Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Rival dan Rita


__ADS_3

Pagi-pagi, Rival sedang ingin berolahraga. Iya ingin menjadi lebih bugar pagi ini. Karena suasana hatinya memang lagi bagus saat ini. Dari balik itu, Rita sedang mengamati Rival. Iya melihat Rival lebih ceria saat ini merasa ikut senang.


Karena Rival moodnya sedang, baik makan Rita tidak ingin mengganggunya. Karena iya tau. Kalau Iya sedang mendekatinya, maka moodnya akan hilang kembali. Rita pun kembali ke dalam dan ingin kembali ke dapur. Tapi, Marta malah mencegahnya.


"Kamu kemana Rita?" Tanya Marta.


"Aku mau ke dapur tante.." Jawabnya.


"Mau ngapain ke dapur?" Tanya Marta lagi.


"Aku ingin masak tante.. seperti biasa.." Tutur Rita.


"Sudah.. tugas kamu bukan masak.. tugas kamu itu adalah membantu menyembuhkan Rival.. kamu masih ingat kan dengan utama kamu?" Kata Marta. Rita pun mengangguk paham.


"Iya tante.. saya paham.. tapi, masak itu kan juga bagian dari menyenangkan seseorang tante.. kalau orang itu suka masakan kita.. tentunya dia pasti akan senang.. Lagian, Rival sekarang lagi olahraga tante.. moodnya sedang baik. Jadi, Aku tidak akan mengganggu moodnya yang sedang baik. Entar kalau melihat Aku, moodnya tiba-tiba berubah tidak baik lagi." Tutur Rita.


"Ya, sudah kalau itu mau kamu.. Tante tidak memaksa.. tapi, tante ingin melihat kamu masak.." Ucap Marta.


"Boleh kok tante.. mari.." Ujar Rita.


Rita pun memulai masak. Iya memasak beberapa makanan yang terbilang sederhana. Marta sangat kagum dengan cara masak Rita yang cekatan. Marta hanya bisa menggelengkan kepala. Dan Marta pun juga ikut mencicipi makanan yang dimasak oleh Rita.


"Masakan kamu oke Rita.. Enak banget.. rasanya pas.. tante suka. ini pasti Rival suka dengan masakan ini.." Ucap Marta yakin.


"Terimakasih tante.. saya senang kalau tante suka masakan saya.." Ucap Rita.


.


.


.


Dari kamar Nadia, Nadia mencium bau sebuah masakan yang wangi dan menggoda selera. Nadia pun menikmati aroma masakan yang lezat itu. Iya pun bertanya kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Em.. wangi masakan ini membuat Aku jadi lapar. Siapa ya, Kira-kira yang masak ini? Aku jadi kepo.." Ujar Nadia. Dan Nadia pun akhirnya pergi ke dapur dan melihat siapa yang memasak makanan itu.


Setelah Nadia melihat siapa yang memasak, Nadia pun jadi tau. Ternyata yang memasak adalah Rita. Dan Nadia pun menghampiri Rita.


"Rita.. jadi dari tadi kamu yang masak?" Tanya Nadia. Rita pun mengangguk.


"Iya Nadia.. dari tadi memang Rita yang masak.. mama aja sudah cicip masakan dia loh.." Ucap Marta.


"Jadi, mama sudah cicip duluan?" Tanya Nadia. Marta pun mengangguk.


"Yah, mama.. keduluan deh.. Tapi ga apa-apa, pasti makanannya enak kan.. Aku tunggu di meja makan aja ya?" Ujar Nadia. Nadia pun langsung bergegas untuk ke meja makan.


Sementara Rita sudah selesai memasak. Rita sangat cekatan dalam. bekerja. Marta pun senang dan Rita memang menantu idaman.


"Rita.. kamu sudah biasa masak sendiri kayak gini?" Tanya Marta.


"Kalau di rumah bukan Rita yang masak tante.. tapi mama.. Rita cuma membantu mama di dapur.." Ucap Rita. Marta pun mengangguk paham.


"Oh.. jadi Rita suka bantu-bantu mama di dapur? Sejak kapan Rita suka bantu-bantu mama?" Tanya Marta lebih detail.


"Rita tidak merasa capek gitu?" Tanya Marta lagi.


"Enggak kok tante.. Rita sudah biasa lakukan ini.. lagian kasian mama kalau harus melakukan pekerjaan rumah sendirian.." Ucap Rita. Marta pun tersenyum dengan kata-kata Rita. Marta menjadi lebih suka dengan Rita. Karena Rita memang anak yang baik.


"Andai aja.. Rival melihat kebaikan Rita.. pasti Rival akan kagum dengannya. Kebaikan Namira ada pada Rita.." Tutur Marta dalam hati.


Marta pun membantu Rita untuk menyiapkan makanan sarapan pagi untuk keluarga. Dan setelah selesai menyiapkan makanan, Marta pun memanggil semua penghuni rumah. Helsen dan Rival datang secara bersamaan. Helsen dan Rival melihat macam-macam hidangan makanan di meja. Dan Melihat masakan itu mereka berdua langsung lapar.


"Sudah Aku duga.. masakan ini pasti enak.. kelihatan dari aromanya.." Ujar Helsen.


"Iya pa.. mama memang jago masak.." Ujar Rival mengira mamanya yang memasak semua itu. Rita pun hanya diam saja dan tersenyum. Lalu Rita menjawab.


"Iya.. tante Marta memang jago masak.." Ucap Rita. Marta pun terkejut ketika masakan itu Rita bilang dirinya yang memasak makanan tersebut. Sebelum Marta mengatakan yang sebenarnya, Rival mengejek Rita terlebih dahulu.

__ADS_1


"Ya, iyalah.. masakan mama Aku kan memang enak.. gak kayak masakan kamu. Rasanya hambar.. makanya kalau tidak tau masak ga usah sok-sokan bisa masak deh. Aku tau kamu itu cuma cari muka saja kan, di depan mama dan papa." Sungut Rival.


"Rival.. ga boleh berbicara seperti itu.." Tegur Marta.


"Ya, emang kenyataannya begitu kok ma.." Ucap Rival.


"Kakak ketus banget si sama Rita.. padahal Rita sudah baik loh.." Ujar Nadia juga.


"Baik apanya? Cuma baik di luar iya!" Ujar Rival lagi. Kemudian Marta pun menghentikan ucapan Rival.


"Rival, cukup! Ini bukan Mama yang masak.. ini semua yang masak adalah Rita. Kalau kamu ga percaya, kamu bisa tanya ke Nadia.. Nadia juga jadi saksinya.." Ujar Marta.


Rival pun langsung terdiam malu mendengar pernyataan yang sebenarnya. Dan melihat ini, Rita pun berusaha membela Rival.


"Tante.. sudah," Ucap Rita.


"Rita, kamu ga usah bela Rival. Sekali-kali biar Rival tau dan membuka matanya." Ujar Marta. Rita merasa tidak enak dengan Rival. Dan Rita hanya bisa diam saja. Sementara Rival, Iya menatap Rita dengan tatapan tajam.


...****************...


Rival pun menghampiri Rita ketika Rita sedang bersantai.


"Heh! Bisa ga sih kamu itu ga usah cari muka di depan keluarga Aku?" Sungut Rival.


"Siapa yang cari muka di depan keluarga kamu? Aku biasa aja.." Jawab Rita.


"Halah.. sudah deh ga perlu munafik kamu. Aku tau, kamu itu cuma pencitraan saja kan?" Ujar Rival. Rita hanya menggelengkan kepala.


"Kamu bisa ga sih.. ga usah nuduh Aku seperti itu? Kalau kamu bilang cuma pencitraan, Aku mau tanya.. emang seperti apa sih pencitraan itu?" Tanya Rita.


"Ya, seperti kamu ini. Aku tau kamu cuma baik di depan.. tapi busuk dari belakang.. perempuan seperti kamu ini, Aku sudah hafal." Maki Rival. Rita hanya menggelengkan kepala. Rita memilih diam. Karena iya merasa percuma berdebat dengan Rival. Berbicara dengan Rival sama halnya dengan berbicara dengan anak kecil. Ga akan pernah mengerti.


Nadia yang melihat Rival memarahi Rita, akhirnya mencoba menghibur Rita. Setelah Rival tidak ada di hadapan mereka.

__ADS_1


"Rita.. kamu sabar ya.. kalau sikap kak Rival itu seperti itu.. tapi, kamu harus percaya kalau kak Rival itu aslinya baik kok.. Dia menjadi seperti ini.. karena ceritanya panjang.." Ucap Nadia. Rita pun hanya mengangguk paham.


__ADS_2