Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Hari pernikahan


__ADS_3

Rencana pernikahan Rival dengan Rita sudah ditentukan. Rival dan Rita sudah mempersiapkan semuanya. Mulai dari pesanan gathering, dekor, sewa gedung dan lain-lain. Mereka juga telah mencoba baju pengantin.


Tak lupa, undangan juga telah mereka sebar. Rival dan keluarganya tidak lupa juga mengundang Abdullah dan Hanifah. Karena bagaimana pun Abdullah dan Hanifah adalah seperti saudara.


Abdullah dan Hanifah ikut bahagia. Karena akhirnya Rival akan menikah juga. Mereka berharap semoga pernikahan mereka akan langgeng hingga kakek nenek.


...****************...


Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Kini tiba saatnya dimana Rival dan Rita akan mengucapkan janji suci di depan pendeta.


Rita terduduk di depan kaca. Dengan dirias oleh seorang MUA. Rita tidak berpaling dari kaca. Iya memandangi wajahnya yang dirias oleh seorang perias pengantin. Gaun pengantin pun telah dipakainya. Dan tak lupa kalung serta mahkota telah dikenakan di leher dan kepala Rita.


Rita melihat kembali bayangan dirinya di depan cermin. Rita terpesona dengan wajahnya sendiri. Iya tidak percaya bahwa itu adalah dirinya sendiri. Iya terlihat bagai seorang princess.


"Benarkah ini Aku mbak?" Tanya Rita tidak percaya.


"Kenapa mbak? mbak Rita kagum ya, dengan kecantikan wajah mbak Rita?" Rita mengangguk. Mbak perias berkata lagi.


"Mbak Rita memang begitu cantik.. selamat ya, buat mbak Rita... sebentar lagi akan jadi seorang istri.." Ujarnya. Rita mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Setelah semuanya sudah siap, Rita pun segera keluar dari kamarnya dan dibantu oleh perias yang menenteng baju pengantin bagian belakang.


Begitu juga dengan Rival. Rival telah bersiap-siap menunggu Rita. Rita mulai menuruni tangga. Para tamu undangan takjub melihat kecantikan Rita. Begitu juga dengan Rival. Iya sangat terpesona dengan seorang perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu. Kini, Rita sudah saling berhadapan dengan Rival.

__ADS_1


"Sayang.. apa kamu sudah siap menyatakan janji suci?" Ucap Rival. Rita mengangguk pelan. Rival dan Rita pun berjalan menuju pendeta.


.


.


Janji suci antara Rival dan Rita telah diucapkan. Dan kini mereka telah sah menjadi suami istri.


.


.


Keluarga Abdullah terpaksa datang Namira. Karena mereka terjebak macet.


"Entar, kamu juga akan tau sendiri Namira.." Ucapnya. Namira pun terdiam.


Sesampainya di tempat acara, Mereka pun turun dari mobil. Tak terkecuali Namira.


Namira dan keluarganya pun masuk ke acara itu. Namira dan keluarganya menunggu antrian untuk bersalaman dengan pengantin. Setelah semuanya selesai, barulah Namira dan keluarganya menuju pelaminan. Namira tidak merasa bahwa itu adalah Rival. Begitu juga dengan Rival tidak merasakan kehadiran Namira. Setelah sama- sama menyadari, Rival tercengang melihat siapa yang datang. Begitu juga dengan Namira. Iya juga tercengang melihat siapa yang berada di pelaminan.


Setelah sekian lama mereka tidak bertemu, kini mereka telah dipertemukan dalam keadaan yang berbeda.

__ADS_1


"Namira.." Namira terus saja berjalan perlahan dengan pandangan fokus pada Rival. Kini Namira sudah berada di depan Rival. Mata Namira terlihat berkaca-kaca. Iya menahan air mata supaya tidak terjatuh.


"Namira.. kamu? kamu masih hidup?" Rival tidak percaya dengan apa yang sudah dilihatnya. Namira mengangguk dan berkata.


"Iya, iya.. Aku masih hidup kak.. akhirnya Aku bertemu dengan kakak kembali. Saya ucapkan selamat ya kak.. selamat atas pernikahan kakak.. semoga bahagia.. langgeng sampai kakek nenek.." Ucapnya.


"Maafkan Aku Namira.." Ujar Rival. Namira tersenyum.


"Minta maaf untuk apa kak? Aku ga apa-apa.. justru Aku terharu melihat ini.. bahagia selalu kak.." ucapnya. Namira pun bersalaman bergantian dengan pengantin.


...****************...


Namira mengunjungi makam suami dan anaknya kembali. Namira sudah sadar dan sudah ikhlas bahwa mereka sudah tiada. Taburan bunga yang harum semerbak, telah Namira taburkan di atas rumah baru mereka. Namira berkata.


"Mas Malik, putraku sayang.. kalian pasti sudah bahagia di sana.. Pasti tempat kalian sangat indah ya? Sehingga kalian lupa untuk hadir dalam mimpiku. Mas Malik, putraku sayang.. kalian tunggu Aku di sana ya? Aku berharap kita bisa berkumpul lagi di alam yang abadi.. aamiin.." Ucap Namira sembari mengusap air matanya yang menetes.


Tiba-tiba saja Sintia dan Imam juga datang ke kuburan mereka. Mereka melihat Namira. Dan Namira juga menyadari kehadiran mereka.


"Maaf.. kalau kedatangan saya lancang. Saya hanya ingin mengunjungi makam suami dan anak saya.. Saya sudah selesai kok disini.. Saya permisi." Ucapnya sambil berlalu pergi dari hadapan mereka.


"Tunggu!" Teriak Sintia. Sintia pun menghampiri Namira dan Namira membalikkan tubuhnya. Tanpa aba-aba, Sintia memeluk Namira. Sintia meminta maaf atas perlakuan yang tidak baik kepada Namira selama ini. Kini Sintia sudah sadar, bahwa semuanya adalah kehendak yang maha kuasa.

__ADS_1


Bagi Sintia dan Imam Namira tetap menantu mereka.


End.


__ADS_2