
“Malam ini kita lembur sebentar. Kumpulkan ide untuk mengembangkan desain beberapa produk yang pernah laku di pasaran. Seperti yang Pak Sakti bilang di rapat waktu lalu, kita butuh menyegarkan ide lama tanpa mengubah seluruh ide pokok sebelumnya.” David memberi arahan timnya. Pria yang baru kembali ke ruangan itu, datang-datang sudah membawa kabar mengejutkan.
Sejak kapan orang-orang kantor lembur meski pekerjaan menumpuk? Para anak buah David terheran saking jarangnya.
“Berapa jam, Pak?” Salah satu anggota bertanya dengan mengangkat tangan.
David menggeleng. Dia sendiri tidak yakin lantaran Sakti meminta pekerjaan itu diserahkan besok sore. Hal yang cukup menjadi pertimbangan adalah kondisi anak buah yang letih, tetapi dipaksa berpikir. Apa akan sanggup?
“Tidak bisa dipastikan. Sepertinya harus sampai selesai karena Pak Sakti meminta besok sudah ada hal yang dilaporkan. Semakin cepat ide dan kesepakatan terkumpul, maka tidak akan sampai malam. Tapi lain sebaliknya bisa terjadi kalau kita bekerja lambat.”
“Astaghfirullah.” Tiga dari tujuh orang kompak beristighfar. Ingin sekali protes, tetapi jelas saja ucapan akan diputar balik oleh atasan karena mereka telah terikat kontrak.
Semua anggota desainer tahu bahwa jawaban dari Sakti maupun Angkasa akan sama. Dua pria berpengaruh di perusahaan itu pasti akan berkata seperti ini, “Serahkan surat pengunduran diri saja kalau sudah tidak sanggup bekerja di sini.” Ketika ingat itu, tidak ada yang protes lagi. Semua masih butuh uang dan pekerjaan.
Melihat ekspresi tidak rela dari teman-temannya, Myria ikut waswas. Padahal, dia ingin pulang cepat karena ada janji bersama Friska dan akan mengajak Andreas jalan-jalan berkeliling kota malam ini. Namun, jika seperti ini, apa yang harus diperbuat?
Mau tidak mau, Myria mencoba izin. Satu tangannya terangkat agar David memperhatikan. “Pak David, apa saya boleh tidak ikut?”
Semua wajah teman-temannya langsung melotot. Bahkan dua pria yang biasa tenang ikut menoleh kompak mendengar permintaan Myria.
Aura di sekitar tubuh David mendadak suram. Semua yang melihatnya sampai menelan ludah susah payah. “Minta tanda tangan sendiri pada Pak Sakti kalau kamu tidak ikut lembur!” kata pria itu dengan tegas.
“My, jangan nyari perkara, deh.” Satu teman yang duduk di sebelah langsung berbisik sambil menggeleng. Melihat David saja sudah cukup menyeramkan, apalagi langsung menghadap Sakti. Dia khawatir, mungkin Myria akan ditendang langsung dari perusahaan oleh sang direktur.
“Tapi … aku ada janji sama orang penting.” Myria meragu. Tak ada keinginan sama sekali menjabarkan perkara kehidupan pribadinya. Andai itu dilakukan, teman-temanya pasti kaget.
“Sepenting apa, sih, My? Udah, lah, nurut aja daripada ribet. Bukannya ngebandingin, ya. Kamu di sini baru dapat berapa bulan udah berani izin gitu?”
Kata-kata temannya tidak salah. Andai bukan Myria dan hanya orang biasa yang butuh kerja, kemungkinan pendapat temannya itu diterima dan mengurungkan janji bersama orang lain. Namun, berbeda lagi presepsi Myria. Wanita itu bekerja bukan untuk mengumpulkan uang.
Tak ada lagi obrolan. Semua orang serius dan menekuni sketsa masing-masing di layar komputer. Myria melakukan hal yang sama, tetapi pikirannya berkelana.
__ADS_1
“Aku izin aja dulu, deh. Kalau nggak boleh, baru telepon Andreas atau Friska,” batin Myria bicara. Dia lekas fokus agar tidak tertinggal dengan teman yang lain.
Ruangan direktur menjadi tempat berbincang Sakti dan Angkasa. Dua pria itu sibuk bertukar pendapat tentang rencana perluasan pasar.
“Panggil manager marketing besok. Kita dengar ide semua timnya.”
“Oke.” Sakti menyetujui, lalu meregangkan badan yang mulai pegal. “Para karyawan udah pada pulang ini. Cuma yang lembur aja yang di kantor. Mau ngopi nggak, Ka? Sekalian gue mau traktir mereka.”
Angkasa mengangguk-angguk. “Serah lo.”
Tanpa basa-basi lagi, Sakti membuka aplikasi delivery online. Dia cek sebentar berapa orang yang lembur, lalu memesan.
Baru selesai menutup ponsel, pintu ruangannya diketuk. Sakti mempersilakan masuk dan dia kaget melihat siapa yang datang.
Tak hanya Sakti, Angkasa yang sejak tadi ada di ruangan sahabatnya itu ikut berekspresi sama. Wanita yang sejak pagi membuatnya bad mood, muncul mendadak tanpa dipanggil. Level kekesalan Angkasa kembali naik, padahal tadi sudah cukup mereda.
Berhubung pemilik ruangan adalah Sakti, maka pria itu yang bicara. “Ada apa, Myria?”
Situasi yang cukup sulit. Sakti khawatir kali ini pikirannya tidak sama dengan Angkasa karena yang berdiri di depannya sekarang adalah Myria. Berbeda hal jika itu pekerja yang lain, pasti tidak ada tawar menawar lantaran keputusan selalu berupa penolakan.
“Pak Sakti ….” Myria mengulang panggilan karena merasa diabaikan. Bukannya menjawab, teman kelas masa SMA-nya itu justru membisu sehingga membuat bingung.
“Oh, sebentar.” Demi mengulur waktu karena sama-sama bingung, Sakti meneguk air putih yang selalu tersedia di meja kerja. Pria itu berdehem setelah menghabiskan satu gelas, lalu melirik Angkasa. Berharap dapat perintah dari sahabatnya, ternyata tidak ada respons sama sekali. Angkasa pura-pura tidak tahu dan hanya fokus pada layar laptop.
“Kenapa kamu izin? Apa ada masalah dengan kesehatanmu?”
Masuk akal jika Sakti bertanya demikian. Namun, Myria tidak mungkin berbohong. “Tidak, kok, Pak. Saya sehat. Hanya saja … malam ini ada acara keluarga.”
“Acara apa sampai harus meninggalkan pekerjaan? Apa seperti langkah awal memulai hubungan pernikahan? Lamaran misalnya?” Tidak ada petir ataupun hujan, Angkasa menyahut. Sayangnya, sahutan dari pria itu cukup membuat Myria serta Sakti tersentak bersama.
“Ka—”
__ADS_1
“Berikan saja dia izin kalau memang acaranya sepenting itu.” Angkasa memotong ucapan Sakti. Fokus yang sejak tadi ke laptop, kini sengaja menatap Myria dengan senyum sinis. Selepas itu, dia pergi melewati Myria begitu saja.
Sikap Angkasa membuat Sakti ingin mengumpat. Betapa bodoh sahabatnya satu itu jika sedang cemburu karena tidak bisa berpura-pura. Bukannya bertanya jelas pada Myria agar tenang, tetapi terus-terusan berasumsi sendiri.
Helaan napas berat keluar dari bibir. Sakti meraup wajah dengan satu tangan selepas kepergian Angkasa. Tersisa dirinya dan Myria di ruangan, pria itu tak bisa lagi menunda.
“Duduk sebentar, Myria.”
Meski ragu, Myria duduk di ujung sofa.
“Sebenarnya gue nggak masalah kalau lo absen lembur buat ini.” Sakti mulai bicara seperti teman. “Tapi, karena gue nggak mau terkesan ngebedain lo sama karyawan lain, sorry banget, gue nggak kasih izin. Lo juga lihat sikap Kasa. Dari pagi mood-nya ancur, dan gue yang jadi sasarannya.”
Myria tak berani menatap. Dia hanya melihat sebentar, lalu mengarahkan pandangan ke tempat lain. “Baik, Pak. Tidak masalah. Saya akan ikut lembur.”
“Ya. Thank you banget kalau lo paham maksud gue.”
Myria mengangguk sekali, lalu hendak berdiri. “Kalau begitu saya kembali ke ruangan, Pak.”
“Tunggu, Myria.”
Badan yang nyaris meninggalkan sofa itu kembali mendarat. Myria menatap Sakti sepintas.
“Sorry kalau gue kepo. Tapi siang tadi gue mergokin lo makan sama laki-laki. Kalau boleh tahu, siapa dia?”
Myria mengatupkan bibir. “Apa Kasa juga lihat apa yang kamu lihat?”
Sakti mengangguk sebagai jawaban. “Dia cuma cemburu tapi nggak mau ngaku. Jadi, ya, begitulah. Lo lihat sendiri sikapnya barusan.”
Tarikan napas cukup kuat dilakukan Myria. Dia embuskan perlahan untuk melerai penat. Terjawab sudah pertanyaan pagi tadi mengenai sikap dingin Angkasa. Ternyata, mantan suaminya itu melihat sosok Andreas.
“Namanya Andreas, dia ….”
__ADS_1
“Permisi! Kopi, Pak.” Suara si pengantar makanan datang sehingga memutus pembicaraan Myria dan Sakti.