
Karena kemarin Namira dan Malik berkunjung ke rumah Sinta dan Imam, sekarang giliran mereka untuk berkunjung ke rumah Abdullah dan Hanifah. Mereka menyambut kedatangan Namira dan Abdullah dengan senang hati. Terutama Kayla. Kayla merasa kangen dengan kakaknya Namira.
"Namira.. bagaimana sekarang keadaan kamu nak?" Tanya Hanifah.
"Alhamdulillah buk.. keadaan Aku sudah membaik.." Jawab Namira.
"Syukur alhamdulillah.. Ibu senang mendengarnya.." Ucap Hanifah.
"Namira, Malik.. karena kalian sudah menikah.. alangkah baiknya jika kalian cepat-cepat memiliki keturunan.. jangan ditunda-tunda terus untuk memiliki keturunan.. Ayah dan Ibumu sudah semakin tua.." Ujar Abdullah. Lagi-lagi, Namira dan Malik saling pandang.
Bagaimana mereka bisa memiliki keturunan, sementara malam pertama saja belum pernah.
"Tapi yah.. usia pernikahan kita kan masih satu bulan.. masak iya sih.. langsung memiliki keturunan begitu saja.. memiliki keturunan itu kan perlu banyak pertimbangan Ayah, ibu.." Ujar Namira.
"Namira.. sampai kapan? Kalau begini terus, kalian ga akan selesai dalam memikirkan pertimbangan-pertimbangan yang lain.." Ujar Abdullah.
Mereka pun terdiam. Namira dan Malik saling curi-curi pandang. Dan saling memberikan kode.
.
.
.
Sepulang dari rumah orang tuanya, Namira dan Malik dibuat galau oleh permintaan mereka. Dan orang tua Namira pun juga meminta keturunan dari mereka.
"Namira.. ini bagaimana?" Tanya Malik.
.
"Aku juga ga tau kak.. bagaimana ini.." Ucap Namira.
"Kalau begitu.. kita turuti saja permintaan mereka. Biar ga tanya-tanya terus.." Ujar Malik.
Namira pun membelalakkan matanya yang bulat besar. Iya terkejut ketika Malik meminta hal itu.
__ADS_1
"Tapi kak.." Ucap Namira ingin menolak.
"Sudahlah.. lagian kita sudah menikah.. ga ada salahnya kan?" Ucap Malik.
"Aduh.. bagaimana ini.." Gumam Namira sembari meringis. Seperti orang yang ingin nolak.
"Namira.. kalau kita buat sekarang bagaimana?" Ujar Malik.
"Kamu udah gila ya kak.. Kenapa buru-buru sih.." Ucap Namira.
"Namira.. kita kan sudah suami istri.. halal kan?" Ucap Malik. Namira pun mengangguk ragu.
"Iya halal sih.. emangnya kakak yakin, kita mau membuat cucu untuk mereka? Berati kita harus anu dulu dong.." Ujar Namira sembari mempertemukan kedua tangannya. Malik pun tersenyum dengan tingkah istrinya yang lucu.
"Kamu ini lucu ya.. ya, iyalah kita melakukan itu dulu.. kalau ga melakukan itu mana mungkin jadi cucu.." Ujar Malik.
Melihat tingkah lucu Namira, Iya teringat kembali dengan Laura. tingkah Laura yang lucu sama persis seperti Namira.
Namira pun mengangguk paham. Iya pun setuju dengan Malik. Tapi, Namira masih malu-malu. Untuk melakukan itu dengan Malik.
Entah kenapa, jantung Namira dan Malik berdegup sangat kencang. Seperti ada sebuah magnet yang menarik mereka. Perlahan, Malik pun mulai mengelus rambut Namira lalu Malik pun mengelus wajah Namira hingga menuju ke dagu.
Jantung Namira merasa seperti tidak tertahan lagi. Nafasnya pun kembang kempis. Iya sangat gugup. Entah apa yang dirasakan oleh Namira. Kenapa Namira rasanya ingin pasrah saja ketika Malik melakukan itu. Dan Malik pun juga demikian. Iya juga merasakan apa yang Namira rasakan.
Malik pun mulai mendaratkan sebuah ciuman di bibir Namira. Namira pun mulai memejamkan matanya. Entah apa yang dirasakan oleh keduanya saat itu mereka juga tidak tau.
Dan mereka pun mulai melakukan malam pertama saat itu. Setelah selesai malam pertemuan mereka, entah apa yang dirasakan oleh keduanya. Namira merasa lebih rileks dan juga Malik, iya merasa lebih rileks setelah selesai melakukan malam pertama mereka.
Kemudian Malik pun meminta maaf kepada Namira. Karena telah khilaf melakukan itu.
"Namira.. Aku minta maaf ya.. Aku ga sengaja.. Aku khilaf.." Ujar Malik panik, takut Namira marah.
"Ga sengaja kak? Jadi dari tadi kakak ga sadar?" Tanya Namira. Malik pun bingung harus jawab apa.
...****************...
__ADS_1
Pagi harinya, Namira pun mulai menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Dan Malik juga menikmati sarapan yang disediakan oleh Namira.
Malik masih tidak enak hati dengan Namira karena perbuatannya semalam. Malik pun meminta maaf lagi kepada Namira. Dan Namira pun tersenyum.
"Namira.. Aku minta maaf ya.. Aku beneran tidak sengaja melakukan itu, Aku khilaf.." Ujar Malik.
"Kakak ini ngomong apa si kak? kita ini kan sudah menjadi suami istri.. ya itu hak kakak melakukan itu.. dengan begitu, Aku menjadi istri seutuhnya.." Jawab Namira. Mendengar istri seutuhnya, entah kenapa Malik menjadi senang.
Ini semua karena desakan dari kedua orang tuanya. Kalau bukan desakan ingin cucu, mungkin mereka tidak akan melakukan itu tadi malam.
Entah kenapa perasaan Namira merasa aneh lagi. Namira pun merasa senang dan nyaman saat berada di dekat Malik. Namira pun memandangi Malik yang sedang makan. Namira menyadari, ternyata Malik ganteng juga jika di pandang. Apalagi menggunakan seragam dokter seperti itu. Namira menjadi senyum-senyum sendiri.
Rival yang menyadari bahwa Namira sedang senyum-senyum sendiri, akhirnya Malik mengejutkan Namira dengan melambaikan tangannya di depan wajah Namira.
"Namira.. kamu kenapa? Kok bengong gitu?" Tanya Malik. Namira pun terkejut dan sangat gugup. Serta menjadi salah tingkah.
"Oh.. enggak kok kak.. Aku ga apa-apa.. kakak mau nambah lagi?" Tanya Namira salah tingkah.
"Oh.. enggak.. Aku udah kenyang Namira.." Ujar Malik.
Kemudian Namira pun melihat Malik agak belepotan makanan di bibir Malik. Dan Namira pun membersihkan sisa makanan yang ada di bibir Malik itu secara refleks.
"Maaf kak.. bibir kakak sedikit belepotan.. Aku minta maaf ya.. kalau Aku lancang.." Ujar Namira. Malik pun tertegun dengan perhatian kecil Namira. Lagi-lagi iya teringat akan perhatian Laura yang mirip. Tapi, kali ini pandangan Malik berbeda terhadap Namira. Iya bukan melihat Laura, tapi iya melihat Namira.
Entah kenapa perasaan Malik saat ini ga karuan ketika berada di dekat Namira. Jantungnya berdegup kencang. Dan seakan tidak dapat terkontrol. Malik pun terkejut melihat Namira.
"Aku minta maaf ya kak.." Ujar Namira sekali lagi. Malik pun tersenyum kepada Namira. Iya refleks memegang tangan Namira.
"Ga apa-apa sayang.." Ucap Malik sontak. Namira tambah gugup ketika Iya memanggil dirinya sayang. Entah kenapa hatinya merasa senang dengan panggilan Malik terhadap dirinya. Namira pun tersenyum. Iya tidak dapat berkata apa-apa kepada Malik. Hanya salah tingkah yang iya lakukan.
Selesai sarapan, Malik dan Namira pun berangkat kerja bersama. Malik mengantar Namira sampai depan kantornya.
"Oh iya.. nanti kamu pulang jam berapa? Biar Aku jemput.." Tanya Malik.
"Aku pulang sore kak.. sekitar jam tiga.. makasih ya.. sudah mau nganterin.." Ucap Namira.
__ADS_1
Malik pun segera turun terlebih dahulu dari mobilnya. kemudian, iya membukakan pintu mobil untuk Namira. Tak lupa, Namira mencium tangan Malik. sebagai tanda hormat kepada suaminya.