Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 36


__ADS_3

Saat Ayah menemukan surat ini, aku sudah pergi dari rumah.


Jantung Tuan Tirta seperti dihantam batu dari belakang hingga membuatnya roboh. Pria itu berjalan lemas dan terduduk di ranjang putrinya.


Beberapa detik lalu, saat pintu terbuka sempurna, pemandangan yang didapat Tuan Tirta hanya kekosongan. Tidak ada Myria di dalam kamar. Kondisi ruangan sunyi dan gelap karena tirai jendela tidak dibuka. Pria itu sempat menyusuri seluruh sisi ruang hingga kamar mandi dan berakhir menemukan sepucuk surat di meja lampu tidur.


Aku pergi bukan buat mengejar Angkasa, Yah. Aku cuma belum siap ketemu Ayah karena aku tahu Ayah pulang hari ini. Dari kemarin aku sengaja nggak angkat telepon Ayah karena aku nggak selera buat ngomong.


Aku nggak marah sama Ayah, justru aku yang harusnya minta maaf kalau udah durhaka sama Ayah. Gimana pun juga, Ayah itu keluarga aku. Ayah orang yang udah bantu aku wujudin mimpi kuliah di Turki sampai bisa kerja sendiri. Aku minta maaf kalau belum bisa nyenengin Ayah.


Ayah, mungkin sikapku kali ini memang kekanakan dan ngga pantes dilakuin buat wanita yang umurnya udah banyak kayak aku. Tapi yang ada di pikiranku sekarang cuma ini, Yah. Aku nekad pergi dari rumah pagi tadi dengan alasan mau ke makam Ibu dan ke apartemen, tapi sebenarnya aku nggak ada di sana. Ayah nggak usah marahin Bibi atau Pak Penjaga. Mereka nggak tahu apa-apa.


Ayah juga nggak perlu nanya Friska, karena aku nggak ke sana. Ayah nggak perlu cari aku ke mana pun. Ayah juga nggak usah khawatir karena dari dulu aku udah biasa hidup sendiri. Aku kuat, kok, Yah, meski suka nangis.


Sekali lagi, aku minta maaf karena kemarin udah marah-marah sama Ayah. Aku nggak bermaksud ngelawan, aku cuma pengin jelasin kalau Kasa nggak salah, Yah. Aku kerja di tempat dia juga kemauan aku sendiri. Aku sengaja ngehubungi sahabatnya buat dibawa ke perusahaan. Aku yang kembali ke kehidupan Angkasa, Yah. Bukan dia.


Tolong Ayah berhenti menyalahkannya. Kalau aku terkesan membela Kasa, sebenarnya bukan begitu. Aku bicara apa adanya karena memang yang salah itu aku. Kasa udah cukup tersiksa sama sakitnya, aku kasihan sama dia.


Maafin aku, ya, Yah.


Surat di tangan itu teremas kuat. Tuan Tirta menutup wajah dan menyugar rambut ke belakang. Beliau menunduk dalam kekalutan. Tidak mengira sang anak akan meninggalkannya, padahal sudah mati-matian dari dahulu dicari.


Melihat suaminya bersedih, Nyoya Caroline mendekat. Wanita itu mengusap punggung Tuan Tirta tanpa berucap apa pun.


Lama dua orang tua itu terdiam. Kemudian, Tuan Tirta beranjak dan keluar kamar. Beliau berteriak kencang memanggil asistennya.


Daniel yang ada di rumah belakang buru-buru berjalan cepat. Pria itu setengah berlari melewati kolam renang untuk sampai di rumah utama. Dengan pakaian seadanya karena baru selesai mandi, Daniel bertanya, “Tuan memanggil saya?”


“Myria hilang. Cari orang untuk menemukannya.”


“Nona hilang?”


“Cepat cari!” Tuan Tirta tidak membiarkan Daniel bertanya. Pria itu bingung dan tetap mencemaskan putrinya sekalipun diberi pesan agar tidak mencari. Ayah mana yang tenang ketika salah satu anak kesayangan pergi tanpa pamit apalagi dalam kondisi bertengkar.


Daniel berlari lagi ke kamar untuk menyambar blazer dan kunci mobil. Kemudian, dia bergegas pergi untuk menemani Tuan Tirta sembari menelepon banyak anak buah kepercayaan yang sering membantu. Pria satu anak itu tetap bekerja sekalipun belum sempat istirahat.


Mobil mulai melaju meninggalkan rumah. Nyonya Caroline melepas kepergian sang suami dengan rasa khawatir. Wanita itu teringat Friska dan segera menghubungi. Ketika panggilan tersambung, suara salam menyapa pendengaran.


“Waalaikumussalam, Friska.” Nyonya Caroline menjawab dengan suara gemetar.

__ADS_1


Friska yang sedang memantau perkembangan pembangunan butiknya menyingkir sebentar. Dia butuh keadaan tenang untuk mendengar lebih jelas. “Ya, Tante.”


“Friska, di mana kamu? Apa Myria ada ke rumahmu?”


“Myria? Enggak ada, Tan. Dari kemarin aku di butik terus, mantau pekerja soalnya. Di rumah cuma ada Ibu.”


Benar saja, sesuai yang tertulis di surat, Myria tidak ada di rumah Friska. Lantas ke mana anak itu pergi? Pikiran Nyonya  Caroline makin tidak tenang.


“Ada apa, Tante? Bukannya Myria kerja?”


Nyonya Caroline baru tersadar bahwa Friska belum tahu apa yang terjadi pada Myria. Terbukti bahwa sahabat putrinya itu justru bertanya demikian.


“Oh, ya, sudah kalau begitu. Tante matikan dulu, ya.”


Meski sebenarnya bingung, Friska tetap mengiyakan. Dia akan menelepon Myria sendiri dan bilang pada sahabatnya itu. Namun, beberapa kali mencoba, nomor Myria ternyata tidak aktif. “Tumben banget, sih, ini anak.”


***


Baru tiba di rumah dan disambut Nyonya Nasita, telepon Tuan Aji berdering. Pria yang baru saja melepas sepatu itu meminta sang istri untuk mengambilkan ponsel di tas kerja.


“Siapa, Ma?” tanya Tuan Aji saat melihat ponsel sudah di tangan Nyonya Nasita.


“Nomor tidak tersimpan, Pa. Coba Papa lihat, mungkin Papa lupa menambahkan ke kontak kemarin.”


“Papa tidak merasa kenal nomor ini.”


“Angkat saja, Pa. Siapa tahu penting.”


Tidak ada salahnya mendengar saran sang istri. Jadi, Tuan Aji menerima panggilan asing tersebut. Sebelum menjawab, pria itu me-loudspeaker panggilan agar sama-sama mendengar.


“Halo, assalamualaikum. Aji, ini Caroline.”


Kedua orang tua Angkasa itu sama-sama terperanjat mendengar Nyonya Caroline menghubungi. Saking kagetnya sampai lupa menanggapi.


“Aji, halo!” Nyonya Caroline memanggil lagi. “Maaf aku dapat nomor pribadimu dari sekretarismu tadi. Aku telepon resepsionis Kalastra Group, dia bilang kamu sudah pulang. Jadi, aku minta nomor ponselmu.”


“Pa.” Nyonya Nasita menepuk lengan sang suami karena Tuan Aji justru terbengong.


Ayah dua anak itu gelagapan dan baru menyahut, “Oh, iya, Kak. Waalaikumussalam. Tidak masalah. Ada apa menelepon?”

__ADS_1


“Begini, apa istrimu ada? Aku ingin bicara padanya.”


Pandangan Tuan Aji dan Nyonya Nasita kembali menyatu. Kemudian, Nyonya Nasita menyela, “Aku di sini, Kak. Ini Ayu.”


“Oh, ya. “ Terdengar helaan napas sebentar dari arah sana dan membuat dua orang penerima panggilan itu kembali bingung. “Ayu Nasita, apa Myria ada datang ke rumahmu hari ini?”


“Myria?” Bibir Nyonya Nasita bergumam. Dia menggeleng saat Tuan Aji bertanya lewat isyarat. “Tidak ada orang kemari hari ini, Kak. Myria sudah lama tidak ada komunikasi denganku. Apa ada masalah?”


Lagi, helaan napas berat terdengar. Perasaan Nyonya Nasita berubah tidak enak.


“Myria kabur dari rumah.”


“Kabur?” Nyonya Nasita tidak bisa menutupi keterkejutan. Beliau sampai merebut ponsel dari tangan sang suami untuk didengar sendiri. “Apa maksudnya?”


Nyonya Caroline menarik napas dalam-dalam, lalu menjelaskan permasalahan yang dialami Myria dan Tuan Tirta kemarin. Beliau bicara panjang lebar tanpa menutupi apa pun karena merasa tidak ada yang berbahaya jika bercerita pada Nyonya Nasita.


Ibu Angkasa adalah ibu mertua Myria. Maka dari itu, Nyonya Caroline berpikir bahwa Nyonya Nasita pasti dekat dengan Myria.


“Tirta sedang mencarinya sekarang dibantu Daniel. Aku meneleponmu, siapa tahu Myria ke sana karena ingin bercerita. Dia tidak berani cerita padaku, mungkin khawatir aku membicarakannya pada Tirta.”


“Apa sudah berusaha ditelepon?”


“Ponselnya ditinggal di rumah. Aku telepon Friska juga tidak tahu. Nanti malam, andai dia pulang ke rumahmu, tolong kirim pesan padaku diam-diam agar aku bisa bicara pada Tirta dulu sebelum menjemputnya.”


“I–iya, Kak.”


Panggilan terputus. Kekuatan Nyonya Nasita mendadak hilang dan tubuhnya berubah lemas. Kekhawatiran tentu mendera dapat kabar demikian, padahal sang putra dari kemarin tidak bicara apa pun.


Tidak berselang lama, anak yang ditunggu tiba juga. Angkasa mengucap salam dan heran melihak kedua orang tuanya duduk di sofa ruang tamu.


“Ma, Pa, tumben banget nyantai di sini.”


“Kasa, katakan pada Mama, apa benar pamanmu kemarin ke perusahaan dan membawa Myria pulang?”


Angkasa tersentak. Dia urung duduk dan masih membungkukkan badan. Namun, dapat tatapan menuntut dari sang mama, mau tidak mau harus mengaku. Pria itu mengangguk lemah.


“Kenapa kamu tidak cerita pada Mama Papa?”


“Aku udah selesain masalahnya, Ma. Aku turuti kemauan Paman Mandala untuk menjauhi Myria. Jadi, aku rasa nggak perlu cerita itu biar Mama sama Papa nggak khawatir.”

__ADS_1


“Tapi Myria kabur dari rumah gara-gara masalah itu?”


“Apa?”


__ADS_2