Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 58


__ADS_3

Produk jadi di tangan Angkasa langsung dikembalikan ke meja jahit salah satu karyawan saat melihat siapa yang memanggil. Pria itu memutar tubuhnya 90 derajat sehingga menghadap Myria secara penuh. Indra penglihatan Angkasa melebar sempurna mendapati kehadiran sang istri. Namun, meski demikian, ada setitik rasa bahagia tersangkut di hati.


Berbeda dari Angkasa yang cukup kaget bercampur senang, kebahagiaan Myria benar-benar hilang. Seperti bayangan terkena cahaya, langsung lenyap begitu saja. Myria risih. Hatinya berubah kesal melihat Angkasa berdekatan dengan perempuan lain sekalipun dalam urusan bekerja.


Tahu kehadirannya menjadi pusat perhatian, Myria spontan mengubah langkah menjadi lari kecil untuk menghampiri. Begitu tiba di tujuan, wanita itu mengambil tempat di tengah antara Angkasa dan perempuan yang tadi mencari perhatian.


“Dia siapa?” Bukannya memberi penjelasan tentang kedatangan yang tiba-tiba, melainkan Myria bertanya sambil menatap wanita berseragam biru muda di samping kiri. Ketika melihat kartu identitas karyawan yang menggantung di leher wanita itu, Myria tahu posisi perempuan tersebut sebagai supervisor.


“Supervisor line ini. Ngapain kamu kemari?” Angkasa menjawab lirih. Sepertinya, kesan berwibawa sebagai pimpinan sebentar lagi berkurang lantaran harus mengurus istri saat jam kerja, apalagi di depan anak buah yang jumlahnya tidak sedikit.


Jawaban bersambung pertanyaan dari Angkasa ternyata memantik api pertikaian. Myria berubah sewot. “Aku nggak bakal ke sini kalau kamu ada di kantor.”


Angkasa mendelik mendengar cara bicara istrinya. Dia buru-buru menarik mundur Myria setelah meminta tolong pada Sakti agar lanjut mengurus produk.


Dibawanya sang istri ke salah satu ruang manajer, Angkasa langsung menginterogasi. “Sayang, ngapain sampek nyusul kemari? Kan, bisa nunggu aku di ruangan. Kamu juga kenapa tiba-tiba ke kantor tanpa ngasih kabar?”


“Kenapa, sih? Nggak boleh emangnya nyamperin kayak tadi? Biar apa? Biar kamu bebas dideketin cewek-cewek di sini?”


“Astaghfirullah, ngomong apa? Mana ada pikiran gitu?”

__ADS_1


“Kamu emang nggak ada pikiran gitu, tapi beda lagi karyawanmu.”


“Sayang, tapi mereka juga tahu aku punya istri.”


“Punya istri nggak punya istri. Namanya kalau genit, ya, mana mau tahu.”


Nyatanya, kekagetan Angkasa tak cukup hanya di dalam ruang produksi, ternyata di posisi bicara berdua pun, Myria masih bisa bersikap di luar kebiasaan. “Astagfirullah, Myria." Berkali-kali Angkasa istighfar. "Kenapa suuzon? Nggak boleh! Dosa!”


Sedikit bentakan dari orang yang dicinta memang benar bisa meluluhkan semua kekuatan. Kaki Myria mendadak lemas, hatinya mencelus dan langsung mengundang tetesan air mata. “Tuh, kan! Kamu malah marahin aku. Emang salah kalau aku nggak suka kamu dideketin cewek lain? Emang aku nggak boleh marah kalau kamu jadi pusat perhatian? Aku harus diem aja?”


Rentetan pertanyaan dari Myria membuat Angkasa kehabisan kata-kata. Mulutnya terbuka, tetapi tidak sedikit pun ada suara terdengar. Pikiran Angkasa mendadak kacau karena melihat Myria menangis. Padahal, sesuatu yang ditangisi bukan masalah besar.


Cukup lama Myria melampiaskan emosi melalui tangis, sementara suaminya diam tidak meminta berhenti. Angkasa memang selalu demikian dan akan bertanya setelah situasi terkendali.


“Kenapa emosimu meledak-ledak gini? Lagi PMS?” Tanpa menjauhkan Myria dari pelukan, Angkasa bertanya secara hati-hati. Nada bicaranya penuh kelembutan karena takut melukai lagi. Satu tangan terus mendekap, sementara tangan lain mengusap kepala tanpa lelah.


Myria menggeleng.


“Kamu terlalu banyak nonton drama perselingkuhan kayaknya sampek bisa gini.” Tebakan secara asal meluncur dari mulut Angkasa.

__ADS_1


“Apaan, sih? Aku nggak pernah nonton gitu.”


Angkasa terkekeh pelan lalu membuang napas. “Terus apa? Medsos-mu bagian explore isinya curhatan selingkuh? Jadi bisa mikir aneh kayak barusan?”


“Kasa, ih!” Tangan di balik punggung itu membentuk kepalan lalu memukulkannya pada Angkasa. Suaminya justru tertawa.


“My, banyakin zikir daripada ne-think nggak jelas gitu. Nggak ada gunanya. Aku kerja, ya, kerja. Insyaallah jaga diri sama hati. Inget, Jin Dasim itu punya banyak cara buat ngerusak rumah tangga manusia, jadi banyakin minta pertolongan Allah. Apa yang baru aja kamu lakuin itu salah satu godaan darinya. Kamu paham maksudku?”


Sejak tadi kepala menempel di dada, kini Myria mulai mengangkatnya pelan. Wanita itu menatap lekat paras Angkasa. “Maaf kalau aku terlalu nurutin nafsu.”


Angkasa mencubit hidung Myria sekalipun terhalang cadar. “Kamu nggak salah. Tapi perlu inget kalau perasaan waswas adalah tipu daya setan. Kamu harus kalahin itu, ambil pemikiran yang tegas dan katakan kalau semua udah diatur Allah.”


Mata hitam sepekat langit malam itu mengerjap. Myria mengangguk perlahan. Angkasa memberinya kecupan, lalu ke luar dan mengajak kembali ke ruangan sendiri.


Tiba di ruang kerjanya, Angkasa meminta Myria duduk. Pria itu menarik kotak bekal yang telah disiapkan lalu makan perlahan.


“Akhir September atau awal November nanti kita bisa ke Jepang bertepatan musim gugur. Ada tempat yang pengin kamu tuju?”


Myria menggeser gelas yang baru diisi air secara penuh. “Aku setuju ke mana pun pilihanmu.”

__ADS_1


Tawa Angkasa berderai sepintas. Dia mengusap kepala istrinya. “Kamu bikin aku gemes kalau gini.”


__ADS_2