Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Ga ada kabar


__ADS_3

Sudah tiga hari Namira tidak lagi menjenguk Rival. Rival sangat khawatir kepada Namira. Karena tidak ada kabar darinya. Nadia pun pergi ke kamar Rival untuk menjenguk sang kakak.


"Loh.. kenapa kakak belum tidur?" Tanya Nadia.


"Enggak dek.. Kakak lagi kepikiran sama Namira.. sudah tiga hari ini dia ga ada kabar.." Ucap Rival.


"Kenapa kakak ga coba menghubungi Namira kak?" Tanya Nadia.


"Ya, itu dia dek.. setiap kali kakak menghubungi Namira.. Namira selalu sibuk.. ada apa dengan dia ya?" pikir Rival.


Nadia tidak menjawab perkataan Rival. Nadia juga berfikir ada apa dengan Namira. Kemudian, Nadia pun teringat kejadian di rumah sakit. Yaitu dimana Namira sedang dimaki oleh papanya. Dan terakhir di rumah sakit, papanya sedang berbincang-bincang dengan Namira. Entah apa yang sedang mereka omongin waktu itu. Karena waktu Nadia tidak sempat mendengar kata-kata mereka.


"Apa ini ada hubungannya dengan papa?" Gumam Nadia. Rival pun mengagetkan Nadia yang sedang bergumam.


"Hei.. lagi mikirin apa sih?" Tanya Rival. Dan Nadia pun terkejut.


"Enggak kok kak.. Aku ga lagi mikirin apa-apa.. Oh iya.. kakak istirahat ya, biar keadaannya makin fit.. Aku mau ke kamar dulu.." Ujar Nadia.


"Iya dek.." Ucap Rival. Nadia pun keluar dari kamar Rival dan mengucapkan selamat tidur.


Nadia berbohong kepada Rival. Sebenarnya Nadia tidak langsung ke kamarnya. Iya terlebih dahulu menghampiri ruangan kerja papanya. Ada hal yang ingin Nadia tanyakan kepada papanya. Nadia pun masuk ke ruang kerja papanya tanpa ketuk pintu dulu. Sehingga membuat papanya terkejut. Dan menegur Nadia.


"Nadia, kamu bisa ga kalau masuk itu ketuk pintu dulu.. sudah berkali-kali papa peringatkan kamu.."Ucap Helsen.


" Maaf pa.. Nadia lupa.." Jawab Nadia.


"Kamu bukan lupa, tapi kebiasaan.." Kata Helsen tegas.


"Tapi, ada hal lebih penting dari pada ketuk pintu pa.." Ujar Nadia.


"Ada hal penting apa si Nadia?" Tanya Helsen.


"Pa.. kenapa si Namira sudah tiga hari ini ga ada kabar?" Tanya Nadia.


"Kamu itu tanya apa sih? Emang papa ini siapanya Namira? Ya, mana papa tau?" Ujar Helsen sembari menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Ya, memang benar papa bukan siapa-siapa Namira.. tapi, ini ada hubungannya sama papa kan? Makanya Namira ga ada kabar.." Tuduh Nadia.


"Nadia.. kamu bicara apa sih? Kamu itu ngelantur saja bicaranya.." Ujar Helsen sedikit kesal.


"Pa.. sudah deh jujur aja.. papa kan yang melarang Namira untuk menjenguk kak Rival? Ingat pa.. kak Rival itu masih dalam tahap pemilihan.. Kenapa papa tega menjauhkan kak Rival dari Namira?" Tuduh Nadia lagi.


"Begini kalau kamu sering bergaul dengan Namira.. ngelawan aja sukanya sama orang tua.." Sungut Helsen.


"Pa.. Aku itu kasian sama kak Rival.. Semangat hidupnya kak Rival itu Namira.. kenapa sih papa tega menjauhkan dia dari kak Rival?" Ujar Nadia membela Namira.


"Cukup Nadia! Kalau kamu mau silahkan ke rumahnya Namira.." Ujar Helsen. Nadia rasa percuma berbicara dengan papanya, karena mau memberontak bagaimanapun papanya akan tetap sama jawabannya.


Sementara Rival, iya tetap tidak dapat tidur. Karena Namira seperti menghilang. Akhirnya daripada penasaran, Rival pun nekat keluar rumah. Meskipun kondisinya masih belum stabil. Rival ingin pergi ke rumah Namira. Iya ingin menemui Namira.


.


.


.


"Loh.. kak Rival, ngapain dia kesini?" Pikir Namira. Akhirnya, Namira pun keluar rumah juga menemui Rival.


.


.


.


"Kak Rival, ngapain kakak kesini?" Tanya Namira.


"Namira, Bolehkah Aku berbicara sesuatu sama kamu?" Tanya Rival. Namira pun mengangguk dan Namira pun membawa Rival ke tempat yang aman. Yaitu tempat dimana mereka bermain di waktu kecil dulu.


"Ada apa sih kak? Kakak kan lagi masa pemulihan.. kenapa kakak nekat keluar rumah? Kalau sakit lagi bagaimana?" Protes Namira.


"Namira.. kamu selama tiga hari ini kemana aja? Kenapa ga ada kabar? Dan kenapa setiap kali Aku menghubungi kamu selalu tidak bisa?" Tanya Rival. Namira pun menunduk. Iya tidak tau apa yang ingin iya jelaskan kepada Rival. Lalu Namira pun menjawab sekenanya.

__ADS_1


"Maaf kak.. Sekarang kan Aku sudah kerja.. dan kerjaan Aku sibuk banget.. jadi Aku jarang buka hp." Jawabnya.


"Sibuk?" Tanya Rival. Namira pun mengangguk.


"Iya.. Aku minta maaf ya?" Ujar Namira.


"Yakin kamu sibuk? Apa ga yang lain yang membuat kamu tidak ada kabar?" Tanya Rival.


"Ga ada kak.. Aku memang sibuk dengan pekerjaan Aku.. Aku harus fokus sama kerjaan Aku sekarang.." Ucap Namira.


Kemudian, Rival pun memegang kedua tangan Namira. Rival menatap wajah Namira dengan tatapan yang sangat dalam.


"Namira.. apa kamu masih ada rasa sama Aku?" Tanya Rival.


"Maksudnya?" Tanya Namira tidak mengerti dengan ucapan Rival.


"Namira.. Apa kamu masih ada perasaan cinta sama Aku? Jujur, kalau Aku sendiri tetap mencintai kamu Namira.. Aku belum bisa melupakan kamu.." Ujar Rival. Namira pun menghela nafas. Iya hanya diam dan menatap wajah Rival. Rival yang penasaran dengan jawaban Namira pun memaksa Namira untuk menjawab.


"Kak, kalau Aku jujur.. Iya, Aku masih memiliki perasaan cinta sama kakak.. Aku ga bisa melupakan perasaan ini, sulit rasanya bagi Aku.." Ujar Namira.


"Benarkah begitu Namira?" Tanya Rival ingin memastikan. Namira pun mengangguk lalu menjawab.


"Iya kak.. tapi, kita masih ingat kan dengan prinsip kita?" Tanya Namira.


"Iya, Aku ingat Namira.. tapi Namira.. Aku siap kok untuk masuk ke dalam agamamu.. belajar lebih dalam tentang agamamu.. Apa pun itu demi kamu.." Pengakuan Rival.


"Jangan kak.. jangan tinggalkan agama kakak hanya karena Aku.. Maaf, Aku tidak melarang kakak untuk pindah ke agama ku.. Aku hanya ingin, jika kakak ingin masuk ke agamaku, itu hanya karena Allah semata kak.. seorang ingin menjadi mualaf, itu berdasar keyakinan hatinya.. meyakini Tuhan yang Aku cintai dan Aku percaya.. Bukan karena Aku, karena Aku hanya manusia biasa.. Maaf kak.. Aku memang mencintai kakak, tapi Aku ga bisa.." Ujar Namira.


"Namira.. apa yang membuat kamu seperti ini?" Tanya Rival.


"Kesadaran.. Aku sadar, kalau Aku memang bukan untuk kakak.. Aku sadar batasan Aku.. Asal kakak tau, Aku juga ga ingin om Helsen tambah membenci Aku.. Aku ga ingin jika terus berdebat dengan Ayahku juga.. Jujur, Aku sudah lelah.. Aku capek.." Ucap Namira.


"Namira.." Rival tidak dapat berkata apa-apa lagi.


"Kak.. Aku mohon, kembalilah kepada mereka.. karena mereka hanya ingin kakak satu keyakinan dengan pasangan kakak.." Ucap Namira.

__ADS_1


__ADS_2