Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 33


__ADS_3

Sebelum mempersilakan masuk orang yang mengetuk pintu, Angkasa menarik napas dalam-dalam. Dia tahu siapa gerangan yang ada di luar. Dengan jantung berdebar hebat seiring kekhawatiran berlalu lalang di kepala, pria itu mau tidak mau harus menghadapi semua. Angkasa tidak ingin lari. Dia harus bersikap professional.


“Masuk!” Perintah itu akhirnya mengudara.


Pintu terdorong dari luar. Benar saja, satu perempuan diikuti dua pria di belakangnya menyapa penglihatan Angkasa.


Sang resepsionis memberi penghormatan. “Pak Kasa, sesuai perintah yang saya terima dari sekretaris Anda. Beliau-beliau ini yang ingin bertemu.”


Tubuh Angkasa meninggalkan kursi. Dia keluar dari balik meja kerjanya dengan kondisi lebih tenang meski jantung masih berdebar. “Kamu boleh kembali.”


Sang resepsionis mengangguk paham. “Baik, Pak.”


Sepeninggalnya resepsionis perempuan tadi, suasana ruangan langsung senyap. Ketika pintu tertutup sepenuhnya, Angkasa menyambut ramah. “Selamat datang di Angkasa Pradana, Tuan. Mari silakan duduk.” Layaknya pemimpin yang memiliki good attidute, Angkasa mempersilakan. Satu tangannya bahkan mengulur ringan ke arah sofa agar Tuan Tirta dan Daniel duduk lebih dahulu.


Diperlakukan secara formal, Tuan Tirta terdiam beberapa saat. Kemarahannya sedikit tertunda demi menjaga wibawa. Tidak ada jawaban keluar dari mulut pria tua itu, tetapi beliau menerima tawaran Angkasa untuk duduk dan baru bicara.


Meski aura ketegangan jelas terasa, Angkasa menahan diri. Dia tekan interkom di meja untuk meminta sekretaris menghubungi pekerja kebersihan agar menyiapkan minum untuk dua tamunya.


Sambungan terputus. Angkasa bergabung di sofa dan menyamakan posisi duduk. Pria itu tersenyum tipis sebelum bicara lebih. “Ada keperluan apa kiranya sampai orang sehebat Anda mendatangi perusahaan yang kecil ini?”


Tuan Tirta tersenyum masam. Beliau menatap tajam dengan emosi tertahan. “Tidak perlu basa-basi, Anak Muda. Kamu bisa menjadi pimpinan, tentu bukan orang yang bodoh!”


Ucapan sarkas dari Tuan Tirta tetap ditanggapi dengan senyum, bahkan senyum yang ditunjukkan Angkasa lebih lebar dari sebelumnya. “Saya benar-benar tidak memahami maksud Tuan, karena sebelumnya, semua tamu datang sesuai janji sehingga apa yang dibicarakan sudah saya ketahui lebih dahulu.”


Entah dapat keberanian dari mana, di mata Tuan Tirta, sikap Angkasa terkesan tenang dan lihai menguasai pembicaraan. Beliau mulai mengakui kepiawaian mantan suami putrinya itu dalam bekerja.


Di depan klien, Tuan Tirta menerka bahwa Angkasa memiliki jiwa pemimpin yang kuat. Ada aura berwibawa sehingga berhasil menutup titik kekurangan dari dalam diri.


Meski demikian, tidak serta merta hati Tuan Tirta tersentuh. Bahkan, tatapannya masih begitu sengit. “Aku sudah tahu bahwa putriku bekerja di sini. Ternyata selama ini, kalian bebas bertemu. Apa selicik itu caramu menghadapiku?”


Tuduhan Tuan Tirta membuat hati Angkasa nyeri. Ingin marah, tentu saja tidak bisa. “Maaf, Tuan. Soal pekerja yang ada di sini, semua urusan HRD. Anda tidak bisa menuduh saya sembarangan.”


Tuan Tirta mendecih pelan. “Kamu kira bisa bermain denganku? Myria ada di sini atas rekomendasi direkturmu. Bukankah itu semua artinya atas perintahmu? Apa kamu ingin beralasan lagi bahwa tidak tahu apa-apa?”

__ADS_1


Pertanyaan demi pertanyaan bermakna sindiran dari Tuan Tirta membungkam Angkasa. Dia merasa terdesak dan tidak mungkin membuka tindakan Sakti atau akan membawa sahabatnya itu dalam masalah. Bisa atau tidak, Angkasa harus menyelesaikannya sendiri.


“Jangan bermain api denganku kalau tidak ingin terbakar, Anak Muda.” Tuan Tirta lanjut  bicara. “Sadarlah! Kamu tidak pernah sebanding. Ayahmu sudah bicara padaku perkara sakit yang menimpamu. Lantas, apa kamu masih punya keyakinan kalau aku akan merelakan putriku untukmu?”


“Tuan.” Daniel merasa bosnya sudah terlalu jauh bicara. Melihat Angkasa diam saja, pria itu tidak tega. Segarang garangnya Daniel, dia masih memiliki empati, apalagi yang dibahas Tuan Tirta bukan perkara bisnis.


Pria berprofesi asisten itu berusaha mengalihkan perhatian. “Tujuan kita bukan untuk ini. Silakan dipersingkat saja karena kita harus meninjau anak perusahaan di luar kota.”


Tuan Tirta mendengkus. Dia mengibaskan jas sembari menatap tajam pada Angkasa. “Aku peringatkan sekali lagi, Nak. Aku tidak akan melakukan apa pun padamu atau keluargamu selama kamu tidak menentang. Jauhi Myria dan jangan pernah berhubungan dengannya meski hanya sebatas saling sapa. Putus total komunikasi kalian, itu akan membuat hidupmu kembali damai.”


Peringatan demi peringatan didapat, Angkasa membisu meski tidak semua tuduhan benar. Dia dalam posisi terjepit karena memang sampai kapan pun, dirinya tidak akan bisa melawan Tuan Tirta.


Tidak ada pembicaraan lagi, tanpa menunggu minumnya datang, Tuan Tirta sudah bersiap pergi.


“Paman Mandala.”


Panggilan Angkasa membuat Tuan Tirta urung keluar. Dia menengok ke belakang.


“Apa ada cara untuk mendapatkan restumu?” Angkasa memberanikan diri bertanya. Dia posisikan  diri sebagai keluarga meski tidak pernah dianggap.


“Apa karena mendiang nenekku sampai seperti ini?”


Masa lalu diungkit, tatapan Tuan Tirta berkilat tajam. Giginya saling menekan disertai emosi tertahan. Hari-hari berlalu, Tuan Tirta telah berusaha melupakan keadaan. Namun, saat hal itu dibawa-bawa dan disangkutpautkan dengan keputusannya, rasa tidak terima membuncah lagi.


“Tidak penting pertanyaanmu! Yang aku mau sekarang putriku. Aku tidak akan membiarkan Myria bertemu denganmu lagi!”


Kemarahan Tuan Tirta mengguncang dunia Angkasa. Rasanya, dia ingin ambruk ke lantai mendengar permintaan yang sama persis dengan sembilan tahun lalu. Namun, sebisa mungkin dia bertahan.


Dengan tangan mengepal kuat untuk menekan kecemasan, Angkasa berdiri dan membuka pintu. “Saya antar Anda ke divisi desainer.”


Tiga pria itu meninggalkan ruang secara berurutan. Angkasa paling depan, sementara Daniel dan Tuan Tirta mengikuti di belakang.


Sakti yang kebetulan ingin ke ruangan Angkasa langsung terenyak melihat sahbatnya bersama tamu-tamu tak diundang itu. Dia berjalan tergesa menghampiri. “Kasa!” panggilnya sedikit lantang agar menghentikan langkah sahabatnya.

__ADS_1


Benar saja, satu panggilan dari Sakti menunda langkah Angkasa dan yang lain. Sahabatnya itu berbalik dan menunggu dirinya menghampiri.


“Gue mau ke ruangan lo bahas kerjasama kolega kemarin.”


Angkasa melihat berkas yang ada di tangan Sakti, lalu melirik Tuan Tirta dan Daniel sekejap. Setelah itu, dia berujar, “Kita bahas setelah ini.”


Arah pandang Sakti ikut tertuju pada Tuan Tirta yang berwajah datar. Kemudian, dia kembali memperhatikan Angkasa. Sahabatnya itu kembali berjalan, membuat Sakti mau tidak mau mengikuti.


“Lo baik-baik aja?” bisik Sakti pada Angkasa. Jangan ditanya perasaan Sakti seperti apa sekarang. Tentu saja selain kaget, dia cemas tiada tara. Namun, melihat Angkasa terkesan tenang, rasa cemasnya harus ditunda.


Angkasa melirik sembari mengangguk. Pria itu berjalan tegap ke ruang divisi desainer, di mana Tuan Tirta ingin melihat Myria.


Tiba di pintu ruang desainer, Angkasa segera masuk. Tidak sampai jauh, dia sudah memanggil mantan istrinya. “Myria.”


Satu ruangan yang awalnya serius langsung menoleh serempak. Melihat kedatangan Angkasa dan Sakti secara bersama membuat David kelabakan dan segera menghampiri.


Myria yang sejak  tadi sibuk dan tidak tahu ayahnya datang, langsung terlonjak. Matanya yang bulat  melebar sempurna diiringi gerakan mundur tanpa arah.


Gimana Ayah bisa ada di sini?


“Kemari, Myria.” Angkasa memanggil lagi meski tahu mantan istrinya itu syok. Namun, apa yang bisa diperbuat?


“My, dipanggil, tuh!” Teman Myria sampai mengingatkan karena Myria hanya mematung di tempat.


“A–ah, ya.” Enggan rasanya mendatangi arah pintu. Namun, Myria tidak ingin menimbulkan kegaduhan. Dengan langkah terseret karena kaki lemas mendadak, wanita itu tetap menurut.


Angkasa membuka jalan ketika Myria sampai di depannya. Satu tangan pria itu mengulur ke belakang, menunjuk keberadaan Tuan Tirta dan Daniel yang ada di ambang pintu.


“Kasa ….” Myria berujar lirih dengan mata berkaca-kaca.


Angkasa tersenyum tipis dan memberi anggukan. “HRD akan menghubungimu nanti. Terima kasih untuk semua kontribusimu dalam mencipta karya.”


Myria menggeleng. Dia ingin menangis, tetapi ada teman-teman lain. Maka dari itu, dia hanya bisa menahannya, lalu melanjutkan langkah menuju sang ayah.

__ADS_1


Ruang desainer mulai ditinggalkan Myria tanpa sepatah kata pun. Hatinya karut-marut menghadapi perpisahan yang dicipta ayahnya untuk kedua kali. Dia ingin berteriak seperti dahulu, tetapi tidak sanggup. Cukup linangan air mata yang menjadi bukti betapa hancur hatinya saat ini.


Kaki Myria terus melangkah, sedangkan kepalanya berulang kali menengok ke belakang. Ingin sekali dia melihat Angkasa mengejar dan menahannya agar tetap tinggal, tetapi sama seperti sebelumnya, pria itu tidak melakukan apa pun.


__ADS_2