Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 55


__ADS_3

“Eum, Kasa ….” Myria merenggangkan peluk sekali lagi. Dua tangannya mendorong tubuh Angkasa agar jarak tercipta. Tatapan dua manusia itu menyatu, lantas tawaran dari Myria terdengar. “Lebih baik kita duduk. Nggak enak ngobrol berdiri.”


Wajah muram yang ditunjukkan Angkasa sepertinya tak bisa hilang. Sama seperti Myria yang memillki pikiran ke mana-mana, begitu pun Angkasa. Pria itu takut kehilangan untuk kesekian kali.


Ranjang menjadi pilihan mereka. Sepasang suami istri itu duduk berhadapan dan kembali memandang satu sama lain. Ada getar-getaran cinta yang selalu timbul saat seperti itu. Myria mengatupkan bibir. Dia tunggu suaminya bicara sendiri.


Perlahan, Angkasa menaikkan tangan ke wajah sang istri. Usapan lembut diberikan pada pipi Myria sembari menguntai maaf. Entah perlu atau tidak sebenarnya maaf tersebut, tetapi seperti yang dikatakan Sakti, Angkasa juga bersalah.


“Janji nggak marah abis denger ceritaku?” kata Angkasa dengan suara lirih.


Ada enggan untuk menyetujui permintaan Angkasa, tetapi Myria butuh penyelesaian. Masalah tidak harus dibiarkan berlarut-larut hingga merenggangkan hubungan. “Um.” Dia mengangguk perlahan.


Terasa berat untuk mengungkap masa lalu yang kelam, di mana dirinya cukup nakal dan membuat orang tua marah-marah. Akan tetapi, Angkasa tak ingin Myria terus salah paham.


Pria berblazer hitam itu menarik napas, lalu berkata, “Erika dulu korban taruhanku sama Galang waktu balapan, Myria. Kamu tahu Galang, kan?”


Myria berusaha mengingat-ingat sebentar. Ternyata cukup beberapa detik saja dibutuhkan untuk membongkar memori saat SMA. “Yah, tahu. Kamu pernah cerita.”


“Sebelum Erika sama aku, dia emang pacar Galang. Aku yang ngerusak hubungan mereka sampai akhirnya Erika luluh sama aku. Mungkin itu  juga yang jadi alasan Erika selingkuh sama Galang waktu aku koma.”


Napas Myria tertahan di tenggorokan. Bibirnya bungkam dan hanya bola mata yang bergerak tak tentu arah. Namun, akhirnya, dia mengalihkan pandangan lantaran dada mulai sesak.


Tubuh berbalut gamis hitam itu bergeser. Dua mata Myria ganti memperhatikan gorden jendela yang melambai pelan karena tersapu udara pendingin ruang.


“My ….” Panggilan selembut mungkin Angkasa lakukan. Dia tak ingin melukai hati sang istri terlalu jauh.


“Apa cuma itu, Kasa?” tanya Myria guna memancing cerita lanjutan. “Tapi kenapa Erika sampek tergila-gila sama kamu?”


Helaan napas keluar dari bibir Angkasa. Timbul lagi rasa keberatan saat membuka luka lama. Namun, demi mengakhiri salah paham sang istri, dia lanjutkan. “Ya, itu. Nggak ada yang spesial sebenarnya. Kata dia, aku baik melebihi Galang. Cuma aku cowok yang nggak mau diajak tidur bareng.”

__ADS_1


Tadi abai, kini Myria spontan menoleh. Apa yang baru saja dia dengar dari mulut Angkasa? Tidur bareng? Separah itu kah gaya pacaran anak muda saat SMA? Terlebih lagi itu pergaulan suaminya.


Mata Myria mulai panas. Dia rasa, air matanya mulai tertimbun di kelopak dan siap jatuh beberapa detik lagi.


Keterkejutan Myria ternyata tidak tersambut. Angkasa justru melihatnya dengan wajah tersenyum. Pria itu maju dan mengusap pipi, lantas mengecup bibir tanpa aba-aba. “Udah kejawab, kan? Aku nggak pernah tidur sama Erika. Apalagi ngambil keperawanan dia. Sampai hari pernikahan kita kemarin, aku masih perjaka seratus persen.”


Jawaban Angkasa sebetulnya tidak lucu bagi Myria. Tadi, wanita itu siap marah-marah, tetapi tertunda atas pengakuan konyol suami sendiri. Bibir Myria mencebik sebagai penyanggahan. “Siapa juga yang nanya kamu perjaka apa nggak! Ngapain juga dibahas. Udah, ah, mau ke butik.”


Sang istri hendak pergi, Angkasa bergerak cepat menahan dan mendorong Myria hingga telentang. Dia ambil posisi memenjarakan dalam kungkungan.


“Kasa, ngapain?”


“Mau nglepasin keperjakaan lagi.”


Mata bulat Myria makin membulat saat mendengar jawaban aneh dari bibir Angkasa. Dia hendak menukas, tetapi kalah cepat dan gelagapan sendiri. “Eh, hei, istilah macam apa yang kamu pakek?”


***


Azan zuhur baru menjauhkan tubuh Angkasa dari Myria. Beberapa jam pria itu terus menempel seperti  lem perekat. Ada saja yang diminta, mulai dari sekadar peluk, usap-usap kepala hingga hal lebih intim sebagai suami istri.


“Kasa, mandi sana terus ke masjid. Biar aku siapin makan siang, kamu pulang nanti udah selesai.”


Angkasa bergumam setengah sadar. Tidur di dekapan Myria ternyata mencipta rasa nyaman luar biasa. Ada baiknya dia konsultasi ke dokter kejiwaan mengenai hal itu supaya konsumsi obat bisa dihentikan.


“Ka, ayo!” Dua tangan Myria terpaksa mengangkat kepala Angkasa yang ada di dada.


Mau tidak mau Angkasa pergi. Dia tinggalkan ranjang dan bersiap ke masjid untuk jamaah.


Tidak lama pria itu salat, sekitar 25 menit nyatanya  sudah kembali ke rumah. Meja makan yang nyaris dilewati saat ingin ke kamar telah penuh akan makanan. Angkasa celingukan mencari Myria, tetapi tidak terlihat.

__ADS_1


“Sayang!” Panggilan dari ruang tengah itu mengudara hingga dapur seiring kakinya melangkah datang.


Myria segera mencuci tangan dan menghampiri. Malu sendiri pada asisten rumah tangga dan ibu mertua saat dipanggil seperti itu.


“Nggak harus  teriak-teriak gitu, ih. Malu sama Bunda.” Sahutan Myria terdengar seiring kemunculannya.


Bukan Angkasa kalau peduli, pria itu memilih abai dan memeluk pinggang Myria. “Aku udah manggil kamu dari ruang tamu tadi. Tapi nggak nanggepi.”


“Beneran?” Dahi Myra yang tadi sedikit mengerut, spontan berganti. Dia lekas meminta maaf karena merasa lalai.


“Udah nggak pa-pa. Aku nggak marah. Mending ikut ke kamar bentar. Mau ganti baju sama ada yang perlu kita omongin.”


Tak ingin membantah, Myria mengangguk dan pamit pada Nyonya Nasita. Beruntung ibu mertuanya begitu pengertian.


“Mau ngomong apa?” Sembari  membantu menyiapkan pakaian ganti, Myria bertanya.


Angkasa yang masih sibuk melepas baju, lalu mendatangi. Lagi-lagi, pria itu membuat jantungan dengan menghadiahi peluk dari belakang.


Myria berjingkat hingga tangan yang sedang menarik kaus dari lemari terhenti. “Kasa, katanya mau ngomong. Udahan manjanya, kamu nggak laper? Udah ditungguin Bunda di bawah.”


“Iya-iya.” Angkasa segera melepaskan diri dan menyahut kaus dari tangan Myria. Sambil berpakaian, pria itu berkata, “Mau liburan nggak?”


“Liburan?”


Deheman Angkasa membuat Myria bertanya lagi. “Ke mana? Tapi kamu sakit.”


Angkasa mencolek hidung mancung istrinya. “Nunggu aku pulih total. Beberapa bulan ke depan kita bisa pergi. Mau ke mana?”


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Myria maju dan merangkul sang suami. Senyum merekah tersungging di bibirnya yang kemerahan. “Kita ke Jepang. Wujudin keinginanmu dulu.”

__ADS_1


__ADS_2