Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 50


__ADS_3

“Kalian langsung pindah?”


Saat makan malam di rumah, Angkasa dan Myria dapat pertanyaan demikian dari sang ibunda. Mereka tiba siang tadi setelah menghabiskan waktu berduaan di hotel beberapa hari.


“Iya, Ma. Besok sore kayaknya. Tapi Mama tenang aja, aku bakal sering ke rumah ini.”


Myria mengangguk-angguk. Dia benarkan ucapan Angkasa. Meski di rumah mertua tidak kekurangan suatu apa pun, Myria tetap ingin hidup mandiri. “Bunda ridha, kan?”


Senyuman tipis terbit di bibir Nyonya Nasita. “Tentu, Sayang. Angkasa sudah menikah, kalian juga sudah dewasa tidak seperti dulu. Jadi Mama tidak akan melarang apa-apa lagi.”


Ada perasaan senang dan sedih yang menguar pada suasana makan malam. Nyonya Nasita tidak menampik bahwa kepergian putranya dari rumah pasti menghadirkan sepi. Setiap hari yang hanya ditinggal kerja dari pagi hingga sore saja rasanya sudah rindu, apalagi seperti ini. Akan tetapi, beliau tidak ingin egois. Angkasa berhak punya kehidupan yang bahagia bersama wanita lain.


Tuan Aji mengusap punggung tangan istrinya saat anak dan menantunya tak memperhatikan. Beliau menggeleng pelan sebagai isyarat agar Nyonya Nasita berlapang dada.


***


“Baju yang di sini mau dibawa semua?” Lemari pakaian tiga pintu dibuka lebar oleh Myria. Bisa dia lihat koleksi pakaian suaminya ternyata cukup banyak dengan berbagai jenis.


“Nggak usah. Bawa beberapa. Jasnya ditinggal, aku jarang pakai jas. Bawa blazernya aja beberapa potong.”


Jemari Myria menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ternyata, mengemas pakaian sang suami cukup membuat pusing. “Mau bawa berapa koper? Ini kalau cuma satu nggak cukup.”


Sejak tadi Angkasa yang sibuk dengan laptop di atas ranjang itu mau tak mau harus turun dahulu untuk menanggapi istrinya. Dia memang tak bisa meninggalkan pekerjaan sekalipun tertulis cuti. Angkasa tak setega itu menyerahkan semua pada Sakti sekalipun sahabatnya mengaku baik-baik saja.


Kaki jenjang tanpa alas itu menuju ke arah lemari. Satu tangannya mengacak rambut Myria begitu tiba. “Dengerin aku ngomong. Dari arah sana ….” Telunjuk Angkasa mengarah ke ujung kiri di mana tumpukan kaus terlipat rapi. “Ambil kaus enam potong kayaknya cukup, kemeja sama blazer, sweter dua aja, celana juga nggak perlu banyak yang dibawa. Nanti kalau aku butuh lain-lain, aku bisa beli yang baru atau ke sini bentar, kan, bisa.”


Myria masih diam saja sehingga Angkasa melanjutkan, “Jangan pusing-pusing. Paham, Istriku?”


Seperti dititah seorang guru, Myria manggut-manggut. Gemas sendiri Angkasa yang melihat itu. Sayangnya, saat tangan hendak mencubit pipi mulus Myria, ponsel di kasur berdering sehingga menghentikan perbuatannya.


“Ya, Sakti.” Sambutan tanpa basi-basi terucap begitu saja usai salam.


“Ka, gue dapat telepon dari orang warehouse katanya gudang kita kebakaran.”

__ADS_1


“Apa?” Angkasa berteriak spontan. Seluruh tubuhnya langsung menegang dengan urat-urat menonjol di bagian leher dan pelipis. Myria sampai menoleh padanya dan mendekat, tetapi hanya dilirik. “Gimana bisa? Merem semua yang kerja!”


Sakti menghela napas frustrasi mendengar kemarahan sahabatnya. Tidak beda jauh dari Angkasa yang syok, dia pun juga. “Tunda dulu marah lo. Bisa nggak bisa, lo datengin dulu ke pabrik. Gue mau otewe ini. Lo berangkat sendiri bisa, kan?”


Satu tangan Angkasa mengepal. Bahkan mematikan ponsel saja, dia menekan layar cukup kuat. Myria masih dibuat bingung olehnya, tetapi Angkasa pikir tak ada waktu menjelaskan.


“Ka, mau ke mana?” Akhirnya Myria tidak tahan untuk tidak bertanya. Melihat Angkasa buru-buru memakai jaket, tentu saja tak bisa diam. Dia ikuti setiap pergerakan sang suami demi dapat jawaban.


Satu kecupan mendarat di kening. Myria makin dibuat bingung, tetapi Angkasa justru pamit padanya.


“Nggak usah nunggu aku. Segera tidur. Aku harus ke pabrik bentar. Mengerti?”


“Tapi, Ka, ada apa?”


Tak punya banyak waktu, Angkasa buru-buru keluar kamar dan disusul Myria di belakangnya. Padahal, pria itu tadi sudah melarang.


Helm telah di tangan, Angkasa dibuat menghela napas saat tahu bahwa istrinya mengikuti. Sekali lagi, dia menghampiri dan kali ini menyempatkan diri memeluk. “Kamu nggak denger aku ngomong apa, Myria?”


Myria mendongak lantas menatap lekat-lekat dua mata sang suami. Bibirnya kembali bertanya, “Ada apa?”


“Apa?”


“Ssstt … jangan bikin gaduh. Sekarang kamu balik ke kamar, aku harus berangkat. Nggak usah nunggu aku pulang, aku bawa kunci rumah.”


“Ka, aku ikut.” Baru saja melepas peluk dan hendak keluar, tangan Angkasa sudah ditahan. Myria memasang wajah memelas kala suaminya menoleh.


“Enggak.”


“Ka, pliss ….”


“My.”


“Pliss, Ka. Aku mau sama kamu.”

__ADS_1


“Aku usahain cepet balik, My. Jangan ngerengek di waktu genting gini, ya.” Angkasa nyaris meninggikan suara. Namun, dia tahan karena sadar siapa yang kini di hadapi. Sekalut apa pun pikiran sekarang, tidak seharusnya menyakiti hati sang istri.


“Kamu bisa ngertiin aku, Habibati?”


Ada rasa khawatir sebelum mengangguk. Bagaimanapun juga, Angkasa pergi dalam kondisi terburu-buru  dan pasti pikirannya tak bisa tenang. Namun, apa boleh buat, Myria hanya bisa menurut dan akan menunggu sampai pria itu pulang.


Perjalanan ditempuh Angkasa dengan kecepatan berkendara di atas rata-rata. Sampai di perusahaan, dia bergegas ke area produksi dan gudang yang ada di belakang. Sudah ada dua mobil pemadam kebakaran di sana dengan petugas sibuk memadamkan api.


Angkasa tetap berusaha mengontrol diri sekalipun mulut sudah ingin memaki. Dia tiba disambut Sakti dan manajer yang sejak tadi ada.


“Seberapa parah?” Angkasa bertanya dengan napas tersengal. Sekuat-kuatnya menahan diri, tetap saja kekacauan terlihat kentara dari wajahnya.


Sakti menggeleng lemah. “Kemungkinan separuh dari gudang bagian ini terbakar beserta isinya.”


“Gimana bisa kayak gini? Kalian kerja atau ngapain?” Semburan emosi Angkasa tertuju pada supervisor dan manajer warehouse. Meski sang manajer juga tidak ada di tempat kejadian saat musibah melanda, dia tetap kena amukan.


“Maaf, Pak. Kami juga kurang tahu.”


“Memang nggak becus! Ngapain anak buahmu? Karyawan puluhan apa nggak ada yang tahu dari awal sampai bisa meledak gini?”


“Ma–maaf, Pak.” Supervisor menunduk takut-takut. Baru kali ini dia dimarahi langsung dari pemimpin tertinggi yang ada di tempat kerja. Sang manajer sendiri kicep karena sama takutnya.


“Kalian—”


“Ka, udah-udah!” Sakti maju untuk menahan Angkasa. Tidak ada gunanya mengamuk saat ini apalagi jadi perhatian para pekerja.  “Mending lihat seberapa banyak barang yang bisa diselametin. Api udah mulai padam ini.”


Sesuai arahan Sakti, setelah tenang dan mengatur napas berulang, Angkasa mulai berjalan. Tujuan empat orang itu ingin melihat sisi gudang yang selamat. Petugas pemadam kebakaran pun sudah mulai mundur dan hendak menggulung selang yang tadi terpakai.


“Lo duluan, gue mau ngobrol sama pemadam kebakaran ini.”


“Oke.” Sakti menjawab, lalu menepuk bahu sahabatnya.  Dia melanjutkan langkah bersama manajer dan supervisor tadi.


Akan tetapi, belum terlalu jauh langkah Sakti, pria itu mendengar jeritan dari belakang. Saat menoleh, matanya terbelalak melihat Angkasa dan kepala tim pemadam tersungkur ke aspal karena baru saja dapat pukulan di tengkuk.

__ADS_1


“Brengsek! Tangkap dua bajingan itu!” teriak Sakti penuh emosi dan bergegas menolong Angkasa.


__ADS_2