
“Perusahaan Amara Textile buka cabang baru di luar kota. Beberapa perusahaan yang jadi mitra kerjanya diundang ke sana buat jamuan. Lo dateng atau mau nyusuh yang lain?”
Makan siang Angkasa terhenti. Dia menatap Sakti yang baru selesai berucap, tetapi sahabatnya itu masih tetap mengunyah santai.
“Kapan?”
“Pekan depan. Kita masih ada waktu ngerjain yang di sini, trus berangkat. Amara udah kerja sama lama sama kita, nggak enak juga kalau cuma ngirim papan bunga ucapan selamat, kan? Paling nggak, kirim perwakilan kalau menurut gue.”
“Gue butuh waktu buat mikir.”
Respons Angkasa kali ini membuat Sakti sedikit penasaran. “Tumben banget lo pakek mikir segala? Kayak baru kali ini aja perjalanan luar kota.”
Angkasa membuang napas, lalu tangannya menarik jus jeruk untuk diminum. Usai meneguk minuman beberapa kali, dia membalas pertanyaan Sakti. “Akhir-akhir ini gue nggak bisa ninggalin Myria. Jadi soal ini, mungkin ngomong ama dia dulu.”
“Lo berantem?”
Lagi-lagi Angkasa menghela napas hingga membuat Sakti makin percaya dengan pertanyaan tadi. Dia berujar lagi, “Gue nggak nyangka kalau kalian bisa nggak akur. Padahal sama-sama bucin.”
Angkasa tersenyum masam. Dia ganti menarik kentang goreng. “Mana ada rumah tangga mulus kek jalan tol. Risiko punya istri kalau pinter pasti ada aja perdebatan. Dari SMA gue sering berantem sama Myria.”
“Dan lo nggak ngalah?”
“Bukan gue nggak mau ngalah, Bro.” Angkasa menarik napas panjang tiap kali hendak berbicara. Sepertinya, beban di hati begitu penuh hingga perlu ruang lebih banyak untuk bersabar. “Tapi emang kadang emosi nggak bisa kekontrol. Lo juga tahu kalau mood gue ancur, udah kayak nggak inget apa-apa. Jadi debat nggak bisa gue hindari.”
Ganti Sakti yang memijat kening mendengar pengakuan Angkasa. “Susah juga kalau soal itu. Tapi gue rasa Myria juga tahu, lah, kendala lo. Gimana pun juga, cewek tuh ada yang egonya harus dimenangin biar hubungan tetep jalan. Yah, salah nggak salah, lebih baik ngalah aja demi keselamatan.”
Angkasa membisu dan sibuk menyeruput jus jeruk sembari mendengar nasihat Sakti.
“Tapi gue yakin Myria nggak egois-egois amat. Dia paham agama.”
“Agama kadang nggak jalan kalau udah ngedepanin perasaan.”
__ADS_1
Tadi ikut bingung, sekarang Sakti tergelak mendengar kalimat terakhir Angkasa. Dia menebak bahwa sahabatnya memang berada di titik pusing mengendalikan wanita. Bukan hanya istri, mungkin Angkasa repot pula mengendalikan diri agar tidak sampai melukai.
“Gue bantu doa. Ada apa-apa, kalau emang lo ngerasa nggak kuat ngadepin sendiri, gue ada buat lo.”
Satu sudut bibir Angkasa tertarik ke atas mendengar tawaran Sakti. Sahabat sekaligus partner kerjanya itu memang selalu peduli melebihi kepedulian terhadap diri sendiri. “Nggak kebayang kalau lo ninggalin gue nikah.”
Dua pria itu tertawa bersama. Obrolan ringan sampai hal serius selalu menjadi rutinitas mereka selama bertemu. Tak dipungkiri, meski baru dekat saat SMA, Sakti maupun Angkasa telah memiliki chemistry.
***
Pekerjaan dikebut seharian penuh agar cepat pulang. Angkasa sengaja tidak ingin lembur karena dokter menyarankan harus lebih banyak beristirahat dan menghindari lelah berlebih. Dia pamit pada Sakti yang masih terlihat sibuk di ruangannya sendiri.
“Buruan balik. Gue juga nggak mau lo sakit.” Ada perhatian saat mulut bicara.
Akan tetapi, Sakti hanya melirik Angkasa lalu sibuk kembali. “Dikit lagi.”
“Besok masih ada hari.”
“Nggak bisa. Nyokap gue besok balik ke rumah, jadi gue mungkin di kantor cuma setengah hari. Mau jemput ke bandara.”
Sakti menggeleng. “Nyokap doang. Jadi kelar dari bandara, gue nggak bisa ke sini lagi.”
Angkasa manggut-manggut mendengar penjelasan Sakti. Dia tak akan protes apa pun saat sahabatnya sudah berurusan dengan kedua orang tua. Sejak SMA, Angkasa selau tak ingin mengganggu kebersamaan Sakti bersama keluarga.
Selepas mengobrol dan sudah memaksa sedemikian rupa agar Sakti ikut pulang, tetapi kenyataan tetap saja berbeda. Angkasa pulang lebih dahulu dan hanya berpesan pada Sakti untuk hati-hati.
Butik sang istri menjadi tujuan. Angkasa sengaja menjemput Myria meski tidak diminta. Pria itu masuk begitu saja dan mencari keberadaan sang istri.
“My, suamimu, tuh!” Kepala Friska mengedik ke arah pintu utama, di mana keberadaan Angkasa yang sedang menuju belakang terlihat.
Buru-buru Myria berdiri dan menghampiri. “Mau minum apa?” Meski sebenarnya heran karena kemunculan Angkasa, Myria tidak ingin menanyakan itu dahulu. Suaminya pasti lelah, biarkan saja pelayanan sebagai istri dilakukan dan bisa mengobrol nanti saat di rumah.
__ADS_1
“Air dingin.”
Sebotol air mineral dingin keluar dari kulkas dan segera diberikan pada Angkasa. Myria duduk di samping pria itu tanpa bicara apa pun hingga suaminya selesai minum.
“Masih lama? Ayo, balik!”
“Bentar lagi, Ka. Klien kemari lusa, ini tinggal matengin beberapa detail. Nggak enak sama Friska.”
Bibir Angkasa sempat terkatup, tetapi nyatanya tidak lama. Dia justru berteriak, “Friska, gue bawa istri gue balik. Lo keberatan?”
“Kasa, ih!” Myria mencengkeram lengan. “Kasian Friska lagi hamil.”
“Balik aja. Gue juga mau balik. Capek.” Sempat menengok saat Angkasa berteriak, sekarang Friska langsung berkemas. "My, pulang. Ntar kukirim ke e-mail. Cek di rumah, ya."
"A-ah, ya."
Sepanjang perjalanan pulang, Myria terus cemberut. Namun sayangnya, wajah cemberutnya tidak bisa dilihat sang suami lantaran Angkasa sibuk menyetir dan jarang menoleh.
Setelah tiba dan masuk rumah, pasangan suami istri itu langsung mandi bersama. Tanpa drama atau adu mulut, Myria akan selalu menemani suaminya berendam atau mandi di bawah shower.
“Aku ada urusan ke luar kota minggu depan. Kamu mau ikut, Sayang?"
Tangan Myria yang sedang menggosok punggung Angkasa berhenti. "Tumben nawarin," katanya lalu melanjutkan gerakan.
Garis bibir Angkasa membentuk lengkungan. Tanpa menoleh dan terus menikmati pelayanan istrinya, dia bicara pelan, "Biar kamu bisa healing juga. Kita udah terlalu stres akhir-akhir ini."
"Boleh." Myria menjawab antusias, bahkan tanpa sadar memeluk dari belakang.
Angkasa nyaris terhuyung maju dan meminum air di bak mandi. "Kayaknya kamu masih punya banyak tenaga. Ayo, lakuin hal menyenangkan."
"Hah? Eh? Kasa!" Myria gelagapan saat Angkasa berdiri dan mengangkatnya dari bak mandi. Tanpa bertanya, tentu saja dia tahu ke mana akan dibawa.
__ADS_1
"Kasa, mau magrib!" kata Myria setengah panik. Dia ingin turun dari gendongan, tetapi takut jatuh pula jika banyak bergerak.
Angkasa menyeringai tipis lalu membanting tubuh Myria ke ranjang. "Setengah jam cukup."