Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 35


__ADS_3

“Udah ke dokter lo?”


Angkasa mengangguk tanpa melihat. Dia sibuk membaca berkas sebelum mencoret tanda tangan.


“Kapan?” Seperti emak-emak, Sakti terus menanyakan. Belum lega rasanya jika belum dengar jawaban secara lengkap.


“Dua hari lalu.”


“Terus gimana? Dosis obat lo naik?”


Ganti gelengan yang diberikan Angkasa. Kemudian, kepalanya terangkat, sementara tangan melempar map biru yang isinya baru ditandatangani. “Tetep pakai yang kemarin. Dokter cuma bilang sebisa mungkin gue harus ngehindari sumber permasalahan.”


Jawaban Angkasa membuat Sakti tercengang. Pria dengan setelan serba hitam itu menjatuhkan  diri di kursi. “Apa dokter lupa kalau sumber masalah lo itu mertua lo sendiri. Gimana dapet anaknya kalau nggak ketemu bokapnya.”


Sama seperti Sakti yang bingung, Angkasa juga demikian. Pria itu ikut mendesah berat. “Gue juga nggak ngerti. Andai ngilangin perasaan semudah ngebilas busa di cucian piring.”


“Kek pernah cuci piring aja lo.” Sakti mengejek. Bukannya memikirkan solusi, melainkan pria itu masih sempat bersikap konyol.


Angkasa tak terima. Dia lempar pena ke arah Sakti. “Amnesia lo? Selama di Inggris, siapa yang ngerjain kerjaan rumah?”


Tawa Sakti meledak. Dia bangkit dan menarik berkas dari meja. “Gue nggak nyuruh. Lagian dulu dibilangin pakek jasa pekerja kebersihan aja nggak mau. Lo aja yang suka ribet. Seribet perasaan lo sekarang.”


“Emang sialan punya temen kek lo, Tuan Sakti Eka Pradana!”

__ADS_1


Teriakan Angkasa mengundang ledakan tawa Sakti kembali memenuhi ruang. Pria 27 tahun itu menyahut map dan bergegas pergi dari tempat karena harus melanjutkan pekerjaan.  Namun, sebelum tubuh tingginya benar-benar hilang dari pandangan, Sakti menoleh. “Oh, iya, Ka. Lo ada niat nyari orang buat gantiin posisi Myria nggak? Kemarin HRD nanya.”


Saking stresnya, Angkasa lupa perkara itu. Hampir empat hari posisi Myria kosong tanpa ada yang menempati. David biasanya meminta tambahan orang jika anggota tak lengkap. Akan tetapi, untuk kali ini pria itu diam. Mungkin pria pemilik jabatan manajer itu masih syok atas ancaman Sakti kemarin-kemarin.


“Ntar dipikirin. Produksi udah jalan. Kita bisa evaluasi kalau tim sekarang sanggup, udah cukup kayaknya nggak perlu nambah lagi.”


“Oke.” Obrolan itu berakhir begitu saja karena pekerjaan harus tetap berjalan.


Sore hari, mobil yang dikendarai Daniel berhenti di teras. Pria itu segera turun dan membukakan pintu untuk Tuan Tirta.


Dua pria itu baru kembali dari luar kota guna meninjau anak perusahaan selama empat hari. Meski kemarin bertengkar hebat dengan putrinya, Tuan Tirta tetap pergi bekerja. Beliau pikir akan membiarkan Myria tenang lebih dahulu dan keesokan harinya akan menelepon untuk bicara lagi.


Telepon memang dilakukan Tuan Tirta begitu tiba di hotel kala itu. Namun, sayangnya, Myria tidak mau mengangkat. Hari berikutnya, pekerjaan menyita perhatian Tuan Tirta secara penuh sehingga tidak bisa langsung berkomunikasi. Bahkan, komunikasi beberapa kali harus terjeda dan saat malam hari baru bisa menghubungi, tetapi nomor sang anak sudah tidak aktif.


Cemas? Tentu saja. Tuan Tirta pergi setelah pertengkaran dan berhasil menoreh luka. Niatnya ingin meminta maaf setelah Myria tenang, tetapi semua di luar dugaan.


Kamar Myria yang tertutup menjadi tujuan Tuan Tirta. Namun, belum sampai di depan pintu, Nyonya Caroline turun dari arah tangga dan menghampiri.


“Di mana Myria?” Tuan Tirta bertanya cemas sembari memberikan tas jinjingnya pada sang istri.


Dua tangan Nyonya Caroline menerima, tetapi matanya menatap sendu. “Di kamar. Dia tidak keluar sama sekali. Bahkan tidak mau makan. Myria bilang puasa.”


“Kamu membiarkannya?”

__ADS_1


“Myria sulit dirayu, Tirta.” Suara Nyonya Caroline begitu lemah. Antara sedih dan frustrasi menghadapi kondisi rumah tangganya menyangkut perkara anak.


“Kenapa dia keras kepala seperti ini? Apa maunya? Aku juga tidak akan lepas kendali kalau dia tidak membela anak muda itu terus.” Mulut Tuan Tirta terus mengomel, sementara kedua kakinya melanjutkan langkah menuju kamar sang putri.


Nyonya Caroline yang ada di belakang hanya bisa mengembuskan napas mendengar perkataan Tuan Tirta. Wanita cantik itu membatin, “Keras kepalanya juga menurun darimu. Kamu ayahnya.”


Pintu diketuk Tuan Tirta secara perlahan diikuti panggilan. “Myria, ini Ayah.”


Benda bercat putih itu diketuk lagi karena belum dapat jawaban dari dalam. “Myria, dengar Ayah? Ayah ingin bicara denganmu.”


Dahi Tuan Tirta berkerut. Pria itu memandang sang istri, tetapi dapat gelengan. Nyonya Caroline memberi isyarat bahwa Myria memang tidak menanggapi sama sekali dari kemarin.


Tuan Tirta coba sekali lagi. “Myria, ini Ayah. Ayah ingin minta maaf denganmu. Maafkan Ayah sudah lepas kendali waktu itu sehingga menamparmu. Ayah menyesal, Nak. Ayo, buka pintunya.”


Kata-kata Tuan Tirta terkikis masa. Nyatanya, hampir lima menit berdiri di depan pintu, tetap tidak ada sahutan apalagi pergerakan benda itu akan dibuka. Hening terus menyelimuti hingga Nyonya Caroline meminta Tuan Tirta untuk mendobrak saja.


“Ambil kunci cadangan di laci. Bawa semua kuncinya kemari kalau kamu bingung.”


Tidak perlu berpikir, Nyonya Caroline segera menuju ruang keluarga dan mencari kunci cadangan di laci. Beliau menghela napas saat melihat banyaknya kunci karena memang semua benda itu dijadikan satu padahal rumahnya seperti hotel yang berisi banyak kamar.


Mau tidak mau, sesuai saran Tuan Tirta, Nyonya Caroline membawa semua anak kunci itu untuk diberikan pada sang suami.


Tuan Tirta menunggu kedatangan Nyonya Caroline sambil memanggil putrinya terus menerus. Namun, tetap saja percuma karena tidak ada respons sama sekali. Tidak ada suara atau apa pun dari dalam, membuat pria itu waswas.

__ADS_1


Satu per satu kunci dicoba. Percobaan demi percobaan dilakukan hingga percobaan ketujuh, beruntung kuncinya cocok sehingga pintu bisa terbuka. Tuan Tirta mendorong pintu itu secara perlahan, tetapi alangkah kagetnya saat berhasil membuka lebar-lebar.


“Myria!” teriaknya menggelegar.


__ADS_2