
“Friska hamil, Ka.”
Gerakan Angkasa yang tengah mengusap rambut Myria terhenti. Lelaki berkaus navy itu menunduk dan menyatukan pandangan.
“Beneran? Alhamdulillah, dong, Sayang.”
Myria mengangguk lesu. Seharian di butik tadi, dia begitu antusias mendengar kabar dari sahabatnya. Akan tetapi, begitu tiba di rumah sore, kebahagiaannya mendadak bercampur kesedihan. Bukan dia iri pada takdir Friska, melainkan hanya menanyakan tentang diri sendiri. Mengapa dirinya belum hamil hingga kini?
“My ….” Buku tebal di tangan tertutup lalu ditaruh ke meja. Angkasa membangunkan Myria yang sejak tadi tidur bersandar di dada. “Kenapa sedih gini?”
Myria melengos. Matanya tak sanggup menatap sang suami. “Aku nggak sedih, kok.”
Angkasa membenarkan posisi duduk, lalu menarik Myria ke pelukan lagi. Beberapa kali kecupan diberikan sebagai obat penenang atas kegundahan hati sang istri. Mustahil jika Angkasa tak menyadari gelagat Myria yang jelas terlihat nyata.
“Aku tahu yang kamu pikirin,” kata Angkasa pada akhirnya.
Myria membisu, tak ada hasrat sedikit pun untuk mengaku.
“Kamu juga nunggu hadirnya anak di pernikahan kita, kan?”
“Perempuan mana yang nggak ngarepin itu, Ka, di rumah tangganya?”
“Banyak, kok, pasangan childfree sekarang.”
“Tapi aku nggak mau childfree.” Jemari Myria meremas dada Angkasa secara sengaja, tetapi perbuatannya sama sekali tidak menyakitkan.
“Aku juga nggak ngarepin itu. Tapi kalau emang belum ada, mau gimana? Aku mau ngomong sama kamu soal sesuatu.”
Kepala yang sejak tadi mengarah depan, kini mulai mendongak. Bibir kemerahan Myria mulai terbuka untuk bertanya, “Ngomong apa?”
__ADS_1
Tarikan napas panjang dilakukan Angkasa sembari menguntai kata-kata yang tepat di benak. Tidak sedikit pun pria itu ingin menyakiti hati sang istri. Setelah semua kalimat terangkai, Angkasa mulai berkata, “Mama nanyain cucu kemarin. Waktu kita lihat rumah ini.”
Myria makin mengatupkan bibir. Bola matanya bergerak pelan, sesekali tertutup saat berkedip.
Angkasa sama diamnya, lalu memutus kontak dengan mempererat pelukan. “Mama cuma nanya, My. Beliau nggak ada maksa. Justru Mama nyalahin aku karena ngebiarin kamu sibuk kerja dan sering lembur. Mama pesen, katanya kamu nggak usah capek-capek.”
“Aku nggak capek, kok, Ka. Aku seneng sama pekerjaanku, jadi nggak pernah ngerasa capek.”
“Iya, Sayang, aku tahu.” Lagi-lagi Angkasa mengecup kening. “Mau program kehamilan nggak?”
“Sekarang?” Myria bertanya setengah tak yakin. Dari awal, dia tidak pernah berpikir akan menempuh cara demikian untuk masalah anak.
Setiap hari, Myria selalu berpikir positif bahwa memang belum waktunya. Lagi pula, dia masih menikmati hari-hari berdua bersama Angkasa. Akan tetapi, saat orang sekitar menanyakan perkara keturunan, dia harus mulai berpikir serius.
“Terserah kamu. Kalau mau nanti-nanti, ya, nggak masalah,” kata Angkasa dengan langggam tenang tanpa ada kesan memaksa.
***
“Sakti!”
Pintu ruangan seolah didobrak dari luar hingga membuat Sakti berjingkat. Pria berkaus putih dengan blazer hitam sebagai luaran itu segera meninggalkan kursi untuk menghajar sahabatnya karena geram.
“Sumpah, lo bikin gue kaget. Kalau jantung ini bukan Allah yang nyiptain, mungkin udah copot dari tadi.”
Angkasa menyengir, lalu menepuk bahu Sakti. Namun, kelakuannya itu langsung ditepis sahabatnya.
“Ngapain lo kemari? Butuh sesuatu biasanya nelfon.”
“Gue mau ijin pulang duluan. Lo kalau pulang telat, nggak usah nyari gue. Kerjaan yang kemarin kirim aja ke e-mail biar gue terusin di rumah.”
__ADS_1
Sakti mengangkat alis tinggi-tinggi. Tubuhnya bersandar ke meja kerja, sementara dua tangan terlipat ke perut. “Ada acara apa lo pulang sore gini?”
Embusan napas kasar keluar dari hidung Angkasa. “Mau ke dokter gue.”
“Ngapain lagi? Perasaan bukan jadwal lo kontrol.”
“Bukan psikiatri. Gue mau ngajakin Myria ke dokter kandungan.”
Aura kemarahan di wajah Sakti memudar. Senyum lebar ganti membingkai bibir. Dia meninggalkan sandaran, lalu menepuk bahu Angkasa. “Good luck, Bro. Gue doain ponakan gue cepet launching.”
Ucapan baik adalah doa. Tidak ada salahnya meng-aamiin-kan harapan Sakti. Setelah itu, Angkasa benar-benar keluar dan pulang.
Motor melaju pelan menuju rumah. Angkasa tiba bersamaan dengan Myria yang baru memarkirkan kendaraan. Sang istri langsung menghampiri dengan langkah riang.
“Mandi dulu, nanti abis magrib kita berangkat,” kata Angkasa setelah membuka pintu.
Myria mengiyakan dan segera mengajak ke kamar. Begitu pintu kamar tertutup, perempuan itu bergegas membantu sang suami melepas pakaian.
Pakaian kotor itu dikumpulkan di satu keranjang karena akan dicuci besok. Myria meraih handuk dari lemari, lalu menyusul ke kamar mandi untuk menemani Angkasa.
“My ….”
“Hm?” Gumaman singkat diberikan Myria sebagai jawaban. Dia tidak menoleh sedikit pun karena sibuk bermain busa dan menggosok lengan Angkasa bagian kiri.
Satu tangan Angkasa menghentikan gerakan Myria, sementara matanya memberi tatapan intens. “Apa pun yang terjadi, apa pun yang dikatakan dokter nanti, lapangkan hatimu buat menerima.”
Ada nada getir terukir di tiap untaian kata-kata Angkasa. Myria memandangi wajah suaminya yang tidak seperti beberapa menit lalu. Tak ada senyum, sorot keteduhan di dua mata hitam segelap malam itu terlihat begitu tajam tanpa ada kesan bercanda.
Bibir Myria bergetar, lidahnya mendadak kelu sehingga kesulitan bicara. Akhirnya, hanya anggukan yang bisa diberikan untuk membalas nasihat.
__ADS_1