
“Perusahaan ini minta pesanan seragam karyawannya dikirim akhir minggu ini, Ka. Lo lihat tanggal pesan mereka ke kita, udah berapa bulan?”
Data barang yang harus diganti tersodor ke meja. Angkasa meneliti satu per satu, lalu menatap Sakti yang ada di depan. Sahabatnya itu berwajah serius dan kaku sejak kemarin. Angkasa memaklumi karena tahu Sakti juga pusing perkara masalah yang ditimbulkan ayah Erika.
“Udah dikerjain barangnya?” Angkasa bertanya setenang mungkin. Melihat betapa keruh wajah Sakti, tidak mungkin pula dia menaikkan intonasi.
“Udah. Tapi ratusan stel pakaian itu apa mungkin kelar? Produksi baru dapet berapa kemarin? Pusing gue, ya, Allah.” Sakti benar-benar ada di titik bingung. Seluruh tenaga dan pikiran telah dikerahkan untuk menangani persoalan yang membelit, tetapi memang tidak serta-merta tuntas.
Ditinggalkannya kursi kebesaran, Angkasa menenteng tablet pemberian Sakti, lalu bergegas.
“Mau ke mana lo?” Sakti bertanya setengah sewot. Jawaban belum didapat, tetapi lawan bicaranya sudah bersiap pergi. Orang mana yang tidak emosi?
“Turun. Mau lihat produksi sama tim packing sampai mana.”
“Masih jam istirahat. Woi!” Telat bicara, Sakti ternyata ditinggal sendiri tanpa diminta pendapat. Mau tidak mau, pria itu ikut menyusul dan bergegas menuju lift.
Semua manajer mengangguk tiap berpapasan karena masih ada beberapa menit sebelum mulai kerja kembali. Akan tetapi, Sakti yang buru-buru tidak sempat mengacuhkan. Fokusnya hanya pada pria berkemeja hitam di depan sana yang hampir masuk lift.
***
Bisingnya mesin-mesin beroperasi menyapa pendengaran Sakti dan Angkasa setibanya di ruang produksi. Dua pria itu disambut langsung oleh manajer yang bertugas di pabrik gedung pertama.
“Pak Kasa, Pak Sakti, mau ke line berapa?” Seorang pria berkemeja putih mendatangi dan bertanya dengan sopan.
__ADS_1
“Antarkan aku ke line yang menjahit produk ini.” Tablet ditunjukkan singkat pada sang manajer, sesingkat ucapan yang terlontar. Begitu kaki menapaki lantai produksi, wajah Angkasa berubah serius.
Manajer pria itu mengangguk patuh. “Mari, Pak. Line 81 ada di deret tengah.”
Kaki tiga orang pria itu melangkah menuju para penjahit yang sedang sibuk. Tidak ada pembicaraan lagi karena perasaan sang manajer cukup tegang mendapati atasan datang mendadak di jam yang tidak biasa.
Beberapa kali Sakti berdehem saat melewati line-line sebelum line 81 karena pria itu menangkap basah para karyawan terperangah atas kedatangannya.
Sang manajer sempat menoleh, tetapi tidak berani bertanya. Dia yang ada di sisi berseberangan dengan Sakti cukup tahu diri daripada kena pecat.
Berbeda dengan Angkasa yang sibuk dan menghabiskan waktu istirahat untuk meninjau pekerjaan, Myria justru datang ke kantor tanpa pemberitahuan. Wanita itu langsung menuju ruangan Angkasa, tetapi sayang tidak menemukan siapa pun. Dia lekas menelepon, nahasnya ponsel sang suami justru di meja.
Tak ingin merasa bosan atau sendiri di ruangan kerja Angkasa, Myria memilih keluar dan menuju ruang desainer. Ruang yang pernah jadi tempat bekerja itu cukup membuat rindu sekalipun keberadaannya dahulu tidak lama.
Myria ikut kaget mendengar sapaan David yang berganti. Buru-buru dia menggeleng. “Pak David jangan manggil gitu. Aku dulu anak buahmu.”
“Tapi itu dulu, Bu. Sekarang, kan, beda.”
Mata Myria menyipit karena tersenyum. “Udahlah, Pak. Panggil Myria aja, jangan sungkan-sungkan. Aku kemari karena kangen tim ini, sekalian nunggu Angkasa. Nggak tahu dia di mana.”
Sepasang mata para tim sempat membulat saat mendengar Myria menyebut nama Angkasa begitu enteng. Ada kesan akrab yang sangat kental seperti seorang teman. Padahal, status Angkasa dahulu juga atasan Myria, hal itulah yang menghadirkan keheranan.
“Pak Kasa, tadi keluar dengan Pak Sakti, Bu … oh, maksudku, Myria. Mungkin cari makan atau ke produksi. Telpon saja.”
__ADS_1
“Udah, Pak. Tapi hapenya ketinggalan di meja. Pak David, aku pinjem anak buahmu satu buat anterin aku ke produksi, ya.” Myria langsung menuju meja kerja. Dia menarik satu desainer wanita yang dahulu duduk di sebelahnya.
Perempuan yang terpilih itu sempat kikuk menghadapi Myria, tetapi akhirnya patuh dan memperlakukan Myria seperti teman.
Dengan diantar teman kerjanya dahulu, Myria menuju ruang produksi yang selama ini belum pernah dilihat. Wanita bergamis mocca dan bertunik krem pastel itu sempat dicegat satpam untuk dimintai keterangan sebelum masuk.
“Tidak lama, Pak. Saya cuma nyusul suami saya,” kata Myria setelah pemeriksaan berakhir.
Satpam perempuan dan laki-laki itu gemetar setelah mendengar siapa suami yang dimaksud. “I–iya, Bu. Maaf kalau kami lancang, tapi hanya menjalankan aturan.”
Myria mengangguk santai. Dia lanjut masuk dan mencari-cari Angkasa. Sayangnya, tidak semudah itu menemukan manusia di antara banyaknya manusia.
“Susah, ya, My? Jalan aja dulu. Moga-moga di gedung ini.”
Ingin protes karena kelalaian suaminya meninggalkan ponsel, tetapi percuma. Maka dari itu, Myria berusaha sabar menyusuri jalan di antara mesin-mesin dan para karyawan.
“My, itu Pak Angkasa.” Telunjuk sang desainer mengarah ke satu titik. Senyum Myria merekah saat melihat kearah tersebut.
Tanpa menunggu apa pun, Myria bergegas menghampiri. Dia abaikan perhatian para karyawan atau suara-suara sumbang yang terdengar.
Langkah kaki berbalut flat shoes hitam itu makin dekat. Namun, ketika jarak kian terpangkas dan tersisa beberapa meter, tatapan bahagia Myria berubah. Dua mata indahnya ganti memicing saat melihat satu karyawan perempuan sengaja merapat-rapat pada Angkasa.
“Apaan, sih, sama karyawan produksi di sini?” Sanubari Myria bergejolak. Langkahnya sempat berhenti beberapa detik, sebelum akhirnya makin dipercepat hingga membuat teman yang mengantar bingung.
__ADS_1
“Kasa!” Seruan dari arah belakang membuat Angkasa, Sakti, sang manajer serta karyawan-karyawan menoleh serempak.