
“Jadi beneran, Tante, kalau Friska dilamar Pak Zayyan?” Tak cukup hanya penjelasan singkat Friska selama perjalanan tadi, tiba di rumah, Myria masih menanyakan hal tersebut pada ibunda Friska.
Wanita satu anak itu mengangguk sembari menuang lauk ke piring. “Iya. Tante juga nggak nyangka. Friska nggak pernah ngomong apa-apa.”
Tatapan Myria beralih pada Friska. Sahabatnya itu justru menatap balik dengan satu alis terangkat. “Apa?” kata Friska dengan nada sengit. Padahal, Myria tidak bertanya apa pun. “Aku nggak pacaran sama beliau, My. Jangankan kamu, aku juga kaget Pak Zayyan tiba-tiba sampek rumah. Selama ini cuma canda doang muji-muji beliau, nggak taunya malah gini.”
“Terus jawabanmu apa?”
Friska mengangkat bahu tak acuh. “Aku suruh pulang. Perlu istikarah dulu nggak, sih? Masa main terima aja? Nggak, deh! Aku pengin nikah sekali seumur hidup dan itu nggak bentar.”
Tak ada yang salah dari jawaban Friska. Myria mengangguk-angguk setuju, lalu mulai menyuap makanan yang sejak tadi terhidang. Ada kenangan terlintas tiap menyantap masakan ibu sahabatnya itu. Citarasa yang melekat di lidah, membangunkan memori tentang mendiang Nyonya Kinara.
Sibuk mengobrol selama di kediaman Friska, Myria tidak menyadari jam sudah menunjuk angka sembilan. Bunyi bel mengejutkan semua orang, sehingga salah satu dari tiga wanita itu menuju pintu.
“Malam, Tante.” Angkasa menyapa begitu pintu terbuka seiring salam terjawab. Pria itu menyampaikan maksud kedatangan untuk menjemput sang istri.
“Masuk, Nak Kasa.”
“Enggak perlu, Tan. Udah malam soalnya. Tolong panggilkan Myria aja.”
“Tunggu di sini, ya.”
Senyum terukir di bibir seiring kepala mengangguk. Angkasa memilih duduk di kursi depan selama ibu Friska memanggil Myria.
Tak sampai lima menit, Myria muncul bersama Friska. Wanita itu segera menghampiri Angkasa yang telah menunggu.
“Kami pamit, ya, Fris, Tante. Makasih buat makan malamnya,” kata Myria dan diikuti anggukan sopan oleh Angkasa.
__ADS_1
Usai pamit serta berpelukan, Myria segera meninggalkan rumah. Mobil melaju perlahan, sementara Angkasa membuntuti di belakang dengan sepeda motor.
Tiba di apartemen, dua manusia itu segera membersihkan diri. Tidak seperti hari-hari biasa lebih banyak mandi bersama, saat ini mereka mandi bergantian karena hari makin larut. Sembari menunggu Angkasa selesai, Myria memanaskan air untuk membuat susu.
“Abisin, terus tidur.”
Gelas dari tangan sang istri diambil, Angkasa duduk di pinggiran ranjang. Tangannya menepuk tempat sebelah agar Myria bergabung.
“Dari jam berapa di rumah Friska?” Pertanyaan keluar saat gelas pindah ke tangan Angkasa.
“Jam empat.”
Setengah gelas susu telah habis diteguk, Angkasa menyodorkan pada Myria untuk meminum sisanya. Sang istri dengan sukarela menerima dan menghabiskan. “Lama amat. Ngobrolin apa?”
“Friska mau lamaran.”
“Serius?” Ekspresi Angkasa berubah cepat. “Sama siapa? Bentar lagi nikah berarti dia? Padahal mau aku comblangin ma Sakti.”
Kening Angkasa mengerut mendengar nama pria lain disebut. Tadi membahas tentang Friska, mengapa sekarang berganti Pak Zayyan? Daripada benak bertanya-tanya, Angkasa mengangguk.
“Nah, Pak Zayyan itu yang ngelamar Friska.”
Tambah lagi kekagetan Angkasa. Pupil matanya membesar. “Kamu serius, Sayang? Seumuran Pak Zayyan harusnya udah nikah lama, kan?”
“Emang.” Myria datang lalu duduk di pangkuan Angkasa. Dua tangannya mengalung di leher, sementara bibir melanjutkan cerita, “Kata Friska udah duda. Dari waktu aku balik ke sini, udah duda, kok.”
Mulut Angkasa menggumam kata ‘oh’ cukup panjang. Selepas itu, tak ada lagi yang ditanyakan. Fokus Angkasa telah berganti pada sang istri yang duduk manja di pangkuan.
__ADS_1
“Mau ibadah nggak?” Kalimat yang terucap sudah berubah topik dalam sekejap.
Myria memukul dada Angkasa perlahan. “Kemarin udah.”
“Tapi hari ini belum.” Bibir merayu, tetapi tangan tak tinggal diam. Tali lingerie di atas bahu itu sengaja ditarik ke bawah secara pelan penuh perasaan.
“Kasa!” Buru-buru Myria turun dari pangkuan karena perlu menyelamatkan diri. Akan tetapi, bukan Angkasa kalau diam dan terima kelakuan istrinya.
***
Berbeda dari Myria yang berwajah ceria ketika memulai pekerjaan, Friska justru datang dengan wajah kusut. Keadaan itu didapati Myria saat Friska melepas masker.
“Kenapa bete banget mukamu, Fris. PMS? Nggak enak badan? Pulang, gih, kalau sakit.”
Bukan segera menanggapi omongan Myria, Friska justru menjatuhkan badan di sofa dengan posisi telungkup.
“Friska ….” Myria menggoyang-goyang kaki sahabatnya.
Tubuh berbalut rok hitam dipadu tunik putih bertali pinggang itu berputar. Friska memeluk bantal sofa sambil rebahan. Dua matanya menatap sendu dan berkaca-kaca pada Myria yang masih berdiri. “My … Pak Zayyan nanti ke rumah, aku harus jawab apa? Aku takut, My.”
.
......................
Kak, udah mulai bosen kah?
Eehehe, aku belum bisa bikin bab bucin akut soalnya. Jadi ya tipis-tipis gini aja kehidupan Myria ma Angkasa sebelum ending.
__ADS_1
Gak lama, kok, bentar lagi timit ini cerita. Moga ttep bisa stay smpek akhir, ya 😊
Lope banyak-banyak❤️