langsung percaya begitu saja dengan Binar.
"Lalu, apa hubungannya dengan foto itu?" Tanya Namira.
"Kamu masih belum paham juga? Aduh Namira.. Yang cerdas dikit dong.. Aku dan suami kamu itu sudah main gila di belakang kamu.. Dan kami berdua saling mencintai tanpa sepengetahuan kamu.." Ujar Binar dengan pede. Agar Namira cemburu dan marah.
"Aku percaya gitu dengan kamu? Sayangnya Aku ga percaya sama kamu.. foto itu bukan bukti yang otentik untuk bisa membenarkan kata-kata kamu!" Ucap Namira santai.
"Ya, sudah kalau kamu tidak percaya.. kamu bisa kok tanyakan sama suami kamu langsung.. tapi Aku yakin, kalau suami kamu tidak akan mengakui kesalahannya.." Ujar Binar.
"Sayangnya, suami saya bukan orang yang seperti itu. Dan kalau pun kamu merangkul suami saya, itu kamu sendiri yang gatel, ingin dekat-dekat dengan suami saya.. supaya saya cemburu dan bertengkar dengan suami saya kan?" Ujar Namira. Binar dibuat terdiam seketika ketika mendengar jawaban Namira. Ternyata, Namira bukanlah orang yang gampang percaya ataupun dihasut oleh siapapun. Bahkan Namira sudah hafal dan paham dengan perbuatan dan akal-akalan Binar. Jadi, Namira tidak langsung percaya dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Binar.
"Binar.. saya rasa, kamu cukup lama di sini.. dan kayaknya sudah tidak ada yang dibicarakan lagi.. sekarang kamu silahkan pergi dari rumah saya.." Usir Namira.
__ADS_1