
Pipi dan bibir Angkasa maupun Myria terasa kaku karena tersenyum terus-menerus selama beberapa jam hanya untuk menerima ucapan selamat. Tamu yang hadir memang bukan main banyaknya. Bayangkan saja, semua kolega baik dari perusahaan keluarga Sastra, perusahaan Nyonya Caroline, dan belum lagi perusahaan Angkasa dan Sakti sendiri hadir dalam satu waktu.
Semua orang tumpah ruah memenuhi ballroom hotel malam ini. Mungkin, harusnya kemarin-kemarin ada rencana untuk melanjutkan resepsi beberapa hari sehingga tidak seperti itu. Akan tetapi, apa mau dikata? Semua sudah telanjur dan hanya bisa dilakoni.
“Capek, ya?” Angkasa berbisik tanpa menengok karena dua matanya fokus ke depan menghadapi tamu.
Myria sendiri tetap memasang wajah tersenyum dengan arah pandang yang sama. “Mudah-mudahan nggak pingsan,” katanya tak kalah lirih.
Angkasa tertawa pelan. “Sabar, kalau nggak kuat lagi turun aja. Biar aku sendiri yang ngadepin tamu. Lagian udah jam berapa sekarang?” Satu tangan pria itu terangkat guna menengok jam di lengan. “Jam sepuluh, udah tiga jam kita di sini. Tamu kayaknya masih betah.”
“Aku nggak enak sama Ayah kalau mundur sekarang,” kata Myria sembari melirik Tuan Tirta yang ada di kursi samping.
Pandangan Angkasa baru menoleh pada Myria. “Biar aku yang ngomong.”
Myria membalas tatapan, lalu menggeleng dan kembali melihat depan. Tanpa bantuan Angkasa pun, sebenarnya dia bisa bicara pada Tuan Tirta sendiri. Perkara masih ingin tinggal memang kemauannya, dia siap tanggung risiko sekalipun kaki seolah-olah ingin lepas. Sekali seumur hidup dalam acara seperti itu dialami, Myria juga ingin menunjukkan rasa hormat dan menghargai posisi orang tuanya.
“Oke, terserah. Tapi bilang kalau emang udah bosen.”
Hanya deheman kecil yang tersampaikan untuk menjawab perkataan Angkasa karena setelah itu Myria fokus kembali pada tamu. Siapa pun itu, tamu dari Kalastra Group maupun dari perusahaan Nyonya Caroline, tetap disambut ramah.
Sejam berlalu tanpa obrolan lagi, Myria berbisik pada Tuan Tirta karena benar-benar lelah. Angkasa di belakangnya hanya terdiam karena menunggu respons.
“Perlu Mommy antar?” Nyonya Caroline merasa iba melihat putrinya kepayahan. Satu tangan beliau memegang lengan Myria karena khawatir. Nyonya Nasita sampai ikut mendatangi karena tak ingin terjadi apa-apa.
“No, Mom. Biar Friska yang nemenin. Kasa masih akan di sini, tapi aku udah capek beneran.”
“Ya, istirahatlah. Ini tinggal tamu-tamu Ayah. Biar Ayah yang bicara.” Tuan Tirta memberi keputusan terbaik.
Friska yang sejak tadi mengobrol bersama Sakti dan teman-teman alumni SMA naik pelaminan kala melihat Angkasa melambai padanya. Wanita itu pamit lebih dahulu.
__ADS_1
“Kenapa, Ka?” tanya Friska begitu sampai dan berada tidak jauh dari Myria.
“Tolongin gue anter Myria ke kamar.”
Friska mengangguk dan membawa Myria turun hingga mengundang perhatian tamu yang ada. Beberapa teman perempuan dari SMA yang masih tinggal mendatangi dan bertanya. Myria menjelaskan dan menyampaikan maaf karena tidak bisa menjamu sampai pesta selesai.
“Iya, nggak pa-pa, My. Kita juga mau balik. Udah hampir tengah malem.” Perempuan yang dahulu menjadi bendahara kelas berujar. Dia maju dan memeluk Myria sekalian pamit. “Selamat, ya, My. Nggak nyangka, sih, bisa dapat jodoh teman sekelas.”
Teman-teman lain yang ikut mengerumuni tertawa kecil. Para wanita itu berpelukan secara bergantian, lalu benar-benar meninggalkan pesta. Tersisa hanya pria-pria teman satu geng Angkasa. Mungkin para lelaki itu tidak akan pulang dan ikut Sakti menginap di hotel.
Tiba di kamar, lampu dinyalakan Friska. Wanita itu membantu Myria duduk, lalu mencarikan minum dari kulkas.
“Nih, minum dulu.”
Kesibukan Myria melepas sandal terganggu. Dia mendongak, lalu menerima botol air dari tangan sang sahabat. “Alhamdulillah …,” ucapnya usai minum dan disertai napas panjang menyiratkan keletihan.
Friska tersenyum sembari menggeleng. “Mau dipijitin?”
“Nggak usahlah, kamu juga capek dari kemarin ikut wara-wiri. Tidur, gih! Udah dapat kunci kamar, kan?”
“Nih, di tas.” Dompet yang sejak tadi di tangan ditunjukkan oleh Friska. “Tapi aku temenin kamu dulu. Kasihan banget kayaknya.”
Tubuh Myria merosot dan bersandar ke sandaran sofa. Dia abaikan jika gaun atau jilbab yang masih melekat di badan berubah kusut. “Bantu aku lepasin ini, deh, hiasan kepala.”
Friska berdiri, lalu menarik Myria ke depan cermin rias. Satu persatu jarum yang ada di kepala diambil secara telaten.
Semua pernak-pernik terlepas dari kepala dan hanya menyisa jilbab panjang polos sedada. Friska mencukupkan bantuan. “Udah, My. Sisanya nunggu si Kasa aja. Siapa tahu dia pengin lihat riasan wajah kamu.”
Myria mencebik. “Dia masih sibuk ama gengnya.”
__ADS_1
“Tapi dia berhak lihat kamu dengan tampilan beda dari biasanya. Udah, ya, aku tinggal. Gerah juga, aku mau mandi.”
Selepas dapat ucapan terima kasih dari Myria, Friska bergegas menuju kamarnya sendiri. Wanita itu sudah pamit pada sang ibunda jika menginap di hotel sehingga tidak akan pulang. Ibu Friska sendiri memilih pulang sejak tadi bersama salah satu karyawan kepercayaan di konveksi.
Bosan jika menunggu Angkasa tanpa aktivitas, Myria menyalakan ponsel dan membuka ratusan notifikasi. Dari berbagai akun media sosial yang dimiliki, Myria dibuat tersenyum beberapa kali karena dapat ucapan selamat dari banyak pihak.
“Faiza?” Salah satu pesan dari banyaknya pesan, ucapan Faiza membuat Myria tersenyum lebih lebar. Terpisah jarak, bukan berarti dia hilang komunikasi dari mantan seniornya di perusahaan kemarin.
Sibuk membaca komentar dan beberapa pesan lain, Myria tidak sadar pintu kamarnya terbuka dan sudah berapa lama jam berputar.
“Seneng banget mantengin hape sampek salam nggak dijawab.”
Myria terlonjak. Dia segera bangun dan menghampiri Angkasa. “Wa-waalaikumussalam. Pestanya udah?”
Angkasa mengusap kepala Myria dengan satu tangan. “Udah. Tapi Papa sama Ayah masih di bawah. Mama sama Mommy balik duluan ke kamar. Andreas udah ngilang nggak tahu ke mana wujudnya.”
“Paling sama Om Daniel.”
Tak ada lagi tanggapan membuat Myria mendongak. Dia nyaris tersedak kala menyadari bahwa Angkasa sudah menatap begitu intens. Kaki yang tadi pegal itu melangkah mundur. Dia jauhkan diri dari sang suami karena merasa posisi terlalu dekat.
“Ka, jangan liatin aku segitunya,” kata Myria seraya berpaling. Andai cadar tak lagi menutup wajah, pasti Angkasa melihat rona kemerahan di pipi wanita itu.
Larangan adalah perintah. Angkasa justru menatap Myria begitu dalam tanpa berkedip selama beberapa detik. Dia tidak tahu bahwa wanita di depannya sudah mulai panas dingin.
Beberapa kali Myria menelan ludah. Dua tangannya meremas gaun tanpa disadari, sementara kaki terus melangkah mundur sampai menabrak tembok sehingga tak bisa ke mana pun.
Jarak semakin habis saat Angkasa terus mendekat. Myria yang ada di depannya tiba-tiba memejam tanpa dikomando. Pria itu menahan tawa, tetapi tak jua mundur atau menjauh. Kakinya baru berhenti saat jarak benar-benar habis.
Satu tangan Angkasa terangkat dan mendarat di dinding samping kepala istrinya untuk menopang badan. Satu lagi yang lain digunakan untuk menarik dagu Myria agar wajah sang istri menengadah. Dia merendahkan sedikit badannya, lalu berbisik pelan di samping telinga, “Sembilan tahun udah kelewat, kamu masih takut sama aku kalau di kamar berdua gini, hm? Ada baiknya kita mengulang momen pas kita SMA, kan?”
__ADS_1