
Myria tidak menjawab, tetapi perempuan itu menunduk sembari menahan senyum. Nyonya Nasita yang ada di depan sempat dibuat bingung. Namun, karena memperhatikan terus menerus, akhirnya beliau paham.
Senyum tipis kembali terukir di bibir Nyonya Nasita. Wanita setengah baya itu menarik wajah Myria perlahan, lalu memberi tatapan lembut. “Dari sikapmu, Mama jadi tahu kalau kamu punya keinginan yang sama dengan Angkasa. Tapi kenapa jadi malu-malu gini?”
Mata bulat Myria tak mampu memandang Nyonya Nasita lama-lama. Andai terus dipaksakan, kemungkinan dirinya tak bisa lagi mengontrol diri. Myria merasa kebanjiran hormon kebahagiaan hingga lupa bahwa masih ada Tuan Tirta yang jadi penghalang.
Nyonya Nasita menarik napas lalu dibuang pelan. Satu tangannya menggenggam telapak tangan Myria, sementara satu lainnya mengusap kepala. “Mama dan Papa akan berusaha membantu kalian bersama lagi kalau memang masih saling menyayangi. Baik kamu maupun Kasa, sama-sama anak Mama. Tapi kamu juga tahu, Sayang, kalau ayahmu belum bisa terima keluarga ini. Mama harap kamu bisa bersabar.”
Seperti ditarik paksa oleh kenyataan, Myria tersadar. Senyumnya perlahan surut hingga berwajah serius kembali. Dia mengangguk pelan. “Insyaallah, Bunda.”
Kemarin, rasa khawatir sempat memenuhi pikiran Nyonya Nasita karena Angkasa menolak untuk dibantu melamar. Namun, sekarang saat mendapati jawaban Myria secara pribadi, Nyonya Nasita mendapatkan rasa lega sedikit.
Tidak memungkiri, meski sempat menawarkan beberapa perempuan pada sang anak untuk jadi menantu, Nyonya Nasita tetap berharap pada Myria. Beliau dahulu melakukan perjodohan lain karena mengira bahwa Myria tak akan pernah kembali ke tanah kelahiran. Daripada menunggu hal yang seolah mustahil karena adanya Tuan Tirta, Nyonya Nasita tetap ingin Angkasa membina rumah tangga.
“Ya, sudah. Sebaiknya kamu istirahat dulu, biar Mama ambilkan baju sesuai ukuranmu. Itu kamar kosong, tapi kalau mau mandi harus keluar karena kamar mandinya ada di ruang tengah arah ke dapur. Tidak masalah, kan?”
Satu kamar dengan pintu warna biru muda ditunjuk Nyonya Nasita. Dari posisi ruangan yang ada di dekat ruang tamu dan ruang tengah, tanpa dijelaskan Myria tahu bahwa kamar tersebut dipergunakan untuk tamu menginap. Tidak masalah, Myria memang tamu sekarang.
“Enggak pa-pa, Bun.”
Dua wanita itu beranjak, lalu menuju tempat masing-masing. Nyonya Nasita langsung meninggalkan Myria di kamar tamu dan berpesan bahwa handuk dan peralatan mandi ada di meja laci dekat jendela.
Myria mengiyakan. Setelah melepas cadar dan menaruh tas di atas ranjang, dia bertolak ke kamar mandi.
Air segar mengguyur badan sehingga mengembalikan semangat Myria. Meski beberapa hari digempur pekerjaan karena dikejar waktu, rasanya semua beban itu ikut luruh ke saluran pembuangan bersamaan air sabun.
Selesai dengan aktivitas mandinya, Myria kembali ke kamar. Setibanya di kamar, ternyata apa yang dibutuhkan sudah diletakkan di atas kasur. Myria tersenyum melihat satu set pakaian rumahan beserta beberapa produk perawatan tubuh yang masih utuh tersegel. Nyonya Nasita sangat pengertian, meski tidak memiliki anak perempuan.
__ADS_1
Azan magrib berkumandang mengharuskan Myria keluar kamar karena harus salat. Dia pikir, rumah yang cukup besar itu pasti memiliki musala. Myria berniat mengajak Nyonya Nasita untuk salat berjamaah meski hanya berdua. Namun, ternyata Tuan Aji tiba saat dirinya baru menutup pintu.
Myria melangkah ke depan untuk ikut menyambut. “Papa.”
Tuan Aji sempat kaget, lalu tersenyum senang melihat siapa yang datang. Dia terima salam dari Myria. “Sudah lama kamu di sini, Myria?”
“Belum, Pa. Mungkin satu jam lalu.”
Jawaban Myria dapat anggukan. Tuan Aji pamit membersihkan diri dahulu sebelum mengajak salat berjamaah di rumah karena sudah telat jika ingin ke masjid.
Salat, zikir dan doa telah usai. Meja makan kini menjadi tempat berkumpul. Nyonya Nasita paling antusias melayani suami serta Myria secara bergantian. Beberapa kali Myria menolak karena bisa mengambil semua makanan sendiri, tetapi Nyonya Nasita tidak memberi kesempatan.
“Mama makanlah, Ma.” Tuan Aji berujar setelah melihat kesibukan istrinya yang tak selesai-selesai. “Papa tahu Mama sedang senang sekarang, tapi apa itu buat Mama kenyang?”
Nyonya Nasita tertawa kecil. Beliau lantas duduk dan mulai menyiapkan porsi makannya sendiri. Di tengah kegiatan makan malam, masih ada banyak obrolan berlangsung.
Permintaan Nyonya Nasita menghentikan mulut Myria mengunyah. Dia mendongak dan menoleh pula pada Tuan Aji. “Eum, tapi ….”
“Tenang saja, Kasa pulang masih minggu depan.”
Binar harap dari kedua mata Nyonya Nasita memancar hingga meluluhkan hati Myria. Meski sangsi, sahabat Friska itu akhirnya mengangguk.
“Mama jangan terlalu sering memaksa Myria, Ma.” Tuan Aji mengingatkan agar istrinya tidak kebablasan. Bagaimanapun juga, Myria sudah dewasa, perempuan itu punya privasi dan hak mengambil keputusan sendiri.
Tidak ingin ada perdebatan antara dua orang tua yang kini ada di depannya, Myria lebih dahulu angkat suara. “Myria nggak pa-pa, kok, Pa. Kalau Bunda enggak merasa direpotkan, Myria mau tidur di sini.”
“Tentu saja tidak. Mama justru merasa punya teman mengobrol sesama wanita kalau kamu di sini.”
__ADS_1
Tuan Aji hanya menggeleng melihat dua wanita di samping kanan dan kirinya itu tertawa. Beliau memang tidak terlalu ikut campur jika bukan masalah serius.
“Tinggal di mana kamu, Myria?” Topik pembicaraan sengaja Tuan Aji alihkan. Beberapa tahun tidak bertemu, sedikit banyak beliau ingin tahu kondisi mantan istri putranya itu.
“Di Sunrise Apartment, Pa.”
Kening Tuan Aji berkerut. Beliau menarik gelas, lalu meneguk air beberapa kali. “Kenapa tidak tinggal di rumah?”
“Enggak. Di rumah ada Om Daniel. Aku sengaja minta apartemen sama Ayah karena sudah terbiasa sendiri.”
“Ayahmu mengizinkan?”
“Um.” Myria mengangguk karena mulutnya masih terisi makanan. “Ayah selalu menuruti kemauan Myria selagi bisa, kok, Pa.”
Senyum bahagia memancar di wajah Tuan Aji. Pria itu menaruh sendok dan garpu di samping piring. “Ayahmu bisa semua, Myria. Mungkin hanya satu yang tidak bisa. Yaitu, menerima keluarga ini. Papa minta maaf padamu dan Kasa andai anak itu sekarang di sini, Papa minta maaf karena kesalahan di masa lalu, membuat kalian yang saling menyayangi harus terpisah dan sulit bersama lagi seperti ini.”
Keseriusan Tuan Aji membuat mata Myria dan Nyonya Nasita berkaca-kaca. Kondisi makan malam yang hangat, tiba-tiba berubah mendung. Myria bangkit dari duduknya, lalu mendekat, “Pa, Bun, apa Myria boleh memeluk kalian?”
Nyoya Nasita yang lebih dahulu mendekat dan memeluk, sementara Tuan Aji baru menyusul. Suasana menjadi haru karena pembahasan yang terjadi.
“Sabar, ya, Nak, ya. Allah tahu waktu yang terbaik buat semua hamba-hamba tak berdaya seperti kita. Mama dan Papa akan berusaha sebaik mungkin nanti kalau Kasa sudah siap.”
***
Pagi hari saat jam masih menunjuk angka tiga, Myria terbangun. Meski hari libur, dia tidak ingin bermalas-malasan.
Keluar kamar karena ingin ke toilet dan lanjut salat malam, Myria dibuat khawatir dengan suara berisik dari luar. Dia memutar arah dan justru menuju ruang tamu untuk memastikan. Namun, sampai depan, dia menjerit saat berhasil menyalakan lampu.
__ADS_1