
"Rahim Nyonya bagus. Tidak terlihat miom ataupun kista di sini." Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi menyudahi pemeriksaan. Wanita bersneli putih itu meminta Myria turun dari ranjang dan kembali duduk.
"Tuan Narendra sudah pernah cek sperr-ma sebelumnya?" Pertanyaan sang dokter kembali tersampaikan guna observasi lanjutan.
Angkasa menggeleng. "Belum, Dok."
Sang dokter tersenyum dan mengangguk, lalu kembali mencoret kertas yang sejak tadi ada di depannya. "Saya rujuk ke laboratorium untuk melakukan pengecekan sperr-ma untuk Tuan Narendra, ya?"
Angkasa menurut saja tanpa banyak bertanya.
"Bisa datang bersama istrinya nanti. Tapi ini sekaligus Nyonya Myria bisa lakukan tes HSG. Kalau ingin tahu apa itu tes HSG, tes ini digunakan untuk melihat kondisi saluran tuba yang ada pada rahim wanita. Saluran ini, Tuan, Nyonya." Pena di tangan sang dokter bergerak ke arah replika alat reproduksi perempuan yang bertengger di meja. Myria dan Angkasa sama-sama mengarah ke benda tersebut.
"Nanti hasilnya dibawa kemari sepekan setelah menstruasi. Kita bisa lihat kondisi sel telur apakah ada yang matang dan bisa dibuahi."
"Baik, Dokter."
"Ada yang ditanyakan lagi?"
"Kami kira cukup itu dulu, Dokter."
"Baik. Saya resepkan beberapa vitamin, nanti bisa ditebus di apotek."
__ADS_1
Penjelasan dokter sudah bisa dipahami. Maka dari itu, Angkasa dan Myria pamit setelah mengucap terima kasih.
Ditinggalkannya klinik praktik dokter kandungan tersebut, Myria serta Angkasa langsung menuju rumah.
Di jalan, wanita bercadar cokelat itu tak banyak bicara. Begitu pula suaminya. Angkasa dan Myria sibuk dengan pikiran masing-masing. Bahkan, sampai di rumah pun, tak ada lagi obrolan.
Saat makan malam, bersantai sebentar di depan televisi pun, mereka saling diam. Rumah besar yang baru dihuni beberapa pekan itu makin terasa sunyi.
"Kasa, aku takut." Ratusan menit Myria membisu, akhirnya saat hendak tidur, dia baru bicara.
Aktivitas mengobrol sebelum mengarungi alam mimpi sudah menjadi kebiasaan Myria dan Angkasa. Mereka akan saling bertukar cerita tentang kesibukan selama sehari di kantor atau meminta pendapat saat ada masalah.
Dekapan hangat, usapan lembut diberikan Angkasa. Pria itu ingin menjadi tempat yang nyaman bagi sang istri.
"Apa yang kamu takutin?" Suara Angkasa mengalun lembut, penuh ketenangan dan getaran rasa sayang. "Kita punya Allah, Myria. Kita punya doa buat minta. Bukannya doa adalah senjata terampuh bagi setiap muslim, Habibati? Terus apa yang kamu takutin?"
Perkataan Angkasa menjadi renungan bagi Myria. Dia akui, imannya sering naik turun tanpa bisa dipastikan. Sehingga dia beruntung memiliki pasangan yang bisa mengingatkan dan memberi nasihat saat lalai.
Angkasa memang pemaksa, tetapi masih ada banyak hal yang patut dibanggakan bagi Myria sebagai istri.
"Jangan kebanyakan mikir. Besok kita lakuin apa kata dokter. Nggak usah muluk-muluk mikir hasilnya gimana, itu urusan Allah. Kita jalani aja prosesnya."
__ADS_1
Terbius oleh tatapan sang suami dan suara lemah lembutnya, Myria mengangguk patuh. Ternyata, kepatuhannya itu mengundang senyuman terbit di wajah sang suami.
"Kita tidur. Biar nanti bisa qiyamul lail."
Bumi berputar sesuai ketetapan-Nya. Angkasa telah tiba di laboratorium sesuai surat rujukan. Setelah dapat janji temu dengan dokter Spesialis Radiologi, pemeriksaan bisa segera dilakukan.
"Tuan tunggu di sini. Ruangan mengandung sinar radiasi, jadi tidak diperkenankan ikut."
Sebenarnya Angkasa berat hati melepas Myria sendiri. Dia hanya tak ingin ketakutan istrinya kemarin malam memberi efek buruk pada proses pemeriksaan. Akan tetapi, apa boleh buat, sang dokter dan tenaga medis lain melarang.
Sepuluh menit, tiga puluh menit, bahkan hampir satu jam Myria di dalam ruangan, tetapi tak kunjung keluar. Angkasa yang menunggu makin cemas tak karuan.
Beberapa kali pria berkemeja hitam itu beranjak dari kursi tunggu, lalu mondar-mandir di depan pintu. Dia kembali duduk, lalu beranjak lagi. Hal itu dilakukan beberapa kali hingga penantiannya berujung temu.
Myria keluar seorang diri tanpa diikuti petugas. Angkasa buru-buru mendatangi dan siap memapah andai istrinya itu perlu bantuan.
"Sakit, Sayang?" Pinggiran dahi Angkasa berkeringat, padahal ruangan ber-AC. Tanpa dijelaskan, sudah pasti orang tahu jika pria itu khawatir berlebih.
"Aku mau ke toilet," kata Myria tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
"Aku anter."
__ADS_1
Kesigapan Angkasa ditolak, Myria meminta pria itu tetap tingggal sembari menunggu hasil dari pekerja laboratorium.
"Oke. Panggil aku kalau ada apa-apa." Dengan perasaan tak tentu, tega tak tega, Angkasa membiarkan Myria pergi sendiri. Dia pandangi tubuh sang istri yang terus berjalan tanpa menengok belakang. "Ya Allah, ini mungkin belum seberapa dibanding orang lain di luaran sana yang lebih dulu Engkau uji. Tapi sungguh, aku nggak bisa liat istriku begini."