Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Antara senang dan sedih


__ADS_3

Binar pun malu, karena pernikahannya gagal dengan Rival. Iya menjadi malu setengah mati. Binar tidak menyangka dengan kelakuan Ayahnya yang memalukan. Tentu saja Binar merasa dikecewakan.


Rival beserta keluarganya pun langsung pergi meninggalkan tempat. Dan Binar pun mengejar Rival. Binar memegang tangan Rival. Iya meminta Rival untuk tidak membatalkan pernikahannya.


"Rival, maafin papa Aku.. tapi tolong.. jangan batalkan pernikahan kita.. Aku ga mau gagal nikah sama kamu Rival.." Rengek Binar. Rival pun meminta untuk melepaskan genggaman Binar. Namun Binar pun tidak mau melepaskan genggamannya. Akhirnya Nadia turun tangan. Dan Iya membantu Rival untuk melepaskan tangan Binar.


"Heh, penipu! Bisa ga, lepasin tangan kakak Aku?" Sungut Nadia.


"Kamu ga usah ikut campur urusan Aku ya, bocah ingusan!" Cemooh Binar kepada Nadia.


"Oh, berani ngelawan kamu ya.." Ucap Nadia sambil..


Plak!


Sebuah tamparan keras melayang di pipi Binar. Dan Binar pun terkejut dengan tamparan yang diberikan oleh Nadia. Binar pun ingin menampar balik Nadia. Namun, Rival segera menangkap tangan Binar. Rival pun memberikan peringatan kepada Binar.


"Jangan pernah kamu sentuh adik saya dengan tangan kotor kamu, paham!" ucap Rival. sembari menunjuk wajah Binar. Kemudian Rival pun menghempaskan tangan Binar dengan kasar. Sehingga Binar pun tersungkur ke lantai. Rival dan keluarganya pun segera pergi meninggalkan Binar. Binar tetap saja mengejar Rival. Tapi, Rival dan yang lain tidak mempedulikan Binar. Nadia hanya tersenyum sinis kepada Binar dan mengucapkan selamat tinggal kepadanya.


"Dada.. mantan calon kakak ipar.." Ucap Nadia sembari melambaikan tangannya. Sementara Helsen dan Marta tidak ikut campur lagi urusan itu. Dan mereka pun sudah terserah Rival mau seperti apa ke Binar. Karena sekarang sudah tidak ada urusan apa-apa lagi.


Binar menangis dan tetap mengejar mobil Rival. Sehingga iya jatuh tersungkur lagi. Jonas yang tidak tega dengan Binar pun berlari menghampiri Binar. Iya sudah melihat anaknya bersimpuh dan menangis sambil berteriak memanggil Rival.


"Sudahlah Binar... jangan kamu kejar dia.. Dia mungkin bukan jodoh kamu.. masih banyak laki-laki yang mau sama kamu.. masih banyak laki-laki yang lebih tajir daripada Rival.." Ujar Jonas. Binar pun menepis tangan papanya.


"Sudah pa, cukup! Ini semua gara-gara papa.." Ucap Binar dengan suara lantang dan menyalahkan Jonas. Binar pun langsung pergi ke dalam lagi meninggalkan papanya.


Di antara pertikaian mereka, Monica melihat mereka dari jauh. Hatinya merasa terenyuh ketika melihat Binar seperti itu. Monica pun ikut menangis melihat Binar yang seperti seorang pengemis. Monica mengepalkan tangannya dengan erat. Iya terlihat sangat marah melihat Binar yang tersiksa seperti itu.


.


.

__ADS_1


.


Sementara Helsen, iya meminta maaf kepada Rival atas keegoisannya selama ini. Karena keegoisan Helsen sendiri, sampai-sampai iya tidak menyadari bahwa musuhnya ingin menghancurkannya.


"Rival, papa minta maaf sama kamu.. karena papa kamu hampir jadi korban.. sekarang terserah kamu saja.. papa tidak akan melarang kamu untuk berhubungan dengan siapapun.. tapi satu pesan papa.. tolong cari yang seiman dengan kamu.. Jangan Namira.." Ucap Helsen. Rival pun mengangguk dan mengiyakan perkataan papanya.


...****************...


Dalam kesendiriannya, Rival pun duduk termenung. Iya senang karena pernikahannya dengan Binar gagal. Tapi, iya juga galau karena bagaimana pun keadaannya tetap saja iya tidak dapat bersatu dengan Namira.


Nadia yang melihat Rival sedang termenung sambil duduk-duduk di teras, akhirnya menghampiri kakaknya. Iya juga duduk di samping kakaknya.


"Hei.. kakak lagi ngelamun apa sih?" Tanya Nadia membuat Rival terkejut.


"Enggak kok dek.. kakak ga ngelamun.. Hanya saja lagi menikmati hari kebebasan kakak.." Ujar Rival menepis perkataan Nadia.


"Jangan bohong.. Aku tau kok.. apa yang sedang kakak pikirkan.. Pasti kakak lagi memikirkan Namira kan? Kakak memikirkan omongan papa tadi siang ya?" Ujar Nadia menebak. Rival pun tertunduk dan kenyataannya memang benar bahwa itu yang sedang Rival pikirkan.


"Kakak yang sabar ya.. nanti biar Aku yang mencoba untuk berbicara dengan Namira.." Ujar Nadia. Rival pun menoleh ke arah Nadia.


"Emang kamu mau ngomong apa sama Namira?" Tanya Rival penasaran.


"Sudahlah kakak tenang saja.. Aku ga mau kakak kayak gini.. Biar Aku bujuk Namira supaya mau kembali sama kakak.. masalah restu orang tua, nanti bakalan ikut sendiri kok.." Ujar Nadia.


"Sok tau kamu dek.. sudahlah ga usah.." Ujar Rival. Dan Rival pun langsung beranjak dari duduknya. iya pun langsung masuk ke kamar.


Nadia hanya senyum-senyum dengan tingkah kakaknya. Nadia pun juga masuk ke dalam. Dan Nadia berjanji akan menemui Namira.


.


.

__ADS_1


.


Keesokan harinya, Nadia pergi ke rumah Namira. Iya langsung ingin menemui Namira dan membicarakan tentang Rival.


Sesampainya di rumah Namira, Nadia pun segera bertemu dengan Namira. Namira menyambut baik Nadia. Iya senang jika Nadia bermain ke rumahnya.


"Namira.. Aku kesini, karena ada hal penting yang harus Aku bicarakan sama kamu.." Ujar Nadia. Nadia tampak mengernyitkan dahi karena tidak mengerti tentang apa yang ingin dibicarakan.


"Apa itu Nadia?" Tanya Namira penasaran.


"Namira.. kamu tau enggak, kalau kakak Aku batal nikah dengan Binar?" Ujar Nadia memberitahu. Namira pun terkejut dengan pernyataan Nadia.


"Oh iya? Kenapa bisa?" Tanya Namira.


"Ya, bisa lah Namira.. namanya juga bukan jodoh.. pasti ada aja lantaran nya. Lagian, Aku juga bersyukur kalau kakakku gagal nikah dengan Binar.." Ucap Nadia. Namira heran dengan ungkapan Nadia.


"Loh kok bisa gitu? Kamu ga suka liat kakak kamu menikah dengan perempuan lain?" Tanya Namira.


"Ya, suka lah.. Aku juga pengen liat kakak Aku bahagia.. tapi kalau sama Binar kakak Aku ga akan bahagia.. malah yang ada kakak Aku menderita.. secara Binar kan, orangnya mata duitan.. Dan lagi ya Namira, papanya Binar itu menipu orang tua Aku.. Papanya Binar telah menyabotase perusahaan papa Aku, sehingga papa Aku itu mengira kalau perusahaannya bangkrut. Dan untung kak Rival itu pemikirannya cerdas. Dan Kak Rival sempat curiga dengan tingkah papa yang selalu nurut dengan omongan om Jonas.. Dan kak Rival pun menyelidiki semua ini, ternyata benar, ada sesuatu dibalik semua ini.. Ya, akhirnya gagal deh pernikahannya karena ketahuan kebusukannya.." Cerita Nadia panjang lebar. Namira turut prihatin dengan cerita Nadia.


"Lalu, tujuan kamu kesini apa?" Tanya Namira.


"Namira.. kak Rival sebenarnya senang dengan pernikahannya yang gagal.. tapi, ada yang membuat kak Rival bimbang, kak Rival masih memiliki perasaan sama kamu Namira.. tapi, meskipun gagal, tetap saja papa... ya, begitulah Namira kamu tau sendiri." Ujar Nadia tidak meneruskan kata-katanya. Namira mengerti apa yang dimaksud oleh Nadia.


"Nadia, Aku paham maksud kamu.. lagian Aku sadar kok.. Aku juga ga mungkin kan.." Ucap Namira juga tidak bisa meneruskan kata-katanya.


"Namira, Aku mohon.. tolong, kamu kembali sama kak Rival.. Dan kalau masalah restu orang tua, Aku yakin seiring berjalannya waktu, pasti mereka akan merestui juga kok.." Ujar Nadia. Namira pun tersenyum dengan perkataan Nadia.


"Nadia, gimana ya.. Aku minta maaf.. Aku ga bisa.. lagian Aku juga sudah punya tunangan.. terus tunangan Aku mau dikemanakan? Lagian Aku juga ga mau ada konflik lagi, Aku ga mau papa kamu tambah membenci Aku.. Lagian, Aku berbeda dengan kak Rival.. Aku ga mungkin meninggalkan Tuhan aku, begitu juga dengan kak Rival, iya tidak mungkin meninggalkan tuhannya. Dan kalau kami menikah beda agama, pernikahan kami tidak sah.. Aku harap kamu ngerti ya.." Ucap Namira.


Nadia pun mengangguk paham maksud Namira. Iya pun tersenyum dengan perasaan sedikit kecewa tapi malu. Tapi, Nadia juga ga bisa menyalahkan Namira. Karena memang begitu keadaanya. Dan Namira pun berkata lagi.

__ADS_1


"Nadia.. Aku selalu berdoa untuk kak Rival.. semoga iya selalu bahagia.. dan menemukan kebahagiaannya walaupun bukan bersama Aku.." Ucap Namira. Nadia pun tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada Namira. Karena Namira selalu bersikap baik kepada kakaknya.


__ADS_2