Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 38


__ADS_3

“Profit kita periode kemarin cukup lumayan, Pak. Apa Bapak ingin memberi karyawan bonus atau akan digunakan untuk yang lain?”


Angkasa menarik berkas dari meja. Pria itu membuka perlahan lalu membaca dengan saksama. Ada banyak rincian biaya produksi, hasil penjualan dan digabung total pendapatan lain. Arus kas dirancang sedemikian rupa hingga menghasilkan laba yang cukup membuat sudut bibirnya tertarik.


“Alhamdulillah.” Wajah tegasnya mulai bersinar. Berhari-hari Angkasa pusing dan muram gara-gara memikirkan Myria, tetapi kali ini harus fokus pada pekerjaan setelah jatuh sakit.


“Aku akan menghubungimu nanti soal ini.”


Direktur keuangan yang sejak tadi menghadap itu mengangguk. “Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi.”


Pintu tertutup sepenuhnya. Angkasa beranjak dan bertolak ke ruangan Sakti. Tidak seperti biasanya yang lebih sering minta didatangi, kali ini pria itu sengaja ingin ke luar.


Wajah Sakti mendongak ketika mendengar pintu dibuka. Dia tidak kaget meski orang yang masuk datang tanpa mengetuk. Hafal sudah perangai siapa jika seperti itu.


“Ada masalah?” tanyanya santai.


Angkasa menggeleng, lalu menarik kursi di hadapan Sakti untuk duduk. Pria itu menyodorkan laporan keuangan yang masih di tangan.


Senyum Sakti terukir melihat deretan angka yang memenuhi lembar demi lembar kertas di tangan. Pria itu menaruh berkas ke meja dan mengembalikan fokus pada sahabatnya.


“Kita ke panti aja kayak biasanya. Tapi kalau lo pengin nambah bonus buat karyawan juga nggak masalah. Gimanapun juga, semua ini berkat kontribusi banyak orang.” Seolah paham kedatangan Angkasa, Sakti memberi ide sebelum ditanya.


Angkasa tak lekas menyahut. Pria itu lebih nyaman duduk bersandar sembari menatap awang-awang. Dua sikunya menumpu pegangan kursi dengan jemari saling menyatu. “Kemarin-kemarin siapa yang ke panti?”


“Tim merchandiser sama pemasaran. Nggak banyak, cuma perwakilan beberapa. Sebagian mereka sengaja turun juga buat cari peluang pasar.”


“Gue mau ikut kali ini.”


“Serius lo?” Seolah tak yakin, Sakti sampai memastikan. Jarang-jarang Angkasa mau ikut kegiatan sosial karena pria itu enggan diketahui oleh para pengurus panti. Angkasa bilang bahwa dia lebih nyaman ada di balik layar meski sebagai donatur.


“Iya. Mau nyegerin pikiran sama anak-anak yang ada di sana. Tapi bantu gue kondisikan para karyawan buat nggak bilang siapa gue. Biar orang panti ngira gue sama kayak karyawan lain.”


“Beres. Mau kapan pergi?”


“Besok.”


Sakti setuju dan siap menelepon seseorang. Tangannya sudah menggulir layar, lalu menempelkan ke telinga. Angkasa yang ada di depannya hanya menaruh perhatian sambil mendengarkan. Ternyata, orang yang dihubungi Sakti adalah direktur keuangan.


“Koordinasi dengan tim warehouse juga buat nyiapin beberapa pakaian anak. Gue bawa mobil kalau memang mobil perusahaan nggak cukup buat bawa barang.”

__ADS_1


Bibir yang awalnya tersenyum tipis, kini berubah menjadi tawa pelan. Sakti mengacungkan jempolnya pada Angkasa. “Siap, Pak Dirut. Apa lagi? Banyak bener perintah lo.”


Angkasa tak menanggapi. Dia beranjak karena merasa urusan telah selesai. Tanpa pamit pada pemilik ruangan, pria itu ke luar begitu saja.


***


Udara malam seakan memberi bisikan pada Myria bahwa wanita itu butuh pelukan. Tanpa disadari, air mata menetes lantaran teringat bayang ibunya. Sudah sepekan lebih Myria tidak berkunjung ke makam lantaran khawatir ditemukan sang ayah. Maka dari itu, dia tak pernah ke mana pun selama bersembunyi.


Tak ada ponsel atau komputer untuk mengakses internet. Dia jalani hidup tanpa ingin tahu kabar dari luar. Hanya ada televisi sebagai hiburan. Namun, Myria tidak merasa bosan sama sekali. Dia lebih tenang sekarang dengan pilihannya mengasingkan diri sekalipun keluarga pasti mencari.


Ada penat tak berujung yang menyelip di hati kala ingat sikap ayahnya. Ada sakit yang menusuk saat cinta tak jua bersatu. Myria mulai pasrah, mungkin memang dirinya tak berjodoh dan telah salah melangkah.


“Astaghfirullah. Mungkin aku terlalu lalai dalam mencintai ciptaan-Nya.” Dada Myria terasa sesak. Mungkin sudah seharusnya melupakan Angkasa daripada menelan pil pahit kehidupan terus menerus.


“Nak.”


Suara wanita paruh baya yang menyentuh bahu membuat Myria bergegas menghapus air mata. Dia menoleh dan menyambut wanita di depannya dengan senyum tipis. “Ya, Bunda.”


“Kamu tidak tidur? Sudah malam. Angin di luar bisa buat kamu meriang.”


Tak ingin dicurigai atau yang lain, Myria mengangguk dan masuk ke dalam. Dia lewatkan malam dengan rindu di dada.


***


Sepuluh anak kecil yang masih sekolah TK dan SD itu menoleh. Mereka langsung mendekat. “Tante, Bunda bilang hari ini ada orang baik mau ke sini. Jadi kami harus siap-siap dan dandan yang rapi,” ucap salah satu anak berumur tujuh tahun dan diangguki anak-anak lain.


Myria mengusap kepala anak itu. “Beneran? Alhamdulillah. Kalau gitu, Tante bantu kalian bersiap. Ayo, mana jilbabnya yang belum dipakai.”


Anak-anak makin antusias. Dia mengantre satu per satu membentuk barisan sembari menenteng jilbab. Meski biasanya berpakaian sendiri, tidak ada salahnya manja sekali-kali. Kehadiran Myria menambah kucuran dana sekaligus kasih sayang untuk penghuni panti. Pengurus maupun anak-anak begitu baik menerima.


Berhari-hari, Myria memang tinggal di panti asuhan dekat dengan kontrakannya dahulu setelah mengunjungi makan sang ibunda. Awalnya, dia ingin ke sebuah pesantren, tetapi saat melintas tempat tersebut, pikiran Myria berubah.


Di pesantren, mungkin Myria juga akan dapat keluarga baru. Namun, di panti asuhan, dia bisa sekaligus membantu keuangan tempat tersebut.


Hari pertama kabur, Myria sengaja menarik uangnya dari bank dekat rumah dengan nominal cukup banyak. Setelah itu, dia menyembunyikan diri di panti tanpa keluar lagi. Sang ayah pasti mencari dan akan mengecek mutasi di mana dirinya melakukan transaksi terakhir. Maka dari itu, Myria sudah antisipasi dengan mengambil uang di bank terdekat.


“Nah, sudah rapi semua. Kalian bisa tunggu tamunya datang di sini sambil belajar atau bermain dengan tenang. Oke?”


“Oke, Tante.”

__ADS_1


Ditinggalkannya anak-anak itu karena Myria ingin melihat pekerjaan di belakang. Dia terbiasa membantu memasak ketika sore dan pagi hari.


Orang-orang di dapur juga sibuk. Myria bisa melihat ada beberapa kotak kue dan camilan lain. Dia tersenyum tipis. “Bunda, anak-anak bilang ada donatur kemari. Apa benar?”


Bunda yang sedang menerima pesan menoleh. Beliau mengangguk. “Ya, sebentar lagi mungkin ….”


Belum selesai Bunda bicara. Teriakan anak-anak menyambut tamu sudah mengusik pembicaraan. Wanita paruh baya itu menghela napas dan tersenyum. “Itu pasti donatur datang. Ayo, keluar kalau mau lihat.”


“Oh, saya bantu siapkan minum dulu, Bun. Nanti menyusul.”


Myria bergegas mencari gelas. Dia bertolak ke kulkas dan ternyata tidak banyak memiliki stok buah untuk dibuat jus. Wanita itu lupa sedang berada di panti yang apa-apa harus serba hemat. Daripada hanya menyuguhkan air putih, Myria berinisiatif menyeduhkan teh hangat.


Teriakan disertai tawa dari luar membuat Myria tak sabar ingin bergabung. Namun, dia berpikir ulang untuk bertemu orang lain selain penghuni panti. Lagi pula, dia tidak tanya donatur itu berasal dari mana. Khawatir para donatur mengenalnya, Myria memilih diam di dapur dan memasrahkan pada yang lain.


Di luar, anak-anak begitu bahagia mendapati banyak hadiah. Dia berlarian di halaman yang berukuran sedang dari ujung ke ujung. Sesekali teriakan terjadi karena berebut.


“Tuan-Tuan dan Nona, terima kasih untuk kunjungannya kali ini. Silakan masuk kalau ingin memeriksa laporan dana yang kemarin kami terima.”


Bunda dan satu pengurus panti memasuki rumah diikuti dua orang di belakang. Orang itu ialah Angkasa dan Sakti.


Kursi kayu di ruang tamu terasa keras saat diduduki. Namun, baik Angkasa maupun Sakti tidak ada yang berkomentar. Dua pria itu cukup pandai menjaga wibawa.


Tidak harus menunggu lama, Bunda menyodorkan buku besar berisi rincian semua dana dan pengelolaannya. Angkasa mengamati satu per satu dan mencari celah kekurangan.


“Apa … masih ada anak-anak yang baru masuk di sini, Bu?”


“Terakhir, dua bulan lalu. Ada bayi yang di buang dekat pemakaman sana, Tuan. Warga sempat takut, jadi akhirnya dibawa kemari.”


“Tapi itu bayi manusia, kan, Bu?” Pertanyaan aneh terlontar begitu saja dari mulut Sakti. Angkasa yang ada di sampingnya refleks memukul.


“Aduh, Ka. Gue cuma mastiin,” kata Sakti membela diri.


“Pikiran lo.”


Bunda dan satu pengurus itu tersenyum melihat tingkah Sakti dan Angkasa. “Ya, anak manusia, kok, Tuan. Bayi itu kebetulan sedang tidur. Apa Anda mau lihat?”


“Tidak perlu, Bu. Jangan dengarkan ucapan teman saya ini. Dia memang kadang kurang se-ons.”


“Astaghfirullah, Ka. Tega banget ngatain gue.”

__ADS_1


Buku sengaja diserahkan pada Sakti agar diam karena Angkasa ingin bicara serius pada Bunda selaku ketua panti asuhan tersebut.


“Saya percaya dengan Ibu dan pengurus lain. Tapi memang ada saat hanya beberapa orang yang bisa kemari. Mohon untuk ….” Belum selesai ucapannya, ada orang membawa nampan menghampiri. Angkasa terdiam dan spontan berdiri saat tatapannya mengarah pada wanita yang mengantar minum.


__ADS_2