Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 79


__ADS_3

Sepekan lamanya Sakti tinggal di rumah Angkasa. Dia begitu betah dan nyaman karena merasakan hangatnya keluarga. Ibunya sendiri setiap hari menelepon, bertanya kabar terus menerus karena dapat firasat buruk.


Dapat desakan dari sang ibunda, Sakti tak bisa menutupi semua yang terjadi. Pria itu mengaku telah mengalami kecelakaan beruntun. Syok? Tentu saja respons ibunya demikian. Bahkan, wanita yang dipanggil mami itu ingin langsung pulang.


“Besok aku kerja, Mi. Dari kemarin, kan, udah pulang.” Sakti bicara setengah putus asa. Susah payah menenangkan hati sang ibunda selama beberapa hari, tetapi tetap sama saja responsnya.


“Mami mau lihat kondisimu. Kamu bilang tidak apa-apa, tapi kenapa harus di rumah Ayu?”


“Mam, aku di rumah Tante Ayu karena kemarin rencananya ngehindari Mami. Sekarang Mami udah tahu, ya, udah nggak perlu ada yang dikhawatirin.”


“Sakti—”


“Mam, please. Aku bisa jaga diri. Mami nggak perlu khawatir berlebih. Kasa manggil aku buat makan malam, aku tutup teleponnya. Mami sama Papi jaga kesehatan. Assalamualaikum.”


Panggilan usai setelah ibunya menjawab, Sakti segera keluar kamar dan bergabung bersama keluarga di  meja makan. Myria serta Nyonya Nasita terlihat sibuk menata piring, sementara Tuan Aji sudah duduk tenang di kursi.


“Arumi sudah telfon hari ini, Sakti?” Menu makanan disodorkan Nyonya Nasita pada Sakti seiring pertanyaan keluar.

__ADS_1


Sakti tersenyum tipis dan mengangguk. Dia ucapkan terima kasih sebelum berkata lebih lanjut.


“Apa masih marah-marah?”


Lagi-lagi Sakti tersenyum dan dapat kekehan kecil dari Nyonya Nasita.


“Jangan diambil hati. Semua ibu pasti akan seperti itu. Termasuk Tante, lihat Kasa. Dia hanya beda hari denganmu lahir, tapi tetap saja kalian berdua sama-sama anak kecil di mata Tante.”


“Ma ....” Angkasa protes. Belum ada sesuap nasi masuk ke mulut, tetapi jika mendengar ibunya bicara terus menerus, mungkin akan kenyang lebih awal. “Biarin Sakti makan. Mama malah ngajakin cerita mulu.”


“Nah, itu lihat Kasa. Ya, begitu. Nggak ada bedanya denganmu.” Bukannya menanggapi sang anak, Nyonya Nasita masih sibuk bicara pada Sakti. Beliau akui, kehadiran sahabat putranya menambah kesan ramai di keluarga.


“Myria.”


“Um? Iya, Bun.” Myria mendongak dan menatap ibu mertua.


“Apa kabar Faiza dan bayinya?”

__ADS_1


Punggung Myria menegak. Tangannya menahan sendok di atas piring. “Alhamdulillah, udah baik, Bun. Tadi katanya, besok bayinya udah bisa keluar NICU.”


Membahas Faiza, semua orang fokus mendengarkan cerita. Myria hampir setiap hari menjenguk Faiza agar teman kantornya itu tidak terpuruk. Betapa berat beban pikiran Faiza saat ini hingga membuat Myria tak tega.


“Mungkin lusa dia boleh pulang. Apa Bunda mau ikut? Myria udah bilang kalau mau nganterin dia nanti waktu keluar rumah sakit.”


“Oke. Mama temani kamu.”


Obrolan ringan terus menemani aktivitas lima orang di meja makan. Mereka saling tukar pendapat dan pembahasan dari segala hal hingga tidak terasa sudah berapa lama duduk.


Jam terus berputar, matahari menyingkap langit malam dan menggantikan dengan cuaca cerah. Pukul 10.00, Myria mendatangi rumah sakit bersama Nyonya Nasita. Dua wanita itu menunggu Faiza dan bayinya sebelum dokter mengizinkan pulang.


“Nyonya, Myria, makasih sudah mau menemani. Maaf sekali kalau merepotkan.”


Nyonya Nasita  tersenyum tipis. “Jangan dipikirkan, kamu dulu salah satu karyawan terbaik di Angkasa Pradana, tentu saja ini bukan sesuatu yang besar.”


Faiza tersenyum di balik cadarnya, lantas mengangguk dan memandangi sang putra. Bayi kecil itu begitu pulas di gendongan selama perjalanan.

__ADS_1


Tiba di rumah sesuai petunjuk Faiza, Myria sedikit keheranan saat hendak memarkir mobil. Dia kira tidak ada siapa pun karena Faiza bilang selama di rumah sakit, seluruh keluarga Ramdan tidak ada yang menjenguk, tetapi kini tampak ramai.


__ADS_2