
“Za, kamu kenal dua perempuan yang sama ibu mertuamu itu?”
Faiza melongok ke luar. “Itu iparku, My. Adik Mas Ramdan. Satu udah nikah, yang bungsu kuliah semester tujuh.”
Myria urung membuka pintu. Dia menengok ke belakang dengan mata awas. “Kamu nggak pa-pa ada mereka?”
Tanggapan Faiza berbeda jauh dari Myria. Ibu muda itu masih sanggup bersikap tenang. “Nggak pa-pa. Mungkin mereka emang nunggu keponakannya pulang karena kemarin nggak bisa dijenguk juga, kan, di NICU?”
Positif sekali pemikiran Faiza. Padahal, Myria sudah khawatir tragedi di rumah sakit sepekan lalu kembali terjadi. Siapa yang tidak takut jika tubuh yang lemah dapat serangan dari orang yang lebih sehat tanpa bisa membela diri.
Setelah diyakinkan Faiza, Myria setuju untuk turun. Mulutnya terus berzikir lirih meminta perlindungan Sang Illahi agar terhindar dari bahaya.
Dibantu Nyonya Nasita dan Myria turun, Faiza mendatangi tiga orang di teras rumah tersebut. Dia mendekat, sementara Myria berada di belakang jarak satu meter. “Ma, assalamualaikum.”
__ADS_1
Lama sekali ibu mertua menjawab. Wanita berjilbab hitam dengan mata sembab itu masih menatap tajam. Bibirnya terus berkedut ingin memaki Faiza.
Saat menantunya hendak mencium tangan, ibu dari Ramdan itu menepis kasar dan mendorong. “Berani kamu pulang ke rumah ini? Aku tidak rela terima wanita pembawa sial sepertimu. Melihatmu aku muak. Aku benci sekarang! Pergi dari sini! Kamu tidak bisa tinggal di rumah Ramdan!”
Seperti tersambar petir di tengah hujan badai, ucapan ibu mertua membuat Faiza kehilangan nyawa. Dia terpaku beberapa detik di tempat, sebelum akhirnya air mata tumpah ruah.
“Ma … aku minta maaf, Ma.” Faiza kekeh maju dan berusaha menyentuh ibu mertua. Akan tetapi, sikap itu sepertinya justru membawa bahaya lebih besar. Lagi-lagi dia terdorong hingga mundur beberapa langkah.
“Pergi! Kamu bukan menantu lagi di keluarga ini!”
“Bayi itu sama saja. Gara-gara kamu ngidam aneh-aneh tengah malam dengan alasan kemauan anak, Ramdan jadi pergi selamanya. Gara-gara itu, aku kehilangan putraku. Apa bisa maafmu mengembalikan Ramdan? Apa bisa?”
Hujatan dari sang ibu mertua terus memborbardir sehingga tak memberi kesempatan membela diri. Faiza tergagap, tenggorokannya tercekik dan sulit menjawab. Semua perkataan ibu mertua benar-benar membuat luka batinnya makin parah.
__ADS_1
Belum sempat Faiza menanggapi, ibu mertuanya langsung masuk rumah sembari menarik dua putrinya. Pintu dibanting keras hingga mengagetkan sang bayi. Faiza berjalan cepat menghampiri sambil menahan nyeri hebat di perut, dia mengetuk pintu dan meminta belas kasih.
“Ma, ini cucu Mama. Ini anak Mas Ramdan, Ma. Mama buka, Ma.” Gedoran demi gedoran dilayangkan. Sekalipun tangan mulai sakit, Faiza tidak memedulikan itu.
Melihat kondisi Faiza tidak terkendali ditambah tangis bayi yang tak bersalah, hati Myria bersedih. Dia maju dan memeluk Faiza.
“Za, cukup. Anakmu takut,” kata Myria dengan suara bergetar menahan tangis.
“My, anakku juga anggota keluarga ini. Dia berhak tahu keluarga Mas Ramdan.”
Raungan Faiza benar-benar mengoyak batin Myria. Wanita bercadar cokelat itu merangkul Faiza erat sembari memberi dukungan.
“Za, suamimu baru pergi satu minggu lalu. Ibu mertuamu memang belum bisa terima sepenuhnya atas musibah ini. Ayo, ikut aku dulu. Jaga jarak sementara dengan ibu mertua, nanti kalau semua sudah tenang, kamu bisa kemari lagi. Udara di luar makin panas, Za. Anakmu kasihan.”
__ADS_1
Faiza terdiam. Dia menunduk dan melihat putranya yang terus menangis, makin terasa sakitnya. Dia kembali menoleh pada Myria, lalu pindah pada Nyonya Nasita. Melihat ketulusan dua wanita beda usia itu, Faiza menurut dan ikut pergi.
Mas Ramdan, sakit banget, Mas. Kenapa kamu ninggalin aku? Padahal aku nggak punya siapa-sapa lagi. Papa, Mama, kamu, semua pergi dan menyisakan aku sendiri. Apa aku kuat?