Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 44


__ADS_3

...Hai, Kak. Assalamualaikum, maaf baru update. Hehehe ...


...Sebelum baca bab ini, aku mau kasih info kalau plot di bab ini nyambung sama beberapa bab di MTK. Bab yang Myria hasil anak nikah siri, terus aku ganti anak di luar nikah? Nah, aku udah revisi bagian itu di MTK. Hasilnya, plot nggak berubah, ya. status Myria aku kembalikan dengan hasil anak nikah siri dan nasabnya udah aku benerin ke Tuan Tirta. Wkwkkk...


...Maafkan aku yang lalai ini,tapi moga nggak bingung. beberapa plot aneh di MTK udah aku tambal. Insyaallah udah cukup masuk akal, kok. heheh. ...


...Selamat membaca. Jangan lupa komen biar aku semangat.


...


...****


...


“Myria terima lo?”


Angkasa mengangguk samar. Respons itu sudah cukup membuat sahabatnya bernapas lega dan nyaris memeluk. “Gue tendang kalau lo peluk-peluk sembarangan!” Belum sempat tubuh menempel, Angkasa sudah memberi ultimatum.


Sakti langsung berhenti. Direktur Angkasa Pradana itu berdecak keras, lalu mundur dengan wajah cool. “Terus taaruf lo?”


“Nah, itu dia. Gue manggil lo ke sini buat bantu batalin. Temenin gue ke rumah Syahira, ajak ustaz juga buat ngomong ini.”


Baru saja senang dan lega karena sahabatnya dapat restu, ternyata itu belum sepenuhnya usai. Mau tidak mau, Sakti harus ikut menyelesaikan.


“Kapan ke sana?” tanyanya to the point.


“Ntar malem kali.”


“Anjir, lo dadakan bener. Nggak bisa gue.”


Dua mata Angkasa melotot. “Sok sibuk lo! Emang mo ngapain?”


“Anak-anak ngumpul. Lo lupa kalau ini jadwal keliling kayak biasanya? Tapi lo nggak usah ikut. Bahaya, ntar kalau kenapa-kenapa nggak jadi nikah.”


Mulut baru hendak terbuka, Sakti sudah melarang. Angkasa hanya bisa melirik tajam.


“Orang mau nikah banyak cobaannya, Ka.” Sakti berusaha memberi penjelasan agar sahabatnya tak salah paham. “Gue nggak mau lo kenapa-kenapa di jalan. Ntar, deh, ngumpul di rumah lo aja kalau emang anak-anak mau.”


Malas berdebat, Angkasa hanya berdehem. Dia bahkan bisa melupakan agenda rutin kumpul bersama geng motor gara-gara sibuk perkara hati. Jangankan jadwal temu, membuka grup obrolan pun sangat jarang dan memasrahkan semua urusan pada Sakti. Lagi-lagi sahabatnya yang kena.


Tidak berbeda jauh dari Angkasa dan Sakti yang aktif bekerja, Myria juga repot dengan urusannya di butik. Kemarin, dia belum sempat cerita apa pun pada Friska karena sudah larut malam saat keluarga Tuan Aji pamit. Tubuh yang lelah juga menjadi faktor wanita itu ingin segera istirahat.


“Aaaa … kamu serius, My?” Friska melompat kegirangan. Tubuhnya berputar-putar sembari mengangkat tangan dan berakhir menubruk Myria.

__ADS_1


“Hu’um.” Myria menjawab singkat saat badan kesusahan bergerak karena Friska memeluk terlalu erat.


“Ya Allah, My, alhamdulillah. Masyaallah. Nggak sia-sia juga. Bener kata ustazah, kan? Saat hati kita ikhlas dan fokus menggapai cinta-Nya, cinta makhluk-Nya akan datang sendiri tanpa kita tahu caranya.”


Senyum tak lekas pudar dari wajah Myria. Sama seperti Friska, dia juga bahagia. Sahabatnya saja seperti itu, apalagi dirinya.


“Eh, tapi bukannya Kasa lagi taaruf, ya?”


Kegirangan Friska langsung surut. Dia tatap sahabatnya meminta penjelasan.


Myria membenarkan pertanyaan. “Iya, emang. Udah nadzor malah. Tapi belum fix buat khitbah, sih. Kemarin dia bilang perkenalan itu mau dibatalin.”


“Eh, beneran? Emang nggak pa-pa akhwatnya?”


Bahu Myria mengedik lantaran tidak tahu pula perkara itu. Angkasa hanya bilang akan segera membatalkan proses taaruf dan baru fokus mengenai pernikahan bersama Myria. “Doain aja, lah.”


“Iya, aamiin.”


“By the way, ada waktu satu setengah bulan buat bikin gaun, nih,” kata Myria mengalihkan pembicaraan.


“Aku bantu buatin. Mau warna apa?”


“Biasanya. Putih aja yang netral.”


Sketchbook pindah ke tangan Myria. Wanita itu menggores kasar kertas yang masih bersih dengan ide yang dimiliki. “Nggak perlu susah-susah. Bikin dress model kayak gamis-gamis keseharianku aja buat akad. Tambahin border bunga tulip bagian rok. Roknya juga pakai model A-line biar enak buat jalan. Terus ….”


Pikiran Friska berpusat ke satu titik. Dia terus mengamati gambaran Myria dan mengingat detailnya. “Terus lengannya?”


Goresan tangan Myria berhenti. Dia ganti berpikir. “Belum ada ide.”


“Pakai lengan puff gimana? Pakein kancing. Atau pilih lengan biasa aja, My? Jahit lurus terus kita kasih juga jahitan payet di pergelangan tangan nanti.”


Myria menimbang tawaran Friska. Dua wanita itu mencoba menggabungkan sketsa gaun bagian badan dan tangan bergantian sehingga menghasilkan dua gambar berbeda. Kemudian, baru diputuskan memilih salah satu.


“Oke, deal yang ini. Kita ambil kain terus fitting.” Meja kerja ditinggalkan, Friska dan Myria menuju tempat penyimpanan stok kain.


“Ngomong-ngomong Kasa gimana? Sekalian di sini bikin bajunya?”


“Dia dibikinin Bunda kayaknya. Nggak tahu. Ntar nanya dulu, deh.”


“Masih nggak tukeran nomer hape?” Pertanyaan lain diajukan Friska karena merasa sahabatnya serba tidak tahu perkara calon suami.


“Nggak, lah. Buat apaan? Yang ada kebablasan bahaya.”

__ADS_1


“Iya, deh, iya.”


***


Pembatalan taaruf berjalan lancar. Ustaz dan keluarga Syahira tidak mempermasalahkan karena memang semua paham proses tersebut.


Akan tetapi, Angkasa tetap meminta maaf andai dalam perkenalan kemarin-kemarin sempat menyinggung atau melukai hati. Banyak hadiah dia kirimkan pada keluarga Syahira dan keluarga ustaz sebagai rasa terima kasih pula.


Kabar itu pun telah disampaikan pada keluarga. Myria bisa bernapas lega dan dia makin sibuk menjelang hari pernikahan. Beberapa kali Nyonya Nasita mendatanginya untuk bertanya perkara seserahan, bahkan berbelanja berdua agar bisa memilih sesuai selera.


Hari yang ditunggu tiba, sejak dini hari Angkasa tak bisa tidur. Dia tunaikan salat hajad, tahajud, dan qiyamul lail lain agar tenang, tetapi tetap saja hati gundah gulana. Berbeda dari akad pertama kali dahulu saat masih SMA dia bisa santai, kini hatinya seperti terombang-ambing di tengah laut penuh kekhawatiran.


Pintu kamar terketuk membuat Angkasa berjingkat. Dia buru-buru membuka dan ternyata melihat ibunya. “Ma.”


“Jamaah subuh tidak? Papa udah siap-siap. Mama lihat pintu kamarmu tertutup terus, Sayang. Biasanya sudah standby di bawah.”


“A–ah, ya, Ma. Aku ganti baju dulu. Bilang sama Papa buat tunggu bentar.”


Nyonya Nasita mengulas senyum melihat tingkah Angkasa. Wanita itu segera turun dan menghampiri sang suami. Dia sampaikan permintaan putranya, lalu pamit hendak Salat Subuh sendiri di musala rumah.


“Akadmu jam tujuh. Paling tidak masih ada satu jam buat kita siap-siap.” Tuan Aji bicara pada sang anak saat perjalanan pulang dari masjid komplek usai menunaikan Salat Subuh.


“Ya, Pa.” jawaban Angkasa begitu singkat. Bibirnya sejak berangkat hingga pulang terus berzikir agar tidak cemas berlebih, apalagi saat menjabat tangan Tuan Tirta nanti.


Waktu yang terus bergulir mengantarkan Angkasa dan keluarga pada prosesi pernikahan. Tiba di rumah keluarga Sastra, kondisi sudah ramai. Angkasa turun dari mobil disusul kedua orang tuanya, sementara di belakang masih ada Sakti beserta orang tuanya pula.


Tuan Aji sengaja tidak membawa rombongan besar karena kesepatakan. Akad nikah dilaksanakan di rumah mempelai wanita, sementara resepsi akan pindah ke hotel nanti malam.


Memasuki rumah keluarga Sastra, Angkasa disambut pemandangan berbeda. Biasanya ada sofa dan beberapa pernik di ruang tamu, tetapi kali telah berganti meja kecil berhias taplak putih yang dikelilingi kursi warna senada.


Satu petugas wedding organizer mempersilakan Angkasa sekeluarga duduk. Setelahnya, pekerja laki-laki itu ganti memanggil Tuan Tirta. Saat pria tua itu telah menempati kursi yang ada, jantung Angkasa makin tidak terkendali.


Tuan Tirta menatap Angkasa dengan sorot yang begitu serius sebelum akhirnya tersenyum. “Kamu gugup, Anak Muda?”


Senyum Tuan Tirta terlihat mengerikan bagi Angkasa. Dia sampai mengangguk takut-takut. “Sedikit.”


“Aku tidak akan ….”


Angkasa menelan ludah mendengar kata-kata lanjutan dari Tuan Tirta. Khawatir di tengah acara seperti ini, ayah mertuanya itu memberi ancaman mengerikan. Namun, belum selesai kalimat itu, penghulu dan pihak KUA telah tiba.


“Wah, maaf menunggu jadinya.” Penghulu berpeci hitam dan kemeja putih itu segera mendekat setelah mengucap salam. Beliau lantas membuka tas dan mengeluarkan berkas untuk memastikan data diri calon pengantin benar adanya.


Selepas kecocokan data tuntas, penghulu berkata, “Baik, untuk mempersingkat waktu. Mari, para saksi dan semua tamu menyaksikan wali perempuannya mengucap kalimat ijab.”

__ADS_1


__ADS_2