
“Sayang, udah, ya. Aku, kan, nggak ngapa-ngapain. Aku juga nggak nanggepin, kan? Jangan ngambek mulu. Please ….”
Sakti menahan tawa melihat dan mendengar tingkah Angkasa. Sahabatnya itu sejak keluar dari gedung acara, belum juga mampu meluluhkan hati Myria yang sedang merajuk karena terbakar cemburu.
Pikiran Sakti mengingat perjamuan beberapa menit lalu, di mana memang ada banyak perempuan yang datang mendekat dan bersikap berlebihan sekalipun Myria terus menempel pada Angkasa. Orang bilang, ada saat perasaan menutup logika, sepertinya para wanita yang datang bergantian itu contoh nyata bagi Sakti.
Tak hanya Angkasa, dia sendiri pun lebih banyak digoda lantaran masih single. Akan tetapi, Sakti menanggapi tanpa keseriusan sedikit pun.
“Suruh tidur di luar aja, My.” Bukannya membela Angkasa, Sakti justru mengompori. “Biar sekalian kasih hukuman sama suami lo ini.”
Angkasa yang ada di belakang langsung menendang kursi yang diduduki Sakti. Wajahnya memberengut tanpa senyum sedikit pun. “Mumpung gue kesel, kita duel aja gimana.”
Setelah menahan tawa sejak tadi, Sakti tergelak juga akhirnya. Dia membalas tatapan Angkasa melalui spion di atas kepala. “Sabar, Bro.”
“Nggak bisa sabar gue kalau sama lo.”
Sakti tertawa lagi. Kemudian, dia fokus mengemudi untuk kembali ke hotel. Biarkan saja urusan suami istri yang ada di belakang terus berlanjut atau selesai, dia cukup jadi penyimak.
Sementara itu, melihat Sakti dan Angkasa berdebat, Myria justru memilih tidur. Diabaikannya Angkasa yang terus berusaha membela diri.
“Bantuin gue buka pintu,” kata Angkasa kala Sakti turun lebih dahulu setelah tiba di basement.
Sahabat yang hendak menutup pintu depan itu berhenti sejenak, lalu membuang napas. Sakti lakukan permintaan Angkasa tanpa berpikir terlalu banyak.
“Bangunin aja nggak bisa?” Pria berjas navy itu bertanya saat tahu Angkasa hendak menggendong Myria.
__ADS_1
“Nggak usahlah. Dia kadang kalau tidur emang gini.” Angkasa berucap lirih agar tidak membangunkan Mryia. Dia lantas berjalan lebih dahulu menuju lobi hotel dan harus segera ke kamar.
“Bisa lo?” Perhatian Sakti tak cukup hanya di basement, tetapi lanjut di dalam lift menuju kamar. Dia berada di belakang sahabatnya dengan penuh kewaspadaan.
Angkasa mengangguk dan melenggang menuju kamar begitu lift terbuka. “Bantu gue ambilin kartu kamar di saku.”
Myria terkesan merepotkan bagi suami, tetapi Sakti tidak ingin berkomentar apa pun tentang wanita itu. Dia takut suatu saat bersikap lebih parah lagi dibanding sahabatnya jika punya istri. Maka dari itu, lebih baik turuti saja permintaan Angkasa daripada berpikir negatif .
Malam itu berlalu begitu saja tanpa Sakti tahu apa yang terjadi. Dia sendiri di kamar menghabiskan waktu untuk istirahat sebelum besok perjalanan jauh. Sebenarnya, kemarin sempat diminta Angkasa tinggal di kantor, tetapi Sakti justru tidak tega melihat Angkasa berangkat sendiri apalagi membawa Myria.
-
-
“Udah akur kalian?” Cibiran Sakti seketika terlontar melihat Angkasa dan Myria berjalan sambil bergandengan tangan lalu berhenti di meja makan restoran hotel.
Myria meringis menanggapi Sakti, sementara Angkasa tetap biasa saja seolah tidak mendengar. Pria itu justru sibuk memperhatikan kondisi sekitar.
“Ka, lo nggak sarapan? Malah celingukan nggak penting.”
“Gue lagi baca menu.”
“Samperin ke sana biar jelas. Percuma lo liatin dari sini.” Ada kalanya Sakti jengah menghadapi sikap Angkasa yang terkadang tidak sesuai harapan.
“Ayo, Sayang,” kata Angkasa sembari mengulurkan tangan pada Myria.
__ADS_1
Sakti yang ada di depannya menghela napas kasar. “Gue belum mulai makan dari tadi. Jangan sampek tingkah bucin lo bikin gue kenyang duluan, Ka!”
“Berisik! Makan tinggal makan. Apa hubungannya sama gue.”
Melihat Sakti marah-marah, Myria terkikik di balik punggung Angkasa. Dia mengucap maaf sebelum akhirnya menuju meja prasmanan bersama sang suami.
Saat makan pun, ternyata ucapan Sakti seperti angin lewat. Nyatanya, Angkasa masih tetap manja dan berulang kali meminta suapan dari Myria tanpa memedulikan sahabatnya.
“Sabar, ya, Allah.” Tangan Sakti refleks mengusap wajah diikuti helaan napas.
Tawa Myria berderai lirih. “Maaf, ya, Sakti. Harusnya kita nggak semeja sama kamu tadi.”
“Habibati, ngapain minta maaf segala? Udah risiko buat dia.”
“Astaghfirullah, ya, Allah. Punya sahabat nggak ada akhlak. Gue tuker tambah aja dia sama ban motor.”
Angkasa memelototi, tetapi Myria lagi-lagi tertawa. Wanita itu tiba-tiba memiliki ide. "Sakti, aku ada kenalan temen kuliah. Orang Turki asli. Kebetulan dia liburan ke sini minggu lalu. Apa kamu ada niat buat nikah waktu deket ini?"
Angkasa dan Sakti kompak berhenti mengunyah makanan. Dua pria itu menatap Myria bersama.
"Sayang, Sakti nggak butuh itu."
"Hm? Kenapa?" Myria sedikit bingung. Angkasa memang tak pernah bercerita soal kisah asmara Sakti padanya, wajar saja dia tidak paham.
Sebelum menjawab, Angkasa melirik Sakti beberapa detik. Dia menarik satu tangan Myria dan membawa ke genggaman. "Sayang, nggak perlu khawatir sama Sakti. Dia pasti nikah kalau udah siap. Nggak perlu nawarin apa-apa."
__ADS_1
Ada raut berbeda saat Angkasa memberi penjelasan. Tiap kosakata yang terucap, Myria merasa sang suami terkesan sangat hati-hati dalam penyampaian. Sementara itu, saat menoleh pada Sakti, dia tak mendapati apa pun kecuali anggukan. Entah apa yang disembunyikan dua lelaki itu.
"Ada apa sebenernya?"