Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 71


__ADS_3

Bahu Myria bergetar. Tubuhnya tak mampu berbohong saat menahan tangis. Dia rela membekap mulut agar tak mengeluarkan suara, tetapi gagal.


Di belakang, Angkasa masih berdiri tegak dengan sapu di tangan. Tak ada perintah apa pun keluar dari mulutnya lagi. Dia terus menatap punggung sang istri yang kini terbuka sedikit.


"Kamu bakalan ngadu sama ayahmu kalau aku beneran mukul, Myria?"


Myria menggeleng lemah. "Enggak."


"Kenapa? Bukannya kamu bakal dapat perlindungan?"


"Selama aku istrimu, kamu berhak lakuin apa aja saat aku salah. Aku nggak bakal ngadu atau cari perlindungan selama kamu nggak keluar batas. Kamu suamiku, menjaga marwahmu adalah kewajibanku. Suami adalah pakaian bagi istrinya, begitu juga sebaliknya. Aku ikhlas, Kasa."


Meski istrinya tidak berbalik dan terus terisak, Angkasa masih bisa mendengar jelas ucapan Myria. Pria jelang usia 28 tahun itu maju satu langkah dan berdiri tepat di belakang tubuh sang istri.


"Berdiri dan tutup matamu!"


Tanpa dibantu Angkasa, Myria berdiri dan tetap memunggungi. Kemudian, dia pejamkan mata sesuai kemauan Angkasa. Tak ada apa pun yang terjadi beberapa detik, tetapi setelah itu, rengkuhan kuat yang berasal dari belakang bisa Myria rasakan.


Myria membisu, sama seperti Angkasa. Pria itu mengunci rapat bibirnya dan hanya meninggalkan jejak kecup di leher dan kepala berulang seiring pelukan yang makin erat.


"Marahku hilang kalau udah meluk kamu," kata Angkasa setelah ratusan detik berputar.


Myria tetap membisu dalam pelukan. Air matanya perlahan surut dan tersisa isakan ringan. Wajah putihnya telah memerah dengan mata bengkak dan hidung meler. Akan tetapi, Angkasa tetap memeluk tanpa keberatan jika pakaiannya kotor.


"Maaf. Padahal aku udah siap-siap nahan sakit kalau kamu beneran mukul tadi." Suara Myria terdengar lirih.


Wajah yang awalnya tegang dan merah padam iti mulai mengulas senyum. Tiap tarikan napas, Angkasa menambah tekanan dalam memeluk hingga menyesakkan.


"Gimana bisa aku makek tangan yang harusnya buat gandeng kamu ke Surga nanti, tangan buat cari nafkah, tangan yang buat meluk kamu ini mau dipakek buat mukul? Nggak bisa, Habibati. Aku nggak mau tiap langkahku dilaknat Allah dan Malaikat karena udah zalim sama kamu."


"Yang udah, nggak usah dibahas lagi. Sorry banget kalau aku nakutin kamu dari tadi. Soal Mama, nanti aku bicara sama beliau."


"Bunda nggak ngomong apa-apa, kok, Ka."

__ADS_1


Angkasa melonggarkan peluk, lalu menatap wajah Myria yang ada di depan dadanya.


Wanita berambut hitam itu mendongak dan lanjut bercerita, "Aku yang mulai cerita. Bunda nggak nanya apa-apa sama aku. Beliau justru yang nguatin aku waktu curhatan aku selesai. Kata Bunda, nggak pa-pa belum punya anak, tapi emang aku yang kepikiran. Aku ngerasa salah sama Bunda sama Papa juga. Mereka dapet cucu cuma dari kamu soalnya."


Penuturan Myria membuat Angkasa menghela napas. Ada saja tingkah wanita yang dia nikahi ini dalam mencari masalah. Orang lain mungkin menghindari perkara dalam rumah tangga, tetapi Myria justru sebaliknya.


"Kugigit pipimu ini ...."


"Ah, aow! Kasa!" Myria menepuk dada Angkasa cukup keras agar suaminya berhenti. "Aku bukan bakpao, kalau laper makan nasi di bawah."


Lumattan kilat diberikan Angkasa pada bibir Myria yang manyun. "Makanya, jadi orang jangan ngegemesin gini. Sumpah, istriku ini emang seneng banget nguji kesabaran."


Tadi pukulan, kini ganti cubitan yang diberikan Myria ke dada Angkasa hingga suaminya mengaduh singkat.


"Dari awal udah dibilangin nggak usah ne-think mulu. Ada aja yang dipikirin. Ini kepala andai bisa ngomong, pasti udah minta ampun mulu gara-gara dijejali banyak hal buruk."


Myria tak bisa menyanggah. Dia hanya mengalihkan pandangan dan sibuk memainkan kancing kemeja.


Myria gelagapan dan meminta turun, tetapi Angkasa abai.


"Mandi! Udah sore," kata Angkasa sembari melangkah menuju kamar mandi. Dia butuh berendam dan meminta pijatan agar letihnya berkurang.


***


Meja makan didominasi keheningan. Tuan Aji beberapa kali melirik menantu dan putranya, tetapi dua anak yang telah dewasa itu saling diam. Ingin bertanya, beliau tahan dan memilih menundanya.


"Papa lama tidak tanya soal pekerjaan, bagaimana urusanmu di kantor, Kasa?" Daripada suasana terus sunyi dan aneh, Tuan Aji basa-basi hal lain.


Angkasa menaruh sendoknya sebentar. "Alhamdulillah lancar. Apa Papa jadi pensiun tahun ini?"


Ada segaris senyum di wajah Tuan Aji. Tahun berganti, beliau memang telah lama berada di Kalastra Group dan sudah seharusnya istirahat sejak dahulu. Namun, karena cara kerja yang selalu bisa diandalkan, jajaran direksi selalu memperpanjang masa jabatan Tuan Aji daripada susah-susah menunjuk orang baru.


"Papa inginnya begitu. Biar bisa di rumah dengan Mama. Apalagi kalau ada cucu, mungkin main bersama anak-anakmu. Tapi rencana ini nanti akan dibahas bersama mertuamu dan semua direksi untuk ambil keputusan."

__ADS_1


Cucu? Hati Myria kembali mendung mendengar itu. Semua pergerakannya berhenti dan langsung menunduk.


Nyonya Nasita yang duduk berseberangan dengan Myria langsung buru-buru mengingatkan sang suami. "Pa, kalau Papa pensiun, di rumah dengan Mama sepertinya sudah cukup menyenangkan. Kita bisa memupuk cinta saat masa muda, kan?"


Tuan Aji yang belum sadar atas ucapannya masih bersikap santai. Nyonya Nasita belum sempat memberi kabar apa pun sehingga beliau rasa tak ada yang perlu dikhawatirkan.


Senyum di wajah tua itu makin mengembang. Tangan Tuan Aji langsung menggenggam milik sang istri. "Tentu saja, Ma. Papa selalu bahagia bersama Mama."


Tak beda jauh dari sikap sang ayah, Angkasa juga langsung menggenggam tangan Myria. Pria itu berdehem, lalu menarik napas dan berkata, "Pa, Ma, aku mau ngomong serius."


Suasana berubah serius kembali. Atensi Tuan Aji dan Nyonya Nasita mengarah pada Angkasa.


"Beberapa bulan lalu kami ke dokter kandungan karena ingin program kehamilan. Tapi dokter bilang ada sesuatu yang membuat kami kesulitan punya anak dalam waktu dekat ini."


Tuan Aji sedikit kaget mendengar pengakuan anaknya. Beliau menoleh pada sang istri lagi dan respons Nyonya Nasita hanya anggukan pelan sebagai kode untuk tetap tenang.


"Riwayat depresi dan obat anti depresan yang masih sering aku konsumsi membuat pergerakan sperr-ma melambat." Angkasa lanjut bercerita, "Akibatnya, pembuahan sulit terjadi. Dokter kandungan menyarankan aku konsultasi lagi sama Psikiatri biar bisa lepas obat ini secara total. Dan dua bulan ini aku terapi diam-diam tanpa Mama dan Papa tahu. Maaf kalau aku terpaksa nyembunyiin ini. Soal cucu, aku harap Mama sama Papa sabar lagi."


Dua orang tua Angkasa langsung diam. Mereka kaget, tetapi tidak bisa melakukan apa pun selain memberi dukungan pada sang anak.


Myria yang ada di samping Angkasa pun masih terus mengatupkan bibir. Namun, karena tak ingin membebankan masalah seolah-olah hanya berpusat pada Angkasa, dia ikut angkat suara. "Pa, sebenernya bukan cuma Kasa yang bermasalah. Myria juga."


"Sayang!" Angkasa langsung menyela.


Akan tetapi, Myria tetap melanjutkan, "Myria sempet tes HSG kemarin. Dan hasilnya, ada penyumbatan di tuba falopi sebelah kiri. Ini artinya, makin sulit terjadi pembuahan kalau hanya mengandalkan satu ovarium."


Selera makan semua orang mendadak lenyap. Kesunyian awet mengepung dan masing-masing mereka sibuk dengan suasana hati yang sama. Sama-sama sedih.


.


.


......................

__ADS_1


__ADS_2