
“Qobiltu nikaakhaha wa tazwiijahaa bilmahril madzkuur khaalan.”
Kalimat ijab dan qabul terucap, maka Arsy berguncang saking beratnya perjanjian yang terikrar di hadapan Allah. Tidak hanya manusia, tetapi para malaikat juga menjadi saksi peristiwa sakral tersebut.
Suasana hening beberapa detik. Penghulu menengok ke arah saksi untuk bertanya. Kemudian, dua saksi itu mengangguk bergantian sehingga riuh terdengar suara ‘sah’ dari para keluarga yang hadir.
Napas yang sempat tertahan di tenggorokan akhirnya keluar juga. Angkasa bernapas lega dan mengucap hamdallah diikuti mengusap wajah. Doa dipimpin penghulu langsung mengudara sehingga suasana kembali tenang.
Tuan Tirta menepuk bahu Angkasa selepas berdoa. Pria itu memberikan senyum hangat dan bermaksud menenangkan. Tidak cukup hanya itu, beliau lantas berdiri dan memeluk. “Aku serahkan putriku untukmu. Sayangi dia, melebihi sayangku padanya.”
Air mata Angkasa menetes. Dia sudah tahan untuk tidak menangis sejak tiba, tetapi sangat sulit. Pria itu mengangguk di pelukan. “Baik, Paman. Insyaallah.”
“Tidak seharusnya panggilanmu seperti itu.”
Pelukan Tuan Tirta terlepas dan disambut senyum tipis dari Angkasa. “Maaf, Ayah mertua.”
Sikap hangat Tuan Tirta tak hanya melapangkan hati Angkasa, tetapi Tuan Aji pula. Sebagai adik tiri yang tidak pernah dianggap, penerimaan Tuan Tirta pada keluarganya adalah salah satu hal yang patut disyukuri. Meski Tuan Tirta mengaku tak akan bisa akrab berlebihan, paling tidak kebencian itu tak lagi membara.
Pengisi acara dari wedding organizer mempersilakan Angkasa dan yang lain bersiap untuk menyambut pengantin wanita kala penghulu mengabarkan harus ada tanda tangan. Pria itu mempersilakan Myria yang sejak tadi ada di ruang tengah agar keluar.
Angkasa tinggalkan tempat duduk lalu berdiri di tengah-tengah tamu yang hadir. Dia berbalik kala pengisi acara selesai mengatakan bahwa Myria telah tiba.
Tubuh berbalut jas putih itu berputar 180 derajat secara perlahan. Angkasa melihat Myria ada di depannya dengan gaun dan jilbab yang memiliki warna sama seperti pakaian miliknya. Dada pria itu tiba-tiba sesak seiring napas tidak beraturan lalu tersusul air bening jatuh dari kedua mata.
Tangis Angkasa tak terbendung karena perasaaan yang campur aduk. Seharusnya dia bahagia mendapatkan Myria lagi, tetapi perilaku kali ini di luar kendali.
__ADS_1
Melihat tangis sang anak begitu parah, Tuan Aji berdiri dan menghampiri. Pria itu memeluk, tetapi justru membuat Angkasa makin sesenggukan. Ada senyum dan juga air di sudut mata Tuan Aji karena paham bagaimana perasaan putranya kini. “Doakan istrimu, bukannya menangis seperti ini.”
Angkasa tak jua terdiam. Bahunya masih naik turun di pelukan sang ayah. Segala kecamuk di pikiran dan hati yang telah lama membelenggu seolah kini menemukan waktu untuk melampiaskan.
Penglihatan Tuan Aji ganti mengarah pada Myria. Menantu perempuannya itu ternyata sudah ada di pelukan Nyonya Caroline dan Nyonya Nasita.
Suasana cukup menarik perhatian semua tamu karena sukses menghadirkan haru.
Pengisi acara sampai menjeda kata-kata untuk waktu sejenak, bahkan sebagian pekerja WO yang perempuan ikut mengusap pipi beberapa kali.
Setelah puas meluapkan emosi, tangis Angkasa mereda. Dia melerai pelukan, lalu diantar sang ayah mendekati Myria.
Langkah demi langkah sukses menghadirkan getaran mahahebat di hati. Angkasa ingin mengulas senyum, tetapi sulit karena masih sesenggukan.
Dalam jarak cukup dekat, langkah Angkasa dan Myria berhenti. Keduanya perpandangan sebentar, sebelum akhirnya Myria mencium tangan Angkasa sebagai penghormatan. Abaikan sejenak gejolak di dada yang terus memberontak, Angkasa lekas menaikkan satu tangan lain untuk mengusap kepala sang istri lalu melantunkan doa. Usai doa tersebut, keduanya duduk karena harus tanda tangan berkas dan menerima buku nikah.
Berbeda dari kerabat yang hadir sedang sibuk makan dan bercengkrama, Angkasa justru kehilangan selera. Saking bahagianya, dia tidak ingin apa pun.
“Isi perut lo, nanti masih harus resepsi.” Sakti mendekat. Dia sodorkan piring berisi kurma dan beberapa potongan buah karena melihat sahabatnya menolak tawaran Nyonya Nasita makan nasi atau makanan berat yang lain. Dia tarik kursi kosong di sebelah, lalu duduk nyaman sambil sarapan.
“Lo balik habis ini?” Satu butir kurma masuk ke mulut Angkasa sambil bicara.
Anggukan diberikan Sakti. “Gue langsung ke hotel ntar malem. Eh, sore aja. Lo chat gue kalau otewe.”
Angkasa menoleh, lalu mengangguk. Tangan kanannya merangkul Sakti tanpa aba-aba. “Gue punya utang banyak sama lo.”
__ADS_1
Tak ada jawaban. Sakti hanya membalas dengan tatapan sepintas, lalu kembali melahap makanan.
Cukup lama keluarga berbincang hingga mengantarkan waktu menunjuk angka sebelas. Beberapa tamu yang hadir pagi tadi pamit pulang dan akan kembali sore. Tuan Aji dan Nyonya Nasita bahkan izin pulang ke rumah pada Tuan Tirta.
“Kalian di sini atau ikut ke rumah?” Tuan Aji bertanya pada Angkasa dan Myria.
Akan tetapi, pengantin baru itu belum sempat menjawab, Tuan Tirta sudah menyela, “Biarkan di sini. Kalian tinggal menyusul ke hotel nanti.”
Tuan Aji setuju. Dia tinggalkan Angkasa di kediaman Sastra dan pulang bersama sang istri.
Orang-orang mulai istirahat meski tidak lama. Angkasa dan Myria menuju kamar yang telah dibersihkan. Bukan kamar pengantin baru, melainkan kamar tamu karena memang persiapan kamar pengantin ada di hotel.
Pintu tertutup. Suasana menjadi canggung dan terasa aneh, padahal hari ini adalah hari yang diharap Angkasa maupun Myria.
“Ka … sa.” Sekian menit kebisuan membungkam mulut, Myria memberanikan bicara lebih dahulu. Dia angkat kepala pelan-pelan, lalu segera menunduk kala menyadari Angkasa menatapnya begitu serius.
Dengan tatapan mengarah ke lantai, Myria bisa melihat kaki sang suami menuju ke arahnya. Tidak berselang lama dia tasakan sentuhan di kedua bahu.
“Angkat kepalamu.”
Suara Angkasa menggetarkan jiwa, meluluhlantakkan keberanian hingga tersisa hanya rasa malu. Namun, meski demikian, Myria tak ingin mengecewakan. Dia turuti kemauan sang suami.
Garis bibir Angkasa mulai melengkung kala retinanya berhasil memenjarakan bayang Myria. Satu tangan pria itu mengarah ke belakang kepala sang istri. “Boleh aku membukanya?”
Dua mata Myria berkedip teratur. Dia mengangguk hati-hati. Detik berikutnya, terasa sentuhan lembut dari dalam jilbab belakang dan tersusul lepasnya ikatan cadar yang sejak tadi menutup wajah.
__ADS_1
Ada haru menyeruak di dada lagi kala tangan berhasil meloloskan pelindung wajah istrinya. Angkasa tetap berusaha tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Assalamualaikum, Zawjati.”