
“Widih, oleh-oleh dari Jepang ini.” Friska menarik empat paper bag yang tersodor. Wanita itu meninggalkan camilannya sebentar. “Makasih, ya.”
“Yang dua buat Tante itu.”
Arah pandang Friska yang tadi mengintip isi paper bag beralih. “Beres. Tenang aja. Mau main ke rumah sekalian nggak? Lama banget kamu nggak ke sana, My. Biar Ibu masak banyak.”
Masih pagi, tetapi Myria sudah ditawari makanan, padahal sarapannya tadi baru dicerna lambung.
“Nanya Kasa dulu, deh.” Tak ingin mengecewakan sahabatnya dengan sebuah penolakan, akhirnya Myria mengambil pilihan tersebut. Lagipula, apa yang dikatakan Friska memang benar bahwa sejak menikah, Myria jarang berkunjung sekalipun hanya main.
Wajah Friska berbinar. “Sip. Nanya, gih! Biar aku ngasih kabar ke Ibu abis ini. Jadi, kan, nggak mendadak juga.”
Myria segera menarik tas dan mengambil ponsel. Huruf demi huruf diketik hingga membentuk kalimat permintaan, setelahnya baru dikirim pada sang suami.
Tak sampai satu menit, balasan diterima Myria berupa panggilan. Wanita itu segera mengangkat telepon lalu mengucap salam.
"Apa, Sayang? Hm?" Setelah menjawab salam, Angkasa langsung bicara mengenai isi pesan istrinya.
Myria menahan senyum di balik cadar maroon yang hari ini menutup wajah. “Boleh nggak, Ka? Udah lama aku nggak main ke sana.”
__ADS_1
Suara lembut Myria membuat hati Angkasa bergetar. Pria yang baru saja dapat kode dari Sakti untuk meeting itu segera memberi jawaban, “Iya boleh, tapi pulangnya tunggu aku. Nanti jam sembilan aku jemput.”
“Kenapa jemput? Aku bawa mobil.”
"Nggak usah bikin orang ngulang perintah, Myria. Aku jemput, ya, jemput. Awas kalau nekad pulang sendiri!"
Gemas sendiri mendengar keputusan Angkasa. Namun, daripada ribut perkara hal sepele, Myria pilih menurut. "Iya, siap, Pak! Makasih, ya. Selamat bekerja kembali."
"Jangan tutup dulu!"
Ganti lagi perintah Angkasa dan sukses membuat Myria mengurungkan niat mematikan panggilan. Wanita itu kembali menempelkan ponsel ke telinga. "Kenapa, Ka?"
"Hah? Maksudnya?" Perkataan Angkasa membuat Myria kebingungan. Dia menoleh pada Friska, sahabatnya itu justru sibuk makan sambil bermain ponsel.
"Kasih cium online atau kalimat cinta yang indah biar aku semangat, Habibati," kata Angkasa dengan suara manja dibuat-buat. Sungguh! Seperti bukan Angkasa jika bersikap demikian. Beruntungnya, Sakti telah pergi. Andai sahabatnya itu masih di ruangan, mungkin sudah menatap jijik.
"Ayo, bilang! Badanku yang pegel-pegel ini biar terobati dikit." Angkasa terus merengek seperti anak kecil.
Myria sampai mengusap kening mendapati sikap suaminya. Tidak hanya di rumah, ternyata di tempat kerja pun bisa bersikap demikian.
__ADS_1
Mendapati rengekan terus menerus, mau tak mau Myria menyanggupi. Dia menyingkir dari Friska hanya untuk memenuhi permintaan sang suami. "Semangat kerja, Sayang. Hati-hati, tetep fokus, ya. Istrimu ini selalu mendoakan yang terbaik."
Seperti ABG kasmaran, begitulah Angkasa. Dia senyum-senyum sendiri sambil memutar kursi kerja beberapa kali. Setelah puas, telepon akhirnya ditutup.
"Woi, Ka! Lo telpon atau ngapain? Ditungguin gak nongol-nongol!" Sakti datang merusak kebahagiaan. Angkasa mendatanginya dengan tatapan tajam.
Jam kerja berputar. Seharian Myria fokus menemani calon pengantin yang fitting baju dan membahas konsep gaun. Bersama Friska, dia bekerja semaksimal mungkin.
Ketika sore menjelang, Myria serta Friska pulang lebih dahulu. Mereka pamit pada pekerja dan memperingati agar memastikan pintu terkunci.
Mobil melaju pelan menuju rumah Friska. Wanita itu sebenarnya membawa motor, tetapi Myria meminta motor ditinggal di butik agar bisa berbarengan.
Di jalan, dua wanita itu asyik mengobrol. Friska tak henti-hentinya bertanya soal pengalaman Myria bulan madu. Sesekali wanita berjilbab navy itu menggoda tanpa sungkan.
Myria banyak tertawa karena sikap Friska. Dia hanya kebagian menjawab dan cerita sewajarnya.
"By the way, kamu ada pikiran buat nikah, Fris?" Setelah obrolan cukup lama terjadi, Myria memberanikan diri bertanya hal itu. Selama ini, dia memang tidak ikut campur urusan pribadi Friska dalam hal cinta.
Friska yang sejak tadi menyandarkan kepala di kursi, mulai menegakkan punggung. Dia menoleh pada Myria. "Pak Zayyan nglamar aku minggu lalu, My."
__ADS_1