Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Namira syok


__ADS_3

"Kamu masih tanya Hanifah? Anak saya meninggal, itu gara-gara anak kamu Namira! Seandainya Malik tidak pergi dengannya.. mungkin Malik masih hidup sampai sekarang!" Teriak Sintia.


"Ma.. cukup ma.. istighfar ma.. mereka ga tau apa-apa tentang ini.. jangan menyalahkan orang terus menerus.." Seru Imam Ayah Malik.


"Biarin saja! Biar mereka tau, kalau ini semua gara-gara anak mereka. Ini semua salah Namira.. Namira yang membuat Malik jadi begini!" Teriak Sintia histeris.


Hanifah dan Abdullah hanya saling pandang. Mereka memaklumi keadaan Sintia. Siapa yang tidak sakit jika anak satu-satunya pergi untuk selamanya. Mereka hanya diam saja tidak menjawab ucapan Sintia. Abdullah pun mengajak pulang istrinya. Mereka pun berpamitan kepada Imam.


"Maafkan sikap istri saya pak.. saya berharap Ibu dan bapak dapat memaklumi." Ucap Malik.


"Iya Pak Imam.. saya paham dengan kondisi Ibu Sintia yang sekarang.. apalagi, Imam adalah anak satu-satunya.." Ujar Hanifah.


****************


Sudah satu minggu Namira di rumah sakit. Kini kondisi Namira sudah membaik. Dokter pun memperbolehkan Namira untuk rawat di rumah. Ayah dan Ibu Namira bersyukur karena Namira sudah diperbolehkan pulang.


"Alhamdulillah.. akhirnya, kamu bisa pulang juga nak.. Ibu senang dengarnya.." Ujar Hanifah. Namira hanya tersenyum. Meskipun Namira diperbolehkan pulang, tapi Namira merasa ada yang kurang. Mata Namira terlihat sedang mencari sesuatu.


"Namira.. kamu kenapa? Apa kamu tidak senang?" Tanya Ayah Namira.


"Kenapa nak? Kamu sepertinya sedang mencari sesuatu.." Tanya Ibunya juga.


"Mas Malik mana Bu? Dan bayiku mana? Kenapa selama Aku di rumah sakit Mas Malik tidak pernah menjenguk Aku? Dan kenapa bayiku tidak pernah diantarkan ke Aku oleh suster, maupun dokter?" Tanya Namira. Ayah dan Ibu Namira tidak menjawab pertanyaan Namira. Mereka bingung harus jawab apa dan bagaimana. Dalam hati, mereka ingin sekali mengatakan hal yang sebenarnya. Namun, mereka tidak sampai hati untuk itu. Terlebih lagi Namira baru pulang dari rumah sakit, dan kondisinya juga masih belum pulih. Mereka pun terpaksa berbohong.


"Ayah, Ibu.. kenapa kalian diam saja? Suami dan anakku mana?" Tanya Namira sekali lagi.


"Namira.. Malik memang tidak bisa temani kamu di rumah sakit.. Karena Malik ada urusan mendadak nak.. Malik sedang ada tugas di luar kota.. Dan Malik sudah pamit sama Ibu dan Bapak kok.. iya kan pak?" Ucap Hanifah kepada suaminya sembari memberi kode untuk mengiyakan.


"Iya.." Jawabnya sembari mengangguk.


"Terus, anak Aku mana?" Tanya Namira lagi. Lagi-lagi, mereka juga bingung harus menjawab apa dan mencari alasan yang tepat.


"Begini Namira.. bayi kamu kan, terlahir secara prematur.. jadi, ga boleh dijenguk oleh siapa-siapa dulu.. dan, bayi kamu aman kok Namira.. bayi kamu juga butuh perawatan khusus, serahkan semuanya pada perawat dan dokter ya.." Ucap Ayahnya berbohong.


"Tapi kan, saya Ibunya.. saya berhak dong jenguk anak saya.." Ucap Namira lagi.

__ADS_1


"Iya, kamu memang berhak atas anak kamu.. bukannya mereka tidak memperbolehkan kamu untuk menjenguk bayi kamu.. tapi ini semua demi kebaikan kamu dan anak kamu Namira.. Ibu harap kamu paham ya nak?" Ucap Hanifah lagi. Namira mengangguk paham.


Bagaimanapun juga, Namira tetap merasa sedih. Karena iya belum bisa bertemu dengan anak dan suaminya.


.


.


Sesampainya di rumah, Namira heran. Mengapa iya dibawa pulang ke rumah orang tuanya lagi, bukan rumahnya sendiri. Namira pun bertanya kepada kedua orang tuanya.


"Ibu.. kenapa Aku dibawa pulang ke sini lagi? Kenapa kalian tidak membawaku ke rumah Aku?" Tanya Namira heran.


"Namira.. kondisi kamu belum pulih betul.. siapa yang akan jagain kamu? Sementara suami kamu ga ada.." Ucap Sintia.


"Namira.. paling tidak, kamu tinggal disini dulu untuk sementara waktu. Sampai keadaan kamu benar-benar pulih.." Ucap Ayahnya. Namira hanya mengangguk saja. Tidak ada rasa curiga di hati Namira.


...****************...


Satu bulan telah berlalu. Namira merasa dirinya sudah sehat kembali seperti semula. Namira merasa ada yang janggal dalam hatinya. Iya merasa ada yang aneh.


Sudah satu bulan Namira berada di rumah, dan dengan sadar iya merasa suaminya tidak pernah menghubunginya. Satu bulan lamanya Namira menunggu kabar dari sang suami tapi tidak kunjung ada. Setiap hari Namira selalu memandang layar HPnya, berharap sang suami menghubunginya, namun tak kunjung datang.


"Sesibuk apa sih kamu di sana mas? Tidak adakah waktu untuk menghubungiku? Kenapa kamu seperti menghilang?" Ujarnya lagi.


Bahkan kabar tentang anaknya juga tidak ada. Iya semakin merasa ada yang janggal dengan semua ini. Takut-takut kalau ada hal yang telah disembunyikan oleh kedua orang tuanya.


"Perasaan saya sudah satu bulan disini, tapi kenapa suamiku ga ada kabar? Bahkan kabar anakku juga ga ada.." Ucapnya lagi.


.


.


Karena terus merasakan adanya kejanggalan dalam hatinya, akhirnya Namira pun nekat mencaritahu sendiri. Namira berniat mendatangi rumah mertuanya. Namira pergi sendiri ke sana tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.


...****************...

__ADS_1


Namira telah tiba di rumah orang tua Malik. Namira melangkah ke arah rumah mereka. Terlihat pintu rumah tertutup. Sepertinya tuan rumahnya sedang berada di dalam. Namira pun mengetuk pintu itu.


Tok


Tok


Tok


Tak lama, terdengar seseorang sedang membukakan pintu dari dalam. Dan ternyata Sintia yang membukakan pintu. Namira seketika mengulas senyum kepada ibu mertuanya itu.


"Assalamu'alaikum ma... apa kabar?" Ucap Namira sopan sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan niat ingin menciumnya. Namun, Sintia tidak menerima uluran tangan Namira.


Namira sempat terkejut dengan sikap Sintia. Iya melihat raut wajah Sintia yang terlihat memerah seperti menahan amarah.


"Ma.. mama kenapa? mama sakit?" Tanya Namira penuh perhatian sembari ingin mengecek kulit dahi mertuanya. Respect, Sintia langsung menepis tangan Namira. Namira terlihat kaget dengan sikap Sintia.


"Cukup! Buat apa kamu kesini?" Sungut Sintia.


"Ma.. saya kesini ingin bertanya tentang suami saya.. apa mas Malik memberi kabar sama mama?" Tanya Namira baik-baik. Sintia tersenyum sinis dan kesal mendengar pertanyaan Namira.


"Oh.. rupanya kamu belum tau ya? Dimana suamimu sekarang?" Ujar Sintia.


"Memangnya suami saya dimana? Dan apa yang terjadi?" Tanya Namira penasaran.


"Dasar perempuan pembawa sial!" Ucap Sintia kasar dan tidak dapat meneruskan ucapannya.


"Kenapa ma? Apa yang terjadi? Tolong kasih tau saya.. dimana suami saya.. saya berhak tau.." Ucap Namira memohon kepada Sintia.


"Gara-gara kamu Malik pergi untuk selamanya. Gara-gara kamu Malik kehilangan nyawa! Seandainya waktu itu kamu tidak mengajak anak saya pergi, mungkin dia masih ada!" Ucap Sintia spontan. Namira terlihat syok mendengar ucapan Sintia.


"Apa? Ga mungkin ma.. ini ga mungkin.. mama berbohong kan, sama Aku?" Ucap Namira tidak percaya.


Akhirnya, Sintia pun menarik tangan Namira dengan kasar. Dan Sintia membawa Namira ke suatu tempat. Yaitu tempat dimana Malik dan anaknya dimakamkan.


.

__ADS_1


.


Sesampainya di sana, Sintia memperlihatkan kuburan Malik dan anaknya. Sintia menunjuk batu nisan yang tertulis nama Malik disitu. Namira melihat nama suaminya tertera di batu nisan itu.


__ADS_2