
“Kamu nggak istirahat, Sayang?” Angkasa memeluk Myria dari belakang. Terlihat istrinya itu masih sibuk dengan desain di laptop sejak Isya tadi. Kini, jam sudah hampir berada di angka sebelas, tetapi perempuan bergaun tidur silver itu tak jua menghampiri tempat tidur.
“Bentar lagi. Tinggal nyimpen ini,” kata Myria sembari menggeser kursor.
Tubuh Angkasa membungkuk. Dagunya diletakkan ke bahu Myria. Sesekali, sikap usilnya kambuh menciumi pipi dan bahu bergantian hingga membuat sang istri geli.
“Ka ….”
“Kenapa? Kerjain aja, aku bakal nunggu kamu.”
“Mana bisa konsen kalau kamu kayak gini?” Omelan Myria mulai mengudara, tetapi dua matanya tetap fokus ke layar laptop. “Susunya udah diminum? Tidur duluan aja.”
“Nggak bisa.” Tanpa harus cari alasan, Angkasa menjawab langsung. “Nggak ada yang usap-usap kepala aku, nggak bisa tidur.”
“Alesan.” Myria mendorong kepala Angkasa. Dia segera mematikan laptop karena percuma meneruskan pekerjaan saat sang suami sudah mulai manja seperti bayi.
“Serius, Sayang. Sejak nikah, aku nggak bisa jauh dari kamu.”
__ADS_1
Bola mata Myria berputar. Hampir tengah malam, haruskah percaya dengan bualan Angkasa? Wanita itu akhirnya beranjak setelah memastikan laptop mati. Kursi kerja, semua alat-alat yang tadi terpakai, dirapikan sebentar baru menarik sang suami untuk pindah ke kamar.
“Udah. Ayo, tidur,” kata Myria sembari menarik selimut guna menutup tubuhnya dan Angkasa. Suaminya itu maju, lalu memeluk dan membenamkan wajah ke dada. Secara refleks karena telah menjadi kebiasaan, satu tangan Myria mengusap rambut Angkasa.
“Kamu besok pulang telat lagi?”
Hampir saja mata Myria terpejam, tetapi terpaksa terbuka lagi saat mendengar pertanyaan Angkasa. Dia berhenti mengusap kepala sang suami sebentar. “Kayaknya iya. Bakal sibuk terus sampek resepsi Friska nanti. Kamu keberatan? Maafin aku, Ka.”
Angkasa menarik tubuh lantas mendongak. Dikecupnya singkat bibir sang istri sebelum berkata, “Nggak pa-pa. Aku cuma nggak mau kamu kurang istirahat. Apa perlu diambilin karyawan pabrik buat bantu jahit gaunnya Friska?”
Myria enggan setuju. Kepalanya menggeleng dengan dua mata menatap turun pada wajah pria yang berjarak beberapa senti darinya. “Dulu waktu kita nikah, Friska yang mati-matian ngebantu aku ngerjain gaun-gaun yang kupakai. Sekarang, aku juga harus gitu. Dia sebenarnya nggak maksa, tapi aku tetep mau lakuin apa yang dulu dilakuin sama dia.”
“Um.” Anggukan diberikan Myria sebagai tanda setuju. Bibirnya mengulas senyum manis hingga mengundang balasan dari Angkasa. Tak ada yang sulit bernegosiasi dengan suaminya itu asal apa yang Myria inginkan masih dalam batas wajar.
Dua bulan setelah kesibukan mempersiapkan pernikahan. Status Friska akhirnya berubah menjadi seorang istri dari pria bernama Zayyan Abimana. Meski usia mereka terpaut lumayan jauh, tetapi tetap saja terlihat serasi.
Pak Zayyan bukan guru olahraga, tetapi entah mengapa menurut murid-muridnya yang hadir dalam pesta mengatakan bahwa beliau terlihat awet muda.
__ADS_1
“Lo nggak pengin nikah, Bro?” Angkasa merangkul bahu Sakti. Dua pria itu sedang menatap pelaminan di mana para perempuan teman kelasnya dahulu berfoto ria.
Sakti terkekeh pelan. Dia meneguk minuman yang ada di tangan. “Belum kayaknya.”
“Kenapa?” Tatapan Angkasa menoleh ke samping karena jawaban Sakti cukup membangkitkan jiwa keingintahuan. Sebagai sahabat yang sudah seperti kembaran, Angkasa sedikit tak rela jika Sakti sendiri terus-menerus.
Sejak kecil, Sakti sering ditinggal orang tua dan banyak menghabiskan waktu seorang diri. Angkasa pikir, dengan memiliki istri, hidup Sakti akan jauh lebih berwarna.
“Gue nunggu anak lo aja.”
“Anjrit! Lo kalau gila nggak usah segitunya.” Tadi simpati, sekarang berganti emosi mendengar jawaban Sakti. Angkasa langsung melepas rangkulan dan mendorong sahabatnya itu karena kesal.
Sementara itu, seperti apa respons Sakti? Tentu saja hanya gelak tawa setiap Angkasa mengamuk. Namun, candaan itu tidak lama, Sakti segera menghampiri dengan wajah serius. “Gue masih perlu banyakin ilmu. Kalau ditanya nikah, belum kepikiran buat sekarang.”
“Tapi nyokap lo gimana?”
Pertanyaan Angkasa membuat Sakti menghela napas. “Jangan nanya itu, dari kemarin nyokap juga udah bingung nawarin anaknya orang ini, orang itu. Semua ditawarin buat ta’aruf. Tapi emang gue belum tergerak.”
__ADS_1
“Nggak pa-pa, Bro.” Angkasa menepuk bahu Sakti. Emosinya telah lenyap dalam beberapa detik. “Nikah bukan lomba. Gue dukung apa pun keputusan lo. Tapi kalau ada apa-apa, please banget kasih tahu gue. Selama ini lo udah banyak ngurusin hidup gue, gue juga pengin berarti buat lo.”
“Gue ikhlas nemenin lo, Ka.” Sakti bicara lirih tetapi masih bisa didengar. “Lo bisa sembuh dan bahagia, itu juga kebahagiaan buat gue. Sama kayak Tante Ayu yang sedih lihat lo sakit, gue juga gitu. Janji sama gue buat tetep bahagia kayak gini, Ka? Lo pengin berarti buat gue, kan?”