Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 20


__ADS_3

Friska menelan makanannya susah payah. Wanita dengan pakaian serba hitam itu sejak tadi menyimak perkataan Myria dengan penuh kesungguhan. Dia makan secara perlahan sembari menghayati obrolan telah berlangsung hampir setengah jam. Padahal, biasanya jika fokusnya hanya pada makanan, tidak akan selama itu.


“Kenapa nggak kamu iyain aja, sih, My? Katanya masih ngarep.” Gelas jus melon yang ada di sebelah kanan tertarik, Friska lantas meminumnya pakai sedotan. Fokus makannya memang terpecah dan bahkan tidak sadar jika makanan itu sudah tak hangat lagi.


Myria menggeleng lesu. Bahu dan punggung yang biasa tegap itu kini terlihat lunglai tanpa daya. Memang seharusnya yang dilakukan siang tadi atas pertanyaan Angkasa ditanggapi seperti omongan Friska barusan, tetapi entah mengapa, Myria justru melongo sampai-sampai ditertawakan.


“Malah syok gini. Ya, udahlah, balik sana kalau belum siap.”


Kata-kata Angkasa siang tadi seolah berdengung di  telinga. Setiap itu terintas di kepala, Myria menggeleng cepat untuk mengusir.


“Aku nggak tahu, Fris. Refleks aja gitu kagetnya.”


Friska membuang napas banyak dari mulut. Dia tuntaskan menyantap hidangan yang telah dipesan, lalu bersandar nyaman di kursi restoran. “Terus sampek jam pulang, Kasa nggak nyamperin kamu?”


“Ya, enggaklah. Ngapain dia datengin aku? Yang ada malah bikin geger seisi kantor.”


“Iya, juga, sih.” Friska manggut-manggut sambil menghabiskan jusnya. “Ya, udah makan aja dulu jangan dipikir mulu. Ntar aja aku bantu nyari solusi.”


Tak ingin larut dalam perasaan, Myria mulai menghabiskan makan malamnya. Dia sengaja mengajak sahabatnya makan di luar karena malas masak di apartemen.


“Aku ada rencana mau buka butik, deh, My. Gimana menurutmu?” Daripada pusing memikirkan tawaran Angkasa, Friska ganti bercerita.


Myria langsung tanggap dan melupakan sejenak tentang kejadian siang tadi. “Boleh juga. Patungan sama aku. Aku bisa terima rancangan kalau weekend atau sekadar bantu-bantu kamu nanti.”


“Fix. Mari bekerja sama, Nona.” Bak orang professional, Friska menaruh gelas ke meja lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. Myria sempat tertawa, tetapi tetap menerima uluran tangan sahabatnya.


Dua wanita itu larut dalam obrolan lain. Sesama wanita mandiri, banyak hal yang bisa menjadi topik pembicaraan mereka. Kebersamaan yang tidak sebentar, selera yang hampir sama, menjadikan keduanya memiliki chemistry yang begitu kuat.


Tidak heran jika Myria susah jauh dari sahabatnya satu itu. Friska satu-satunya teman yang selalu ada dan meneria dia apa adanya tanpa peduli saat miskin atau kaya.


Kemunculan mentari menggeser gelapnya malam. Angkasa bersiap kerja dengan pakaian santai seperti kemarin. Sweter abu-abu bergaya turtleneck klasik dipadu celana chinos dan sepatu kets putih membalut tubuhnya yang tinggi. Pria dengan rambut hitam itu ikut bergabung ke meja makan.


“Tampan sekali anak mama hari ini. Masih jam delapan, tapi kamu sudah serapi ini, Ka.” Nyonya Nasita memuji bukan karena alasan. Pasalnya, penampilan Angkasa memang tidak seperti hari-hari biasa. Ada yang berbeda, tetapi entah apa itu.

__ADS_1


“Oh, Mama baru sadar kalau baju kamu baru.”


Angkasa hanya menanggapi dengan senyum hingga lesung pipinya terbentuk. Dia menarik kursi tanpa menjawab. Susu yang tersedia diminum beberapa kali tegukan, lalu segera makan menu sarapan.


“Sampai tahap mana persiapan produksi periode ini, Kasa?” Nyonya Nasita tak membiarkan suasana sepi. Wanita itu mulai memancing obrolan.


“Kemarin sudah selesai pembuatan pattern  dan sampel, kita tinggal tunggu proses order material tuntas sebelum cutting dan lanjut ke penjahitan. Beberapa sampel yang kemarin dikerjakan tim desainer juga siap untuk foto katalog, apa Mama mau ganti model atau pakai yang biasanya?”


“Kalau melihat data permintaan pasar, lebih baik pakai yang biasanya saja. Mengundang model baru, sama saja butuh waktu karena kita terlalu mendadak untuk menawarkan kerja sama.”


Angkasa terima saran dari ibunya. Pengunduran diri Faiza dan lamanya mencari desainer baru kemarin-kemarin, ternyata cukup berimbas pada pekerjaan. Sudah terbayang, akan betapa sibuknya hari-hari ke depan.


Denting ponsel Tuan Aji mengalihkan perhatian. Kepala rumah tangga itu menyudahi sarapan. “Daniel sudah datang, Papa berangkat dulu.” Dikecupnya kening Nyonya Nasita, Tuan Aji lalu mengusap kepala Angkasa sebelum meninggalkan meja makan. “Hati-hati di jalan, Ka.”


Setelah menjawab ‘iya’ Angkasa lanjut makan sendiri karena Nyonya Nasita mengantar Tuan Aji ke depan. Dia menoleh ke layar ponsel untuk melihat jam.


Suasana kantor sudah dipenuhi aura keseriusan saat Angkasa tiba. Beberapa karyawan menyapa dan mengangguk sopan saat kebetulan berpapasan dengannya.


Jam kerja karyawan memang diatur satu jam lebih awal dibanding para direktur. Maka, suasana seperti itu tak asing lagi bagi Angkasa. Hanya di hari tertentu saat kebetulan ada meeting bersama perusahaan lain, Angkasa akan hadir lebih pagi.


Satu meja berisi tujuh orang itu langsung menengok ke sumber suara. Ada yang langsung tersedak, ada pula yang langsung melempar kertas karena menganggap temannya itu tidak berkaca.


“Halu! Ya, kali, Pak Kasa mau sama karyawan kayak kita. Orangnya lulusan luar negeri, Guys. Kalau kita? Imannya kokoh tak tertandingi juga, matanya selalu lurus nggak pernah lirik kanan kiri. Ngimpi aja terus sampai


uban kembali item juga nggak bakal ada, tuh, yang bakal dilirik dari kita-kita ini.” Satu teman yang melempar kertas langsung menyanggah dengan menggebu. Posisi perempuan itu tepat di kursi depan Myria, sementara yang tadi melihat Angkasa ada di ujung yang bersebrangan.


Myria tersenyum sambil menggeleng melihat teman-temannya berkelahi. Biarkan saja mereka ribut karena dirinya harus fokus bekerja. Untuk saat ini, bertemu Angkasa kembali membuat Myria canggung setelah kejadian ditertawakan kemarin.


Jam bekerja yang sibuk, pekerjaan padat karena harus koordinasi ke berbagai divisi selama jelang proses produksi menjadikan semua orang serius dan tidak ada waktu bercanda. Masing-masing bertanggung jawab sesuai tugas dan tak jarang saling bertukar pendapat.


Sakti berulang kali mondar-mandir ke berbagai divisi untuk koordinasi dengan para manager, sementara Angkasa tidak terlihat sama sekali selama sehari penuh.


“Alhamdulillah, pulang.” Ada rasa lega menguar dari dalam hati Myria. Wanita itu melakukan peregangan dengan mengangkat kedua tangan. Sembari menunggu layar monitor benar-benar mati, dia cek ponsel karena sejak tadi menunggu balasan dari Friska.

__ADS_1


Senyum tipis membingkai wajah saat membaca pesan dari sahabatnya yang mengatakan bahwa sudah di jalan, Myria bergegas pulang karena badannya terlalu lelah dan ingin segera istirahat.


“Mau makan di rumah? Ibu masak enak hari ini?” Friska bertanya sembari membonceng Myria. Dua perempuan itu mengendarai motor dan bermacet-macetan di jalan bersama pekerja lain.


Asap kendaraan, debu jalanan serta suara bising dari arah kanan atau kiri tidak pernah mengusik Friska maupun Myria. Mereka menikmati suasana itu dengan santai.


“Enggak. Aku delivery aja nanti. Capek banget hari ini.”


“Pulang ke apart berarti ini?”


“Iya.” Myria menjawab sembari berteriak, khawatir Friska yang ada di depan tidak mendengar.


Setelah bermacet-macetan hampir satu jam, akhirnya motor Friska mulai memasuki area apartemen. Dia turunkan Myria di lobi tanpa niat mampir.


“Aku langsung balik. Telepon aja kalau butuh apa-apa.”


“Beres. Hati-hati. Makasih, ya.”


Motor kembali melaju setelah Friska mengucap salam, sementara Myria langsung masuk karena ingin segera istirahat. Namun, saat baru saja pintu masuk lobi bergeser dan langkahnya tertuju lift, seseorang memanggil.


“Myria!”


Tubuh berbalut gamis hitam itu berputar. Myria menaruh perhatian lurus ke depan. “Andreas, Ayah ….”


.


.


___Tbc


Aku double update hari ini. jangan lupa pencel jempolnya, plisss.


Besok sama lusa kayaknya aku libur. dua hari itu mau aku pakek update kisah Rui (tokoh novel: Naksir Bos)

__ADS_1


kalau nggak senin, selasa, ya, kita ketemu lagi.


salam sayang.


__ADS_2