
“Umurnya setahun lebih tua dari kita. Tapi gue rasa itu nggak masalah.” Sakti menerangkan. Dia bawa beberapa lembar kertas dan menunjukkan pada Angkasa. “Pernah belajar di Mesir ngambil jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Lo lihat bagian lain, di sini dia kerja sebagai dosen salah satu kampus sama freelance penerjemah Bahasa Arab juga. Lumayan, lah, Ka. Nggak jauh-jauh amat kalau lihat permintaan di CV lo kemarin.”
Lembar kertas berukuran A4 itu dibaca isinya secara saksama oleh Angkasa. Dibaca perlahan dan diresapi dari semua data diri serta penjelasan banyak hal mengenai wanita yang dipilihkan sang ustaz sebagai perantara taaruf. Beberapa kali alis Angkasa menaut dibarengi dahi berkerut, lalu berekspresi datar kembali. Seperti itu terus menerus, sampai tak sadar Sakti yang ada di sebelahnya justru tidak ditanggapi.
“Tapi Ustaz kemarin bilang andai nikah sama dia ….” Mulut Sakti kembali berujar, “wanita ini nggak mau tinggal sama ortu atau mertua. Jadi lo harus siapin tempat tinggal misah.”
Berkas di tangan Angkasa tertutup. Pria itu mengalihkan fokus pada sang sahabat.
“Nyari rumah deket komplek rumah nyokap sama bokap lo kalau emang keberatan jauh dari mereka,” kata Sakti menyelesaikan kalimat sebelumnya.
“Gue anak tunggal sekarang, Sakti.”
“Gue tahu. Tapi nggak harus juga terus-terusan sama ortu, kan? Apa bedanya lo sama gue? Kita sama-sama nggak punya saudara.”
Angkasa terdiam sebentar, lalu membuang napas sembari melempar kertas ke meja. “Nggak masalah juga sebenernya kalau ini. Gue bisa ngomong sama nyokap.”
“Jadi gimana keputusan lo?”
Raut wajah serius Sakti tak bisa ditanggapi dengan candaan. Angkasa berkata dengan langgam tenang dan penuh keyakinan. “Gue oke. Tapi ntar ngomong sama nyokap dulu.”
Sakti mengangguk-angguk. “Kabari gue kalau lo siap nadzor.”
Mentari tenggelam dan tersusul kumandang azan magrib membuat Angkasa bergegas pulang. Pria itu memilih salat jamaah di perjalanan daripada kehabisan waktu jika menunggu sampai rumah. Belum lagi, jalanan sedikit macet sehingga dimanfaatkan pula untuk mengurai penat.
Angkasa pulang sendiri. Tidak seperti biasa yang selalu berbarengan dengan Sakti, kali ini pria itu meminta sahabatnya pulang lebih awal lantaran sudah lembur berhari-hari.
Usai salat, motor melaju kembali hingga tiba di rumah. Kedatangan Angkasa ternyata sudah disambut Nyonya Nasita.
“Segera turun setelah mandi. Kita makan malam, Kasa.”
“Iya, Ma. Aku nggak lama.”
Kamar menjadi tujuan Angkasa. Dia letakkan tas ke ranjang dan segera menuju kamar mandi. Aroma sabun dan sampo menguar ke udara kala pria itu selesai membersihkan diri. Setelah berganti pakaian; memakai perawatan tubuh; dan bersisir rapi, Angkasa turun. Di meja makan, ternyata dua orang tuanya sudah menunggu.
__ADS_1
Masakan sang mama selalu jadi juara menurut Angkasa. Dia akan makan lahap saat suasana hatinya stabil disertai pikiran rileks. Tiba di pertengahan aktivitas makan, Angkasa berucap, “Ma, suatu saat kalau aku nikah, apa Mama ngizinin aku keluar dari rumah ini?”
Tangan Nyonya Nasita langsung terhenti. Garpu di genggaman beliau diletakkan ke piring. Diamatinya wajah sang putra penuh dengan kelembutan, lalu bibirnya menyulam senyum. “Kasa, surga laki-laki memang ada pada ibunya, tapi Mama tidak akan menahan dan bersikap egois untuk memilikimu teru-menerus. Apalagi ada wanita lain yang jadi tanggung jawabmu. Perkara menikah tinggal di mana, itu hakmu.”
Tuan Aji menyetujui. Pria itu ikut angkat suara. “Tugas orang tua hanya mengarahkan, Kasa. Kami tidak akan ikut campur masalah rumah tanggamu kelak. Papa anggap kamu sudah dewasa dan paham arti dari tanggung jawab. Ibu atau istrimu sama-sama perempuan penting dalam menggapai ridho Illahi, tapi selagi Papa masih hidup, Mama adalah tanggung jawab Papa. Kamu hanya perlu fokus pada keluarga barumu.”
Lega rasanya Angkasa dapat nasihat demikian. Dia berucap terima kasih pada Nyonya Nasita dan Tuan Aji, lalu bercerita soal latar belakang perempuan yang akan menjalani taaruf dengannya. Cukup detail dan hati-hati Angkasa menjelaskan, sampai-sampai makanan telah habis pun, semua orang masih duduk tenang di meja makan.
“Dia sepertinya gadis baik. Kapan kamu ingin melanjutkan proses berikutnya?” Nyonya Nasita menanggapi tak kalah tenang. Beliau telah ikhlas dan menghentikan harap pada Myria saat mendengar semua cerita Angkasa beberapa bulan lalu. Meski sempat kaget apalagi saat putranya bilang ingin taaruf dengan wanita lain, tetapi akhirnya setuju asal itu serius.
“Aku mau istikarah dulu, Ma. Mungkin dua minggu lagi.”
“Tidak masalah. Mama tidak mengharuskanmu cepat-cepat menikah. Rumah tangga adalah perjalanan panjang dalam beribadah, Nak. Mama tidak ingin kamu salah melangkah.”
Malam itu bergulir begitu saja. Angkasa makin memantapkan hati untuk menjalani hubungan yang baru setelah istikarah selama dua pekan. Dia kabari Sakti bahwa telah siap dipertemukan dengan perempuan yang mengajukan diri bertaaruf dengannya.
Nasib baik menghampiri. Kata Sakti, perempuan itu juga siap melanjutkan ke tahap berikutnya agar saling mengenal lebih jauh. Alhasil, lusa menjadi waktu yang dipilih Angkasa untuk bertemu.
***
“Masa gue nggak ikhlas? Harusnya seneng sahabat gue udah sembuh.” Sakti bergumam sepanjang perjalanan. Dia sengaja menjemput Angkasa, padahal sahabatnya itu bisa datang sendiri.
“Nggak, nggak. Kasa seneng, gue juga seneng.” Lagi, Sakti meneruskan bicara. Dia memang tak habis pikir dengan semua yang ada. Meski ini kemauan Angkasa sendiri tanpa paksaan, tetapi Sakti akui ada setitik rasa tidak rela kala ingat perjuangan cinta sahabatnya itu menunggu Myria.
“Ya, Rabb. Jodoh emang ketentuan-Mu, tapi ini ….” Kepala Sakti menggeleng beberapa kali. Bahkan, lucunya satu tangan meraup wajah seperti orang frustrasi. Tak ingin terlena, dia tajamkan lagi fokus mengemudi agar lekas sampai.
Tiba di rumah Angkasa, ternyata semua sudah siap. Tidak disangka, dua orang tua Angkasa juga ikut. “Gue kira lo sendiri?”
Angkasa menjawab santai sambil memakai sepatunya. “Nggak ada salahnya mereka ikut.”
“Gini lebih baik.” Sakti tak ingin berdebat. Dia alihkan pembicaraan. “Sekalian langsung khitbah ajalah kalau emang ntar cocok.”
Bahu dan tangan Angksa terangkat. Dia berjalan ke arah mobil untuk memasukkan beberapa hadiah ke bagasi. “Lihat ntar aja, lah. Yang penting nyokap sama bokap gue ridho dulu.”
__ADS_1
Sakti hanya bisa manggut-mangut. Kemudian, dia bergegas masuk ke mobil kala Tuan Aji dan Nyonya Nasita telah datang.
Perjalanan ditempuh tidak terlalu lama karena jalanan lancar. Empat orang itu turun di depan rumah yang halamannya penuh akan bunga mawar. Nyonya Nasita menebak bahwa istri pemilik rumah tersebut mempunyai hobi berkebun sehingga halaman berukuran sedang itu tampak sedap dipandang sekalipun malam hari.
“Assalamualaikum.” Sakti yang berada paling depan, lalu di belakangnya ada Angkasa dan dua orang tua.
“Waalaikumussalam. Oh, Nak Sakti. Mari masuk.” Seorang pria memakai kemeja koko menyambut ramah. Wajahnya terlihat meneduhkan dipadu senyum. Beliau menyalami Sakti dan yang lain, lalu mempersilakan duduk.
“Ini Nak Angkasa yang mengajukan taaruf, ya?”
Angkasa mengangguk. “Benar, Ustaz.”
“Masyaallah. Ternyata tidak kalah ganteng dari Nak Sakti.”
Angkasa tersenyum sungkan dan hanya membalas dengan ucapan terima kasih.
Sang ustaz kembali berbincang. Tak lupa beliau berkenalan dengan Tuan Aji dan Nyonya Nasita, lalu memberi sedikit nasihat perkara pernikahan.
“Tunggu sebentar, ya. Kata walinya sudah di jalan. Mungkin kena macet pihak perempuan ini.”
“Kami santai, kok, Ustaz.” Sakti seperti juru bicara Angkasa. Tanpa diperintah, sudah menjawab secara sukarela. Padahal, dia tidak menyadari jika sahabatnya mulai gugup.
“Nak Sakti apa tidak ingin taaruf juga?”
Dapat pertanyaan demikian, Sakti tersedak. Buru-buru Tuan Aji yang ada di sampingnya mengambilkan minum. Setelah tenang, jawaban baru bisa disampaikan. “Belum, Ustaz. Secara lahir mungkin siap, tapi batin saya belum.”
Jawaban jujur dari Sakti mengundang rangkulan dari Tuan Aji. Ayah Angkasa itu mengungkapkan pendapat setuju melalui perilaku. Sakti memang tidak jauh berbeda dari putranya, tetapi soal cinta, Tuan Aji tak pernah mendengar Sakti menjalin hubungan dengan siapa pun.
Obrolan hampir berlanjut, tetapi deru mobil yang sedang parkir memaksa mereka berhenti. Ustaz sebagai tuan rumah segera berdiri dan diikuti yang lain kala mendengar salam dari luar.
Tiba-tiba, Sakti menyikut lengan Angkasa. Dia berbisik, “Lo yang mau nikah, gue yang penasaran sama ini cewek. Moga aja ini beneran jodoh lo.”
.
__ADS_1
......................