
Sesampainya di sana, Sintia memperlihatkan kuburan Malik dan anaknya. Sintia menunjuk batu nisan yang tertulis nama Malik disitu. Namira melihat nama suaminya tertera di batu nisan itu.
Namira tertegun melihat nama yang tertulis di batu nisan tersebut. Namira melihat baru nisan itu secara bergantian dengan batu nisan bertuliskan nama seseorang bin Malik. Namira melihat ke wajah ibu mertuanya yang terpaku menatap makam anaknya. Lalu Namira pun bertanya. Kuburan siapakah yang ada di samping suaminya itu.
"Ma.. ini makam. siapa ma? Kenapa tulisannya bin Malik?" Tanya Namira dengan bibir gemetar.
"Itu makam anak kamu!" Jawab Sintia. Namira menatap kembali kuburan itu. Bak badan serasa tertimpa beton, hati serasa disayat dengan parang yang tajam. Tubuh Namira seketika merasa lemas dan tidak sanggup lagi untuk berjalan. Seketika Namira langsung berlutut di depan makam mereka. Ini seperti mimpi bagi Namira. Mimpi yang sangat buruk.
"Jadi.. ini semua benar? Mengapa kalian pergi begitu cepat? Kenapa kamu tinggalin Aku mas?" Ucapnya lirih. Sintia yang jengkel dengan Namira akhirnya mengusir Namira. Dan melarang Namira untuk mengunjungi makam suami dan anaknya lagi.
"Cukup Namira! Simpan saja air mata buaya kamu itu. Kamu memang perempuan pembawa sial!" Sungut Sintia. Karena tidak bisa berlama-lama melihat wajah Namira di depannya, Sintia pun memegang erat kedua pangkal lengan Namira kemudian menghempaskan nya ke tanah. Hingga Namira jatuh bersimpuh.
Dibalik pertengkaran mereka, ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh. Iya tidak lain adalah Monica. Monica merasa sangat puas dengan apa yang dilihat di depan matanya.
"Ternyata tidak sia-sia juga usahaku. Aku suka melihat pemandangan hari ini.. Ternyata, Aku lebih suka jika melihat Namira itu menderita.. daripada melihatnya mati. Aku akan buat dia seperti ini terus.. hahaha.." Ucapnya.
.
.
Namira tidak putus asa dengan usahanya. Namira tetap memohon kepada Ibu mertuanya untuk memaafkannya. Hingga Namira rela bersimpuh di kaki Sintia.
"Maafin Aku ma.. Aku minta maaf.. ini salah Aku.." Ucapan permohonan maafnya.
"Minggir kamu! Jangan pernah sentuh saya dengan tangan kotor kamu!" Ujar Sintia sembari menendang Namira hingga Namira terpental.
"Aku bilang pergi ya pergi! Ngerti ga kamu?"
Namira pun akhirnya pergi dari tempat peristirahatan terakhir suaminya dan anaknya. Iya pergi dengan sejuta kesedihan. Sambil terisak, Namira pun berhenti sejenak kemudian menoleh lagi ke makam mereka.
"Maafkan Aku mas.. Semuanya memang salahku.. Andai Aku memberi tahu kamu dari awal.. mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.. maafkan mama juga sayang.. karena kesalahan mama, kamu harus menjadi korban." Batinnya lirih.
.
.
__ADS_1
Namira berjalan dengan langkah tertatih. Berat rasanya kakinya untuk melangkah. Air matanya sudah mengering.
Terdengar suara petir menggelegar. Langit sudah mulai gelap seakan ikut bersedih melihat Namira yang bersedih. Kemudian, hujan pun mulai turun dengan derasnya. Air langit yang jatuh kerap membasahi sekujur tubuh Namira.
Kaki Namira seakan tidak kuat lagi untuk melangkah. Namira pun menjatuhkan lututnya ke tanah.
"Argh...... Argh.... Argh..." Teriaknya sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa ini harus terjadi kepadaku? Kenapa rasa kehilangan ini sangat menyakitkan bagiku? Kenapa tuhan? Hiks, hiks, hiks.." Keluhnya.
Seseorang datang dari arah belakang dengan membawa payung. Iya menghampiri Namira dan memegang kedua pangkal lengan Namira . Lalu membantu Namira untuk berdiri.
"Ya, Allah Namira.. Kenapa kamu disini? Ayo bangun nak.." Ucapnya sembari membantu Namira berdiri.
"Namira.. kita ke masuk ke mobil umi dulu ya sayang.." Ajak seorang perempuan yang kerap dipanggil umi. Namira hanya mengikut saja.
"Namira.. apa yang terjadi padamu nak? Kenapa kamu hujan-hujan begini? Kamu kenapa Namira?" Tanya perempuan itu.
Namira hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaannya. Mulut Namira seperti merasa terkunci. Perempuan itu mengerti dengan keadaan Namira. Mungkin iya mengalami syok berat saat ini. Perempuan itu pun tidak memaksa sebuah jawaban dari Namira.
****************
Dengan penuh basah kuyup, Namira diantar pulang. Orang tua Namira terkejut dengan keadaan Namira yang seperti itu.
"Astaghfirullah.. kenapa kamu basah kuyup seperti ini Namira?" Tanya Hanifah yang heran.
"Maaf ustadzah Hanifah, saya menemukan Namira dengan keadaan seperti ini di pinggir jalan. Dan sepertinya Namira sedang mengalami syok berat.." Ucap perempuan itu.
"Terimakasih umi syarifah.. Umi sudah mengantarkan anak saya.." Ucapnya.
"Sama-sama ustadzah.. lebih baik Ustadzah Hanifah bawa dulu Namira ke dalam. Biarkan dia istirahat dulu.. mungkin Namira ingin sendiri dulu.." Ucap perempuan itu.
"Baik.. terimakasih umi.. silahkan duduk terlebih dahulu umi.." Ucap Hanifah mempersilahkan. Terlebih dahulu, Hanifah mengantar Namira ke kamarnya. Dan membiarkannya sendiri dulu agar pikirannya lebih tenang.
.
__ADS_1
.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Namira ustadzah? Kenapa dia seperti itu?" Tanya Perempuan yang dipanggil umi itu.
"Aku juga tidak tau.. Bahkan Aku sendiri juga kaget umi.. pulang-pulang Namira sudah seperti itu." Jawab Hanifah.
"Apa akhir-akhir ini ada sesuatu kejadian?" Tanya umi itu. Hanifah pun jadi teringat dengan peristiwa yang menimpa tewasnya Malik dan cucunya.
"Jangan-jangan.." Gumamnya tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
"Ustadzah?" Ucap Umi itu mengejutkan lamunan Hanifah.
"Iya.. ada umi.. ceritanya panjang.. saya tidak bisa ceritakan ini sekarang.. Karena saya juga tidak tau penyebab Namira menjadi seperti ini sekarang." Jawab Hanifah.
"Baiklah ustadzah.. kapan-kapan saya kesini lagi menjenguk keadaan Namira. Tolong kabari saya jika ada sesuatu tentang Namira. Karena dari dulu hingga sekarang, Namira tetaplah anak yang spesial bagi saya.. Dia sudah saya anggap seperti anak sendiri.." Ucap Umi itu.
"Baik Umi.. terimakasih atas kepedulian umi terhadap Namira.." Ujarnya.
"Kalau begitu.. Saya permisi dulu.." Ucap Umi syarifah tersebut. Hanifah mengantar umi Syarifah sampai depan pintu.
****************
Namira sudah seharian tidak keluar dari kamar. Hanifah pun menengok Namira di kamarnya. Dan Hanifah mengajak Namira untuk keluar kamar.
"Namira.. kita di luar yuk sayang.. kamu sudah seharian di kamar terus.. ga baik loh nak.." Ajak Hanifah. Namira menoleh ke Ibunya. Lalu berkata.
"Kenapa Ibu berbohong kepadaku?" Ucap Namira.
"Maksudnya apa Namira?" Tanya Hanifah pura-pura tidak mengerti. Namira tau bahwa ibunya pura-pura saja tidak mengerti ucapan Namira.
"Jangan pura-pura ga tau bu.. Aku tau ibu hanya pura-pura saja kan?" Ucap Namira.
"Namira.. kamu kenapa?" Tanya Hanifah lagi.
"Kenapa Ayah dan Ibu berbohong sama Aku? Ayah bilang kalau mas Malik masih hidup, dan anakku juga masih hidup. Tapi, nyatanya mereka sudah ga ada kan Bu?" Ungkap Namira sembari tidak dapat menahan buliran air bening di matanya untuk keluar.
__ADS_1