
“Yoi, Bro. Kenapa?”
Balasan Sakti membuat Myria menggigit bibir bawah. Antara lanjut atau menyudahi aktivitasnya mengirim pesan pada sahabat suami secara diam-diam, Myria masih begitu gamang.
Dilihatnya Angkasa yang telah tertidur pulas setelah minum obat, lantas Myria kembali menatap layar ponsel. Dadanya mengembang saat menarik napas panjang, Myria berusaha meninggalkan ranjang secara perlahan.
Wanita itu sadar perbuatannya salah karena terlalu berani menghubungi pria lain apalagi dengan mencuri ponsel sang suami. Namun, Myria juga terlalu penasaran atas apa yang ada di pikiran sejak sore tadi.
“Sakti, ini aku Myria. Bukan Kasa.” Balasan itu akhirnya diketik dengan buru-buru dan langsung dikirim. Berulang kali mata Myria mengawasi Angkasa meski suaminya tidak menunjukkan pergerakan.
Sakti yang ada di kamarnya sontak mendelik. Buru-buru dia menanyakan kenapa Myria menghubungi, apalagi memakai nomor Angkasa. “Serius elo? Ngapain chat gue, My? Pakek nomor Kasa pula. Gue nggak mau dibunuh suami lo.”
Myria kembali melirik tempat tidur, lalu mengetik lagi. “Iya, nanti aku hapus. Tapi aku mau nanya penting.”
“Penting apaan?” Balasan Sakti begitu cepat. Dia harus menyudahi obrolan tersebut. “Gue masih pengin hidup, by the way.”
Embusan napas pelan dikeluarkan lagi dari bibir. Myria kini merasa bersalah pada Angkasa maupun Sakti. Sahabat suaminya itu pasti juga tidak nyaman dan ada rasa waswas berkomunikasi diam-diam seperti ini.
“Itu, kamu bisa kasih tahu aku nggak soal hubungan Kasa sama Erika dulu? Kamu temen deket Kasa, kan? Pasti tahu semua. Please.”
Makin tergagap Sakti membaca balasan pesan dari istri sahabatnya. Pria itu sampai meneguk segelas air dari nakas yang ada di samping tempat tidur karena tenggorokan mendadak kering. Satu tangan meraup wajahnya yang tampan, Sakti dilema.
“Sakti, gimana? Please, abis itu aku tutup percakapan ini.” Belum sempat membalas karena bingung, pesan Myria kembali masuk. Kepala Sakti mendadak pening.
“Buat apa, My? Erika cuma masa lalu Kasa. Gue nggak berani ngomong apa pun. Sorry banget. Lebih baik lo nanya ama Kasa sendiri.”
Kalimat yang tertulis dalam balon obrolan membuat bahu Myria melemas. Dia kira akan mudah mencari jawaban melalui Sakti yang notabene temannya pula. Namun, ternyata justru demikian.
__ADS_1
Andai Angkasa tidak kesakitan atau telah menjawab pertanyaan soal Erika sore tadi, hal gila saat ini sudah pasti tidak Myria lakukan.
Tak ingin memaksa lagi, Myria segera menghapus beberapa pesan yang tadi dikirim. Langkahnya bergegas menuju ke tempat tidur dan menyimpan kembali ponsel Angkasa ke meja dekat ranjang. Saat tangan suaminya meraba-raba sisi tempat tidur lain, Myria segera merebahkan diri dan menangkap tangan tersebut.
Telapak tangan dengan tekstur halus dan warna kulit yang cerah itu dikecup Myria berulang kali. Ada rasa sedih mahahebat yang mengurung hatinya. Myria memang tak mengenal dunia Angkasa di masa lalu karena dalam pikirannya hal terpenting adalah masa depan bersama. Namun, ketika masa lalu hadir dan bisa saja menjadi duri dalam rumah tangga, jiwa penasaran sebagai manusia akhirnya timbul.
Terusik akan sesuatu dalam lelapnya, Angkasa membuka mata perlahan. Masih dengan sedikit kesadaran yang terkumpul, dia pandangi wanita di depannya. Akan tetapi, makin lama memandang seiring kesadaran penuh secara total, pria itu terperanjat melihat Myria menangis.
“Sayang … kenapa?” Angkasa bertanya dengan suara serak. Tangannya mendarat di pipi Myria lalu menyeka lelehan air mata yang membasahi. “Kamu mimpi buruk?”
Pertanyaan Angkasa membuat Myria makin tergugu. Tubuhnya merapat dan meminta dipeluk.
Angkasa yang bingung setengah panik langsung menuruti kemauan Myria. Pria itu berikan usapan lembut dari kepala hingga turun ke punggung.
Lama keduanya terdiam. Myria masih terisak-isak, sementara Angkasa terus berusaha menenangkan sebisa mungkin hingga tanpa sadar rasa kantuk berhasil menenggelamkan mereka ke alam mimpi.
“Kamu yakin ke kantor?” Myria bertanya khawatir. Baru berapa hari Angkasa istirahat, tetapi suaminya itu bersikeras berangkat kerja.
“Yah, aku udah baikan. Tapi kalau kamu khawatir banget, aku bakal balik cepet. Kasian Sakti dan yang lain kalau ngurus semua sendiri.”
Myria mendekat, lalu mengibaskan blazer dan membantu memakaikan. Wanita itu berdiri tegap di depan Angkasa, sesekali berjinjit saat bagian leher pakaian suaminya harus dibenarkan.
Ciuman singkat berhasil dicuri Angkasa. Myria langsung menutup bibir, efek kewaspadaan sebagai perempuan. Mata indahnya menatap sebal pada sang suami.
“Olahraga, biar tinggi,” kata Angkasa dengan senyum jail.
Tangan turun dari wajah dan dipakai untuk memukul. Bibir Myria mengerucut tidak terima. “Kamu aja yang kayak tiang listrik.”
__ADS_1
“Apaan, tinggiku nggak ada dua meter. Enak aja dibilang tiang listrik.”
“Biarin.”
Angkasa terkekeh pelan. Bahu dan kepalanya merendah, hingga sejajar dengan wajah istrinya. “Udah nggak ngambek?”
“Aku nggak pernah ngambek.” Pakaian Angkasa telah rapi. Myria hendak memutar badan. Akan tetapi, belum sempat tubuh itu berputar, tangan Angkasa begitu gesit menangkap pinggang Myria.
Seperti tak ingin ada jarak yang memisahkan, pria itu menarik istrinya hingga tubuh mereka berbenturan. “Suamimu ini nggak bego-bego amat kalau cuma merhatiin istrinya. Aku tahu kamu nggak nyaman apalagi lihat ayah Erika kemarin-kemarin itu. Tapi Ayah udah bilang juga, kan, kalau ayah Erika udah diproses jalur hukum. Kita tunggu kabar selanjutnya.”
“Ya.”
Di luar kendali, jawaban Myria sukses menguji kesabaran. Angkasa melahap bibir istrinya dalam satu gerakan.
Bola mata Myria seakan hendak keluar. Sekuat tenaga, dia mendorong dada Angkasa agar terbebas. Saat berhasil terlepas, tangannya langsung mengusap bibir yang mulai kebas.
“Kenapa diusap segala?” Tak cukup hanya kesabaran yang diuji, kini harga dirinya juga. Angkasa ingin berteriak frustrasi. “Apa semenjijikkan itu?”
Kepala mendongak, Myria menatap Angkasa begitu dalam. Demi menghindari salah paham, dia segera mencium balik sang suami. “Enggak, maafin aku. Aku cuma kurang nyaman kalau kamu terlalu brutal.”
Pengakuan Myria cukup membangunkan jiwa iba Angkasa. Pada akhirnya, pria itu yang mengalah. “Sorry.”
Bermesraan itu cukup. Angkasa berangkat dan rela diantar Myria daripada timbul pertengkaran lebih banyak. Pernikahannya baru seumur jagung, tidak mungkin pula waktu yang ada dihabiskan untuk hal sia-sia.
Sakti menyambut Angkasa begitu sahabatnya itu turun dari mobil. Dia beri rangkulan di bahu seperti biasa, lalu menyapa Myria sebentar.
Tepat ketika mobil meninggalkan area perusahaan, ekspresi Sakti berubah serius. “Gue perlu ngomong sama lo, Ka.”
__ADS_1