
"Iya ma.. terimakasih ya ma.." Ucap Rival. Marta menjadi lega. Karena akhirnya Rival mau mengakui kebaikan Rita.
Setelah mengetahui alamat Rita, tanpa aba-aba lagi Rival segera bergegas dan langsung menancap gas mobil menuju rumah Rita.
.
.
Sesampainya di rumah Rita, Rival memarkirkan mobilnya di depan rumah Rita. Rival segera membuka pintu mobilnya lalu segera turun dari mobil. Iya melangkahkan kakinya menuju pintu rumah Rita.
Rival mulai mengetuk pintu rumah Rita. Take lama, terdengar suara orang yang sedang membuka pintu dari dalam. Keluarlah seorang perempuan paruh baya dan memandang Rival. Perempuan itu bertanya kepada Rival siapa gerangan.
"Maaf siapa ya?" Tanya wanita itu.
"Rita ada bu?" Tanya Rival.
"Rita? Rita siapa?" Ibu itu tidak mengerti siapa yang disebut oleh Rival.
"Rita.. pemilik rumah ini.. apa ada bu?" Jelas Rival. Ibu itu pun mengerti siapa yang dimaksud oleh Rival.
"Oh.. pemilik rumah ini sudah pindah satu minggu yang lalu.." Rival terkejut mendengar Rita sudah pindah. Ternyata iya sudah terlambat untuk datang ke rumahnya. Rival bertanya lagi.
"Apa ibu tau dimana mereka tinggal?" Ibu itu pun mengangguk.
"Iya saya tau.. kamu tunggu sebentar ya?" Ibu itu pun masuk ke dalam terlebih dahulu. Iya mengambil sesuatu yang ada di dalam. Tak lama kemudian, ibu itu balik lagi dan memberikan alamat itu kepada Rival.
"Ini, alamat pemilik rumah ini.." Rival mengambil sebuah kertas yang berisi alamat Rita dari tangan ibu itu. Rival mengucapkan terimakasih kepada ibu itu.
"Terimakasih bu...." Rival segera bergegas menuju mobilnya. Iya pun segera melajukan mobilnya menuju sebuah alamat yang ada di kertas itu.
.
__ADS_1
.
.
Rival telah sampai pada alamat yang di tuju. Rival segera menghentikan mobilnya dan memastikan bahwa alamat tersebut memang benar.
"Semoga saja ini benar alamatnya dan Rita benar-benar ada di sini.." Rival segera memencet tombol bel rumah Rita.
Tak lama kemudian, terdengar suara orang yang sedang membukakan pintu. Ternyata orang tersebut adalah Ibunya Rita. Ibunya Rita memandang Rival dengan penuh tanda tanya.
"Cari siapa ya?"
"Rita ada di bu?" Tanya Rival.
"Iya.. ada.. Rita ada di dalam.. maaf kamu ada perlu apa sama Rita? Dan kamu siapa?" Tanya ibu Rita.
"Saya Rival bu.. apa ibu masih ingat Saya? Saya Rival anak Ibu Marta.." Setelah tau bahwa iya adalah Rival anak dari Marta, Ibu Rita pun mempersilahkan Rival untuk masuk. Ibu Rita meminta maaf. Karena iya tidak tau bahwa laki-laki muda yang ada di hadapannya adalah Rival.
"Jadi kamu anak Ibu Marta?" Rival mengangguk.
Tak lama kemudian, Rita datang menemui Rival. Rita terkejut ketika ada Rival. Rival mengangkat kepalanya yang sedang duduk di sofa. Iya melihat Rita berdiri di depan matanya.
"Rival?" Sapa Rita sembari menunjuk Rival. Rival pun bangun dari tempat iya duduk dan berjalan mendekati Rita. Iya berdiri tepat di hadapan Rita. Sedangkan Rita melihat wajah Rival yang terlihat begitu dekat dengan dirinya. Rival berkata.
"Rita.. Aku minta maaf, sekarang Aku tau kalau kamu tidak bersalah.. Aku minta maaf karena sudah menuduh kamu yang bukan-bukan." Rita mengulas senyum kepada Rival. Dan seraya berkata.
"Iya Rival.. Aku ngerti kok.. Aku sudah maafin kamu.." Rival juga tersenyum mendengar ini. Beberapa saat kemudian, Senyum Rival tiba-tiba berubah menjadi ekspresi yang datar. Wajah yang sulit ditebak. Rita melipat kening dengan ekspresi wajah Rival.
"Kamu kenapa?" Tanya Rita.
"Kenapa sih, kamu selama ini berbohong? Dan kenapa kamu selama ini memberi Aku harapan palsu?" Tanya Rival dengan wajah cemberut. Rita mengernyitkan dahi. Iya tidak mengerti dengan ucapan Rival.
__ADS_1
"Memberi harapan palsu? Maksud kamu?" Tanya Rita.
"Iya.. harapan palsu.. selama kamu di rumah Aku, kamu selalu bilang bahwa yang selalu masak adalah mama.. padahal masakannya enak banget.. Dan kamu sudah berbohong, ternyata yang masak enak itu bukanlah mama melainkan tangan kamu sendiri kan? Itu namanya, kamu memberiku harapan palsu.. kan Aku pikirnya, setelah ga ada kamu Aku tetap bisa makan enak.. nyatanya Aku salah, malah Aku makan yang rasanya hambar menurut Aku.." Rita tersenyum lebar dengan ucapan alay Rival. Seraya berkata.
"Apaan sih kamu? Alay banget.." Ujarnya sambil tersenyum.
"Biarin.. emang begitu kok.. pokoknya Aku ga mau tau, kamu harus tanggung jawab.." Ucapnya. Rita melebarkan matanya merasa heran dengan Rival.
"Tanggung jawab?" Rival mengangguk Dan seraya berkata.
"Iya, kamu harus tanggung jawab. Kamu harus balik lagi ke rumah Aku.. masakin Aku seperti dulu... Kamu harus tanggung jawab mengobati rasa Kangenku sama masakan kamu!" Rita tersenyum lebar saat Rival mengatakan itu.
"Alay.." Mereka pun tertawa bersama. Rival melihat senyum dan tawa Rita seperti Namira. Rival mengira bahwa Rita adalah reinkarnasi dari Namira.
****************
Rival berhasil membawa kembali Rita ke rumahnya. Iya ingin menebus semua kesalahannya kepada Rita. Marta dan Nadia merasa senang dan lega. Karena akhirnya Rival mau menerima Rita di rumahnya.
"Akhirnya ya ma.. kak Rival sadar juga.. Aku harap kak Rival benar-benar move on dari Namira ya ma? Kasian juga Namira.. biar dia tenang di sana.." Ucap Nadia.
"Iya mama juga berharap begitu.. semoga kakak kamu mau membuka hatinya untuk Rita ya? " Nadia pun menganggu.
****************
Rival dan Rita kini sudah menjadi teman yang akrab. Bahkan, Rival tidak merasa canggung ataupun merasa Gengsi lagi. Iya sudah lebih terbuka dengan Rita.
Dibandingkan dengan adik sendiri, si Nadia. Rival lebih suka terbuka kepada Rita. Sedangkan Rita, juga merasa lebih nyaman dan tidak perlu lagi berpura-pura apa pun. Karena iya sekarang lebih merasa akrab dengan Rival. Bahkan, Rita tidak perlu capek-capek untuk menyembuhkan Rival lagi. Karena Rival kini sudah sembuh dari sifat tempramental.
Akrab dengan Rita, Rival merasa Akrab dengan Namira. Rival menemukan sosok Namira pada diri Rita. Semakin hari Rival dan Rita semakin dekat.
Nadia yang melihat keakraban mereka ikut senang. Begitu juga dengan Marta dan Helen. Akhirnya pasangan suami istri itu juga setuju dengan Rita.
__ADS_1
"Apa kita percepat saja perjodohan mereka ya ma?" Marta menoleh mendengar pendapat Helsen. Dan Marta berkata.
"Jangan dulu pa.. jangan terburu-buru.. kita kan tau.. Rival itu bagaimana? Mama takut kalau dijodohkan, Rival akan kecewa lagi. Biarkan semuanya Rival dan Rita yang memutuskan." Ujar Marta. Helsen mengangguk mendengar ucapan Marta.