
"Kenapa Ayah dan Ibu berbohong sama Aku? Ayah bilang kalau mas Malik masih hidup, dan anakku juga masih hidup. Tapi, nyatanya mereka sudah ga ada kan Bu?" Ungkap Namira sembari tidak dapat menahan buliran air bening di matanya untuk keluar.
"Namira..." Ucapnya.
"Bahkan Ibu juga membenarkan apa kata ayah.. Ibu juga berbohong kepadaku." Protes Namira.
"Maafkan Ibu Namira.. Ibu melakukan ini semua demi kebaikan kamu nak.." Ungkap Ibunya.
"Kebaikan? Kebaikan apa? Ga ada berbohong itu baik. Berbohong memang manis di depan.. tapi akan menyakitkan jika tau kenyataannya.. Kenapa si bu?" Lirihnya. Sontak Hanifah pun memeluk putrinya itu. Hati Hanifah ikut merasakan sakit saat anaknya sedih seperti itu.
"Maafkan Ibu.." Ucapnya juga lirih.
****************
Masih dalam kondisi yang sama. Namira duduk terdiam di atas kasurnya sembari melihat sesuatu yang kosong. Namira tampak senyum-senyum sendiri. Tak lama, Hanifah datang mengantar makanan ke kamar Namira. Karena Namira masih senang berada dalam kamar. Terlihat Namira sedang melamun dan pandangannya juga terlihat kosong. Hanifah meletakkan makanan tersebut di laci kamar.
"Namira.. ibu sudah siapkan makanan untuk kamu. Kamu makan ya nak.." Ucap Ibunya.
"Sebentar lagi bu.. Namira menunggu mas Malik pulang." Ucap Namira ngelantur.
"Namira.. sadar nak.. Malik sudah ga ada.." Ucap Hanifah mengingatkan.
"Kata siapa mas Malik ga ada bu? Mas Malik ada kok.. tadi dia pamit kerja sama Aku.. mas Malik bilang, kalau mas Malik hari ini ada pasien yang harus ditangani.. Sebentar lagi juga pulang.." Ucapnya. Hanifah hanya menggelengkan kepala. Lalu Hanifah segera pergi dari kamar Namira.
Hanifah menyenderkan tubuhnya di pintu kamar Namira. Hanifah tidak dapat membendung lagi air matanya. Hati ibu mana yang tidak sakit jika melihat putri yang disayanginya terpuruk seperti itu. Bahkan kondisinya tidak memungkinkan. Namira seolah hilang sadar.
"Ya, Allah.. kenapa anakku seperti ini sekarang?" Ucapnya lirih sembari menatap langit-langit rumah.
****************
Terlihat seseorang sedang membuka pintu kamar Namira. Namira pun menoleh ke arah pintu itu. Namira tersenyum melihat siapa yang datang. Iya adalah suaminya. Malik mengulas senyum kepada Namira. Begitu juga dengan Namira membalas senyum suaminya itu.
"Mas Malik.." sapa Namira. Namira pun berjalan mendekat menghampiri Malik. Dan Namira langsung memeluk Malik.
__ADS_1
"Mas... kamu kemana saja? Dari tadi Aku tunggu kamu loh.. mas.. kenapa tidak jawab? Mas.. jangan tinggalkan Aku lagi ya mas..." Rengek Namira. Malik hanya tersenyum tidak menjawab perkataan Namira.
"Namira.. ini bukan Malik.. tapi ayah kamu.." Ucap Hanifah tiba-tiba menyadarkan pandangan Namira. Namira terkejut dengan apa yang dilihat di depannya.
"Maaf yah.." Ucap Namira.
"Namira.. Malik sudah pergi nak.. tolong ikhlaskan kepergian Malik.." Ucap Ayahnya. Namira menggelengkan kepala dan membantah perkataan ayahnya.
"Ayah ngomong apa si yah? Mas Malik masih hidup.. dia belum datang aja dari rumah sakit.. Nanti mas Malik pulang kok.." Ucap Namira. Tiba-tiba telinga Namira mendengar suara bel pintu rumah. Dan Namira mengatakan kalau itu suaminya.
"Itu.. itu pasti mas Malik.. apa Aku bilang, mas Malik pasti datang kan.. Aku bukain pintu dulu untuknya.." Ucap Namira sembari berlari kecil untuk membuka pintu. Hanifah dan Abdullah mengikuti Namira dan memanggilnya.
"Namira tunggu! Jangan kamu buka pintu nak.." Ucap Hanifah.
Namun, mereka tidak dapat mengejarnya. Namira sudah membuka pintu rumahnya. Dan ternyata di luar tidak ada siapa-siapa. Namira terlihat kecewa.
"Loh.. kok ga ada orang? Aku kira mas Malik pulang.." Ucapnya sedih. Hanifah kemudian menghampiri Namira dan mengajak Namira untuk masuk ke kamarnya. Hanifah menyuruh Namira untuk istirahat saja.
.
.
"Sabar bu.. biar bapak pikirkan dulu.. solusinya.." Ujar Abdullah tenang.
Semakin hari, keadaan Namira semakin tidak baik-baik saja. Halusinasi Namira kian hari kian menjadi. Hanifah semakin khawatir dengan keadaan Namira.
"Mas Malik.. kamu sudah pulang mas.. mas, kapan si kita pulang ke rumah kita lagi? Aku sudah tidak betah tinggal disini mas.. Ayah selalu bilang kalau kamu sudah tidak ada.. buktinya, kamu masih ada di sini." Ungkapnya. Di mata Namira, Malik masih hidup dan selalu hadir untuk Namira. Dari balik pintu kamar, Hanifah dan Abdullah miris melihat kondisi Namira yang seperti itu. Namira terlihat berbicara sendiri dan bermain sendiri.
.
.
Setiap hari Hanifah dan Abdullah merasa sakit hati dengan kondisi Namira yang kian menjadi. Bahkan, terlihat Namira sedang memeluk sebuah guling yang iya adalah suaminya.
__ADS_1
*****************
Umi syarifah datang lagi ke rumah Namira. Iya ingin tau kondisi Namira saat ini bagaimana. Setelah Hanifah memberitahu kondisi Namira yang sebenarnya, Umi syarifah ikut menangis.
"Kenapa Namira seperti itu sekarang ustadzah? Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Umi Syarifah.
"Namira kehilangan orang yang sangat iya cintai umi.." Ucap Hanifah tidak dapat meneruskan ceritanya
"Maksud ustadzah?" Tanya Umi Syarifah penasaran.
"Kejadiannya sekitar dua bulan yang lalu umi.. sebuah kecelakaan merenggut nyawa suami dan calon anak yang ada di kandungan Namira. Awalnya Namira tidak tau kalau suami dan anaknya sudah pergi. Tapi setelah iya mengetahui semuanya, Namira menjadi seperti ini. Iya terus berhalusinasi dan mengira bahwa suaminya masih hidup." Cerita Hanifah. Umi Syarifah menggelengkan kepala. Iya merasa ikut miris mendengar apa yang dialami Namira.
"Lalu rencana kalian apa?" Tanya umi Syarifah.
"Rencananya kami ingin membawa Namira ke psikiater. Dan untuk sementara waktu kami ingin menitipkan Namira di sana." Ujar Hanifah.
"Apa ustazah tega menaruh Namira di sana?" Ucap Umi Syarifah.
"Jujur saja Umi.. Ibu mana yang tega jika anaknya di letakkan di tempat itu.. tapi ini terpaksa Umi.. ini semua demi kebaikan Namira.. " Ujar Hanifah.
"Kalau diijinkan, lebih baik Namira ikut saya ke pesantren lagi. Saya bersama dengan kiyai sudah sepakat untuk membawa Namira ke sana.. Namira di sana akan segera diobati." Ucap Umi Syarifah.
"Apakah nanti tidak merepotkan Umi dan kiyai?" Ucap Hanifah.
"InsyaAllah tidak ustadzah.. Namira itu sudah kami anggap seperti anak kami sendiri.. InsyaAllah kami akan merawat Namira sampai iya sembuh.." Ucap Umi Syarifah.
"Saya musyawarah dulu dengan suami saya Umi.." Ucap Hanifah.
"Ustadzah Hanifah tidak perlu khawatir.. kiyai sudah bermusyawarah dengan ustad Abdullah.. Dan mudah-mudahan ustad Abdullah mengijinkan.." Ujar Umi Syarifah.
"Apa yang dikatakan oleh Umi Syarifah benar bu.. kiyai sudah minta ijin ke bapak. Dan bapak sudah setuju jika Namira di bawa ke pondok pesantren. Sekarang tinggal menunggu ijin dari Ibu.." Ucap Abdullah.
"Kalau bapak setuju.. Ibu juga setuju pak.. " Kata Hanifah.
__ADS_1