
“Aku di bawah, Sayang. Cepet turun.”
Myria segera mengembalikan anak Faiza setelah membaca pesan dari Angkasa. Wanita itu pamit dan selalu mengatakan besok pasti datang lagi. Setiap hari, sejak Faiza keluar rumah sakit hingga bayinya berusia tiga bulan, rutinitas Myria memang demikian.
Faiza tinggal di apartemen Myria secara cuma-cuma. Dia sempat ingin pergi dan mencari kontrakan sederhana, tetapi Myria melarang. Myria bilang, daripada apartemen itu kosong, lebih baik ada yang menunggu.
Sebenarnya Faiza tidak enak hati pada Myria dan Angkasa, tetapi karena dipaksa terus menerus, perempuan berumur kepala tiga itu akhirnya setuju.
“Makasih, Tante. Udah nemenin Ibrahim, becok sini lagi, ya,” kata Faiza dengan nada bicara seperti anak kecil. Dia peragakan tangan sang anak melambai pada Myria saat mengantar sampai pintu.
Sepeninggalnya Myria, Faiza menghela napas. Ada haru menyeruak di dada setiap kali ingat kebaikan yang dia dapatkan secara gratis. Myria bukan siapa-siapanya, tetapi begitu peduli melebihi saudara sendiri tanpa berpikir ulang dalam membantu.
Hari mulai gelap saat Myria tiba di lobi apartemen. Dia segera keluar dan menuju mobil di depan pelataran yang telah menunggu.
“Hai.” Kalimat itu terucap begitu dia duduk di samping sang suami. Satu tangan Myria menarik tangan Angkasa untuk mencium, lalu mendekatkan kepala dan mendapat kecupan di kening.
“Kita ke lab ambil hasil tesmu.”
Angkasa mengangguk. Dia hampir lupa bahwa pagi tadi melakukan tes pengecekan sperr-ma untuk kedua kali setelah terapi obatnya selesai. Berbulan-bulan proses menjemput kehamilan telah dilakukan bersama Myria, tetapi memang belum ada tanda-tanda apa pun. Angkasa tak banyak bicara atau mengungkit soal anak. Dia hanya menjalani apa kemauan sang istri tanpa ingin berniat menyakiti andai itu dibahas terlalu serius.
Pengambilan hasil di laboratorium tidak lama. Selesai dari resepsionis, Angkasa dan Myria langsung pulang. Keduanya tidak ada acara mampir atau apa pun karena azan magrib telah berkumandang.
“Nanti aja lihatnya. Mandi dulu terus salat.”
Myria menurut. Amplop putih berlogo nama laboratorium itu diletakkan ke meja nakas dekat tempat tidur, lantas dirinya bertolak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Salat magrib, makan malam usai, hingga tiba waktu beristirahat, Myria baru ingat tentang hasil pemeriksaan yang sempat disimpan. Wanita itu menarik amplop itu dan duduk bersandar di ranjang.
Angkasa masuk kamar dengan laptop menyala. Alisnya langsung terangkat saat melihat sang istri begitu serius memperhatikan selembar kertas. Ketika tatapannya bergeser sedikit, pria itu tahu apa yang sedang dibaca sang istri.
“Udah bagus?” Berbeda dari Myria yang begitu penasaran dan tak sabar menunggu hasil pemeriksaan, Angkasa justru santai tanpa beban. Dalam benak pria itu memang tidak ingin terlalu berharap tinggi. Ada anak ataupun belum, Angkasa tidak memikirkan itu.
Mendapatkan Myria lagi adalah salah satu kebahagiaan yang paling Angkasa syukuri selama ini. Tekadnya menunggu sembilan tahun dan berbuah manis sudah cukup memuaskan hati tanpa harus menuntut Sang Pencipta untuk perkara anak. Namun, dia tahu pikiran Myria berbeda darinya, maka dari itu Angkasa tetap menjalani program kehamilan semata-mata agar sang istri tenang.
Myria mendongak. Ekspresi seriusnya seketika berubah senyum merekah. Dia hampiri Angkasa lalu merentangkan tangan dan memeluk erat. “Bagus, alhamdulillah.”
Tertular Myria, Angkasa ikut tersenyum. Kecupan diberikan ke kepala sang istri, lalu mengusap punggung wanita itu dengan satu tangan yang tidak menyangga laptop.
“Besok ke Obgyn. Sekarang tidur dulu.”
Pelukan baru terlepas, Myria kembali ke ranjang dan bersandar. Angkasa di sampingnya duduk tenang dengan mata fokus pada layar laptop menyelesaikan pekerjaan.
“Hm?” Jemari Angkasa berhenti. Dia menengok sedikit ke sebelah kiri di mana sang istri tengah menyandarkan kepala ke lengan. “Jangan overthinking, My.”
Myria tak menanggapi dan justru berkata lain. “Minggu-minggu ini Friska waktunya lahiran. Nggak kerasa dia udah mau jadi ibu. Masyaallah, ya.”
Angkasa menyingkirkan laptop dari pangkuan karena harus memberi perhatian penuh pada Myria. Ada saja yang dipikirkan wanita itu setiap hari padahal apa pun telah dimiliki.
“Kamu cemburu?”
“Enggak.”
__ADS_1
Jawaban singkat dari Myria membuat Angkasa menghela napas. Direngkuhnya bahu sang istri guna memberi kehangatan dan kenyamanan. “Anak itu amanah yang cukup berat, Sayang. Ingat sabda Nabi Muhammad kalau orang mandul itu bukan yang nggak punya anak. Orang mandul menurut Rasulullah itu orang tua yang banyak anak, tapi anak-anaknya nggak memberi manfaat setelah orang tuanya meninggal dunia.”
Bibir Myria mengatup sempurna mendengar perkataan Angkasa. Ucapan sang suami memang bukan sekadar kalimat penghibur, tetapi dirinya juga tahu hadits tersebut.
Ditepuk-tepuknya punggung Myria secara lembut, Angkasa lanjut berkata, “Kita ngejalani hidup itu cuma bisa dengan dua cara. Sabar dan Syukur. Bersabarlah sama ujian kita ini. Kamu sabar, berarti kamu ikhlas, ridha sama ketetapan Allah. Aku nggak mau kamu terlalu fokus sama hal yang kamu pengin sampai-sampai lupa sama apa yang udah kita miliki. Allah itu adil dan kamu harus yakin itu. Jangan pernah gadaikan iman cuma karena perkara dunia, Habibati.”
Seperti terkena tetesan air es, hati Myria langsung dingin. Dua matanya menatap lekat wajah Angkasa cukup lama, lalu berakhir tenggelam dalam pelukan.
Ada kesedihan yang tak terbantah saat membahas keturunan. Meski Myria tahu permasalahan ada padanya juga dan bukan hanya pada Angkasa. Akan tetapi, sebagai wanita, dia juga ingin segera memiliki momongan.
“Ka ….”
“Hm?”
“Kalau aku minta kamu nikah lagi gimana?”
.
.
...-To be continued-...
.
Rujukan hadist yang dikatakan Angkasa:
__ADS_1
"Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabat: “Tahukah engkau siapakah yang mandul?” Para sahabat menjawab; “Orang yang mandul ialah orang yang tidak mempunyai anak”. Lalu Rasulullah bersabda; Orang yang mandul ialah orang yang mempunyai banyak anak, tetapi anak-anaknya tidak memberi manfaat kepadanya sesudah ia meninggal dunia.” (HR. Ahmad)