
Rival sadar setelah kepergian Rita. Bahwa Rita sangatlah berharga baginya. Iya terus mengingat Rita. Bahkan, bayangan dam halusinasi tentang Rita pun muncul.
"Rita.. kenapa Aku jadi memikirkan anak itu ya?" Pikirnya.
Rival mencoba untuk menghilangkan pikiran itu. Namun, tetap saja tidak bisa. Bayangan Rita selalu muncul.
Untuk mencoba menghilangkan pikiran aneh itu, Rival mencoba bergabung dengan keluarganya. Rival bergabung dengan mereka di meja makan. Rita yang sudah menunggu dari tadi melakukan protes kepada Rival.
"Kak Rival lama banget sih? Kita itu dari tadi nungguin kak Rival.. Aku itu sudah lapar banget dari tadi.." Omel Nadia.
"Iya, iya.. bawel banget sih ini bocil.." Ucap Rival sembari mencubit hidung Nadia.
"Aduh.. sakit tau.." Teriak Nadia merintih.
"Sudah, sudah.. kalian ini seperti anak Kecil saja.." Ucap Helsen.
"Kak Rival ni pa.." Adu Nadia.
"Ya, habisnya Nadia bawel pa.." Protes Rival tidak mau kalah.
"Ya, Aku kan sudah lapar.. lagian kak Rival memang lama kok.." Seru Nadia.
"Kalau lapar kenapa ga makan duluan saja?" Protes Rival lagi.
Melihat tingkah mereka yang seperti anak Kecil, Marta menggelengkan kepala. Ternyata sifat dua bersaudara ini belum berubah. Mereka tetap egois dan seperti anak kecil. Marta pun menegur mereka.
"Rival, Nadia.. sudah, cukup! Kalau kalian begini terus kapan mau makan nya?" Tegur Marta. Rival dan Nadia pun saling pandang.
Dan mereka pun berhenti berdebat dan langsung menyantap makanannya. Rival merasa aneh dengan makanan yang iya makan. Menu makanannya sama, tapi rasanya berbeda tidak seperti biasanya. Rival pun berhenti sejenak karena rasa makanannya tidak sama seperti biasanya.
"Kenapa Rival?" Tanya Helsen yang tiba-tiba melihat Rival.
"Kok rasa makanannya beda ya? Ga seperti biasanya?" Tanya Rival.
__ADS_1
"Ya, iyalah beda.. karena yang masak sekarang itu mama.." Ujar Nadia. Rival terkejut dengan ucapan Nadia.
"Yang masak mama? Loh, bukannya selama ini yang masak memang mama?" Tanya Rival lagi.
"Ya, bukan lah.. selama ini yang masak adalah orang yang kamu usir!" Sungut Nadia.
"Maksudnya Rita? Jadi selama ini yang masak Rita?" Tanya Rival ga percaya.
"Kamu pikir siapa?" Ujar Nadia. Rival menunduk diam. Dan tidak dapat menjawab ucapan Nadia. Nadia berkata lagi.
"Nyesel kan lo sekarang? makanya jadi orang itu jangan belagu.." Sungutnya lagi.
"Sudah-sudah.. ga perlu saling menyalahkan.. bahas Rita nanti saja. Kita makan dulu.." Ucap Helsen akhirnya.
...****************...
Rival sedang duduk di depan teras rumahnya. Iya duduk termenung memikirkan sesuatu. Nadia sang adik, melihat kakaknya yang duduk termenung. Nadia jadi penasaran dengan kakaknya yang duduk termenung. Seperti ada yang sedang dipikirkan olehnya.
Nadia menghampiri kakaknya dan iya pun juga duduk di sampingnya. Nadia menoleh ke wajah Rival lalu memperhatikannya.
"Ada apa kak? Kenapa kakak melamun begitu? Ada yang kakak pikirkan?" Tanya Nadia. Rival menunduk lalu menoleh ke adiknya. Sepertinya Nadia adalah pendengar yang baik untuk kakaknya. Rival pun bercerita tentang apa yang iya pikirkan.
"Kakak lagi memikirkan Rita dik.. kakak merasa bersalah padanya.." Ucap Rival. Nadia senyum-senyum sendiri mendengar pengakuan kakaknya. Ingin sekali Nadia meledek kakaknya, tapi sekarang bukan lah waktu yang tepat untuk bercanda. Nadia pun bertanya.
"Memangnya Rita kenapa kak? Kenapa kakak memikirkannya?" Tanya Nadia.
"Kakak merasa bersalah sama Rita.. kakak pikir, Rita itu seperti Binar.. tapi ternyata dia sangat berbeda jauh dengan Binar. Iya seperti Namira, baik dan lembut. Selama ini Aku salah menilai dia dik.." Jawab Rival.
"Lalu, apa yang ingin kakak lakukan? Apa kakak ingin minta maaf sama Rita atau bagaimana?" Tanya Nadia.
"Iya, kakak ingin minta maaf padanya.." Ucap Rival.
"Memangnya kakak tau rumahnya?" Tanya Nadia. Rival menggeleng dan berkata.
__ADS_1
"Tidak dek.. kakak tidak tau rumah Rita dimana.. selama ini Aku tidak pernah peduli dengan Rita. Yang tau itu mama.." Jawab Rival.
"Gampang kan, tinggal tanya aja sama mama kalau begitu.." Ujar Nadia.
"Kakak malu mau tanya sama mama.. karena kan, kakak menolak mentah-mentah kehadiran Rita.. sampai kakak mengusir Rita dari rumah.. mama sangat menahan Rita waktu itu. Tapi, dengan paksa kakak malah mengusir dia dari rumah.. sekarang kakak malu.." Ucapnya lalu menunduk. Nadia tersenyum mendengar jawaban kakaknya. Nadia pun berkata,
"Kenapa harus malu? Ungkapin rasa bersalah, ga perlu malu.. mama tidak akan meledek kok kak, yang ada mama pasti senang, karena kakak mau melihat kebenaran yang ada.. tanya aja sama mama.. pasti mama kasih tau." Saran Nadia. Rival mengangguk dan mengikuti saran Nadia.
"Iya kamu benar Nadia.. kakak akan mencoba bertanya sama mama.." Ucapnya lagi.
"Nah gitu dong.." Ujar Nadia senang. Nadia sangat bersyukur, akhirnya Rival kembali seperti dulu lagi. Rival yang lemah lembut dan kalem. Ternyata, Rita berhasil mengembalikan keadaan kakaknya seperti dulu lagi. Nadia berharap semoga Rival benar-benar sembuh dari sifat tempramen.
Dan semoga Rival dan Rita cepat dipertemukan. Nadia sangat berharap iya benar-benar dapat melupakan Namira, yang sudah jelas-jelas pergi dari dunia ini. Semoga Rival benar-benar bisa move on dan membuka hatinya untuk orang lain seperti Rita.
...****************...
Rival melihat marta sedang duduk di sofa dengan memandangi laptopnya. Rival pun berjalan mendekati marta. Iya berdiri di dekat mamanya dan memanggil mamanya sambil menundukkan kepalanya.
"Ma.." Panggil Rival. Marta menoleh ke arah Rival. Dan langsung menutup laptopnya. Marta bertanya.
"Rival? Ada apa?" Tanya Marta. Rival tertunduk malu dan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Ma, mama tau alamat rumah Rita ga?" Tanya Rival malu-malu. Marta senyum-senyum sendiri mendengar pertanyaan Rival.
"Ada apa Rival? Kenapa kamu tanya rumah Rita?" Tanya Marta.
"Rival ingin minta maaf sama Rita ma.. Rival merasa bersalah sama Dia." Jawabnya. Mendengar ucapan Rival, Marta merasa lega. Akhirnya Rival mau mengakui kesalahannya terhadap Rita. Iya berharap, semoga ini menjadi pertanda baik untuknya. Marta pun berkata kepada Rival.
"Iya.. pasti tau dong Rival.. bentar ya, mama kasih dulu alamatnya. Ucap Marta. Marta pun beranjak dari duduknya. Kemudian iya berjalan mengambil sesuatu. Dan tak lama iya kembali lagi.
"Ini alamatnya rumah Rita.." Ucap Marta sembari menyodorkan sebuah kertas yang bertuliskan alamat. Rival pun meraih kertas itu.
"Iya ma.. terimakasih ya ma.." Ucap Rival. Marta menjadi lega. Karena akhirnya Rival mau mengakui kebaikan Rita.
__ADS_1