Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Semua salahmu Namira


__ADS_3

"Mas, Tunggu mas.." Panggil Namira sembari mengejar Malik yang sedang menggendong seorang bayi. Malik pun menghentikan langkahnya dan berbalik badan menghadap Namira. Malik mengulas sebuah senyuman manis terhadap Namira. Dan Malik pun berkata.


"Sayang.. mungkin sudah saatnya Aku harus pamit sama kamu.. Dan ijinkan Aku untuk membawa anak kita.." Ucap Malik.


"Kamu mau kemana mas?" Tanya Namira bingung.


"Namira, istriku... Aku akan pergi ke suatu tempat yang sangat jauh bersama anak kita.. Jangan ikuti Aku ya.. masa depanmu masih panjang, dan berbahagialah walaupun tanpa Aku.." Pesan Malik.


"Mas, kalau kamu pergi.. Aku sama siapa? Kamu tega membiarkan Aku sendirian?" Ujar Namira.


"Sayang.. sebelum kamu meraih kebahagiaan, Aku janji akan selalu ada di sampingmu.. Aku tidak akan jauh, Aku selalu ada disini buat kamu.." Ucap Malik sembari menyentuh dada Namira. Namira melihat tangan suaminya yang menyentuh dadanya. Namira pun tersenyum dan mengangguk.


"Baik mas.. kalau itu sudah takdirmu, Aku akan terima, insha Allah Aku ikhlas mas.. pergilah! Tapi janji ya, temui Aku dalam mimpi.." Jawab Namira akhirnya. Malik kembali tersenyum kepada istrinya itu.


Malik pun perlahan-lahan menjauh dan perlahan-lahan genggaman tangannya mulai terlepas. Namira hanya memandangi suaminya yang semakin menjauh.


.


.


.


Namira mulai membuka matanya secara perlahan. Namira meringis kesakitan sembari menyentuh kepalanya. Perlahan, penglihatan Namira semakin jelas. Namira melihat sekeliling ruangan yang terlihat aneh. Namira juga melihat ayah dan ibunya sedang berdiri di sampingnya.


"Namira, kamu sudah sadar nak?" Tanya Ibu Namira.


"Alhamdulillah.. akhirnya kamu sadar juga.." Ucap ayah Namira sembari mengucap syukur.


"Aku ada dimana?" Tanya Namira bingung.


"Kamu sedang berada di rumah sakit nak.. kamu mengalami kecelakaan.." Kata ibu Namira. Namira pun kembali teringat dengan peristiwa yang terjadi kepada dirinya dan suaminya. Namira tidak melihat suaminya ada di sisinya. Iya pun bertanya kepada Ayah dan Ibunya.


"Malik dimana?" Tanya Namira. Ayah dan Ibu Namira terlihat diam. Mereka bingung harus menjawab apa. Ibu Namira pun mencoba untuk memberikan alasan yang tepat kepada Namira.


"Malik ada Namira.. dia sedang istirahat.." Jawab Ibunya.


"Malik tidak apa-apa kan Bu? Tidak terjadi apa-apa padanya kan?" Tanya Namira panik.

__ADS_1


"Enggak sayang.. semuanya baik-baik saja.. kamu tenang ya.." Ucap Ibunya.


Namira pun melirik bagian perutnya yang sudah rata. Namira kembali terkejut dan panik melihat perutnya yang rata.


"Bu.. perut Aku kemana? Kenapa perutku rata?" Tanya Namira sembari meraba perutnya.


"Tenang Namira.. bayimu sudah lahir.. hanya saja sekarang masih ada di suatu ruangan.. kamu tenang ya, istirahat.. jangan terlalu banyak pikiran.." Ucap Ibu Namira.


"Benar kan, mereka ga apa-apa kan bu.. Ibu ga sedang menyembunyikan sesuatu kan?" Tanya Namira masih khawatir.


"Iya Namira.. semuanya baik-baik saja.. sekarang, kamu istirahat ya nak.." Ujar Ibunya.


...****************...


"Ga mungkin, ga mungkin ini terjadi kepada anak dan cucuku.. hiks, hiks.." Tangis Ibu Malik pecah. Saat dokter menyatakan bahwa Malik tidak dapat diselamatkan.


"Sabar ma..tenang ya.." Ujar suaminya sembari mencoba menenangkan istrinya.


"Bagaimana Aku bisa tenang pa.. Malik adalah anak kita satu-satunya.. sekarang dia pergi ninggalin kita semua pa.." Lirihnya.


"Ma.. bangun ma.." Seru papa Malik sembari menepuk pipi istrinya yang tiba-tiba tidak sadarkan diri. Imam papanya Malik pun menggotong Sintia yang tidak sadarkan diri.


.


.


"Sabar ma.. sabar.. semuanya sudah kehendak yang di atas.." Ucapnya.


"Ga bisa pa.. mama ga bisa kalau Malik pergi.. Mama ingin Malik.." Ucap Sintia lirih.


"Iya papa juga tau.. papa juga kehilangan Malik ma.. papa juga sedih dengan kepergian Malik.." Ucapnya.


.


.


Setelah sedikit lebih tenang, Imam pun mengajak Sintia untuk ke ruangannya Namira. Sintia melihat ke arah Imam. Sintia pun mengernyitkan dahi. Dan raut wajahnya sulit ditebak. Sintia pun berkata.

__ADS_1


"Namira? Perempuan pembawa sial itu?" Sungut Sintia.


"Astaghfirullahalazim ma.. kenapa mama bicara seperti itu?" Ujar Imam.


"Benarkan, apa yang Aku bilang? Namira memang pembawa sial. Seandainya Malik ga pergi bersama Namira, mungkin kecelakaan itu ga akan terjadi pa.. Mungkin, Malik masih hidup sekarang.." Seru Sintia lagi.


"Jangan bicara seperti itu ma.. Namira itu menantu kita.. Semuanya sudah takdir ma.." Ujar Imam menenangkan.


"Sampai kapanpun Aku ga akan pernah mau memaafkan Namira. Aku ga sudi melihatnya. Tolong, jangan paksa Aku untuk bisa berdamai dengan Namira.." Sumpah Sintia. Imam hanya menggelengkan kepala. Imam berusaha mengerti dengan kondisi Sintia saat ini. Mungkin, Sintia syok dengan peristiwa ini.


"Iya sudah.. sekarang kamu istirahat ya ma.. tenangkan pikiran kamu dulu ya.. jangan banyak pikiran.." Ucap Imam akhirnya.


...****************...


Acara pemakaman pun telah selesai. Orang-orang yang menghadiri acara pemakaman berpamitan pulang satu-persatu.


Imam mengucapkan terimakasih kepada peziarah. Karena telah membantu acara pemakaman anaknya sampai selesai. Sementara Sintia, Iya tidak dapat berkata apa-apa lagi. Sintia masih larut dalam kesedihan. Sintia hanya bisa mengelus batu nisan yang bertuliskan nama Malik. Air bening terus saja mengalir deras tak terbendung.


"Malik, kenapa kamu pergi secepat ini nak? Malik ga sayang mama? hiks hiks hiks.." Lirihnya. Imam pun memegang kedua pundak istrinya. Imam berusaha menenangkan Sintia lagi.


"Ma.. ikhlaskan kepergian Malik ya ma.. Doakan kepergiannya.. Malik dan cucu kita sudah tenang di alam sana.." Ujar Imam. Sintia tidak menjawab perkataan suaminya itu. Sintia tetap saja memandangi batu nisan yang tertancap di atas makam anaknya.


.


.


Tak lama, terlihat kedua orang tua Namira datang ke makam menantunya. Imam menyambut baik kedatangan mereka. Hanifah juga bersedih melihat dia batu nisan tertancap rapi di atas makam Malik dan cucunya.


"Assalamu'alaikum.." Ucap Abdullah kepada mereka. Sintia berhenti menangis sejenak. Iya mendongak ke atas dan melihat siapa yang datang. Raut wajah Sintia tiba-tiba menjadi memerah. Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya. Sintia pun bangkit dari duduknya sembari menatap mereka tajam. Dan Sintia pun berkata.


"Untuk apa kalian kesini?" Ujarnya dengan nada penuh amarah.


"Ibu.. kami kesini untuk ikut ziarah ke makam menantu kami.. maaf jika kami baru datang.. karena kami harus menjaga Namira di rumah sakit.." Ucap Abdullah.


"Saya tidak butuh kedatangan kalian disini!" Sungut Sintia.


"Ma.. jangan bicara seperti itu.. istighfar.." Seru Imam.

__ADS_1


"Mbak.. Ada apa denganmu? Kami kesini dengan baik-baik.." Ujar Hanifah.


"Kamu masih tanya Hanifah? Anak saya meninggal, itu gara-gara anak kamu Namira! Seandainya Malik tidak pergi dengannya.. mungkin Malik masih hidup sampai sekarang!" Teriak Sintia.


__ADS_2