Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 75


__ADS_3

Suara tabrakan itu nyatanya tak hanya dari arah tepi jalan. Justru sepersekian detik berikutnya sebelum mobil yang dikemudikan Sakti benar-benar menabrak pembatas jalan, sudah terdengar tubrukan beruntun dari arah belakang.


Pengendara lain langsung berhenti. Lalu lintas macet mendadak dan orang-orang berhamburan ke luar menimbulkan kegaduhan.


Teriakan histeris, komando dari berbagai arah untuk segera menghubungi pihak berwenang mengudara dan memecah heningnya malam. Jalanan yang biasa sepi berubah heboh seperti lautan manusia.


Gedoran dari arah luar menyadarkan Angkasa. Pria itu mengerang kesakitan karena sebagian tubuhnya membentur pintu dan jendela kaca.


Sayup-sayup panggilan dari luar makin menyadarkan, tetap tak ada satu pun uluran tangan yang mampu mengeluarkan lantaran pintu terkunci dari dalam. Angkasa berusaha mengumpulkan kesadaran sendiri, lalu buru-buru mengabaikan rasa sakit saat ingat Myria dan Sakti.


"Sakti! Myria!"


"Kasa ...." Myria menjawab lirih diselingi isak tangis.


Sabuk pengaman dilepas, Angkasa segera menengok belakang. Dia berusaha membantu sang istri bangun karena sepertinya Myria sempat terempas dari tempat duduk.


"Sayang, kamu gimana? Mana yang sakit?"

__ADS_1


Myria menggeleng lemah. "Aku nggak pa-pa, tolongin Sakti aja."


Angkasa refleks menengok pada Sakti. Dia sedikit bernapas lega saat melihat sahabatnya mulai bergerak dan tentu saja masih hidup. Akan tetapi, kondisi Sakti sepertinya sedikit parah. Terlihat dari darah yang menetes dari pelipis.


"Lo berdarah! Ayo, keluar!"


Pintu terbuka. Orang-orang yang sempat menggedor kaca segera mendekat dan hendak membantu, tetapi Angkasa langsung berlari ke pintu belakang.


"Biar saya, Pak. Dia istri saya." Saat seseorang hendak menolong Myria, Angkasa lebih dahulu sigap. Tak akan dibiarkan sang istri disentuh pria lain selagi dirinya masih bisa mengurusi.


Begitu berhasil menghirup udara luar, Myria langsung syok saat tahu kondisi yang terjadi, di mana truk bermuatan beras yang hampir bertabrakan dengannya telah hancur bagian depan, sementara di sisi lain masih ada dua mobil pribadi yang sama-sama rusak parah.


"Innalillahi, ya Allah, ya Rabbi, kenapa gini? Kasa, kecelakaan beruntun." Air mata Myria langsung berjatuhan. Mengalir deras dan sukses membasahi pipi meski tertutup cadar. Hatinya teriris melihat kejadian setragis itu.


"Jangan mendekat, Nyonya. Sopir truk dan dua orang pengemudi mobil meninggal dunia." Salah satu orang berceletuk. Beliau yang masih memapah Sakti di samping Angkasa.


"Ambulans segera datang, semoga korban lain masih bisa selamat. Anda semua saya bawa ke rumah sakit dulu saja," kata pria berkaus lengan pendek tersebut.

__ADS_1


Tak ada penolakan, Angkasa dan Myria mengikuti pria baik tersebut. Meski hanya merasa ngilu karena tulang menabrak bagian mobil, keduanya tidak bisa abai. Apalagi melihat kondisi Sakti yang sempat kehilangan kesadaran dan darah masih terus menetes.


Mobil belum sempat terjangkau, beberapa ambulans telah datang. Tenaga medis langsung turun tangan dan harus membawa para korban ke rumah sakit.


"Ikut di belakang ambulans ini saja, Pak." Angkasa memberi saran.


"Ya. Mari kita tunggu."


Selama proses evakuasi, Myria tak henti-hentinya melihat. Dari tempatnya berdiri, dia terus menangis dan beristighfar. Kecelakaan tragis itu benar-benar menggerus kelembutan hati wanita bercadar hitam tersebut, apalagi saat melihat ada ibu hamil yang diangkut tandu.


Kekacauan saat ini pasti menghadirkan sikap traumatis bagi sang istri. Maka dari itu, Angkasa sigap memeluk Myria. Beberapa kali dia juga bertanya pada Sakti bagaimana kondisi sahabatnya itu. Rasa khawatir dan takut jika Sakti mengalami cedera serius di kepala memang tak bisa dibantah.


"Gue nggak pa-pa. Insyaallah aman. Ini tadi kebentur stir doang jadi gini." Entah bohong atau jujur, Sakti memang terlihat baik-baik saja. Dia masih sadar sepenuhnya tanpa mengeluh apa pun.


Empat orang itu melanjutkan langkah dan segera masuk mobil saat empat ambulans telah meningggalkan tempat.


Saat di perjalanan, kembali terlintas di pikiran Myria tentang wanita hamil yang bercadar sepertinya. Dia bicara pada Angkasa, "Kasa, aku kayak kenal sama yang hamil tadi."

__ADS_1


__ADS_2