Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 59


__ADS_3

“Aaahh … akhirnya bisa rebahan.” Myria membanting tubuhnya ke kasur begitu sampai di kamar hotel. Seharian, wanita itu harus mengorbankan tenaga untuk perjalanan dari Indonesia menuju Jepang. Belum lagi, harus singgah beberapa kali ke bandara yang berbeda untuk sampai tempat tujuan. Lagipula, sudah lama pula dirinya tidak bepergian jauh sehingga kali ini energinya benar-benar terkuras.


Angkasa tersenyum simpul melihat istrinya. Dia yang masih ada di dekat pintu segera menarik koper dan meletakkan di sudut ruang. Kemudian, pria itu baru mendatangi Myria sembari melepas coat lalu ikut duduk.


“Capek banget?” tanya Angkasa dengan tangan memijat paha sang istri.


Myria mengangguk-angguk. Dia menarik jilbab serta cadarnya hingga menyisa gamis yang masih melekat di badan. “Tulangku rasanya patah semua.”


Keluhan Myria ditanggapi gelak tawa. Angkasa merebahkan badan dengan posisi menyamping agar bisa menghadap istrinya. “Kayak udah pernah patah tulang aja.”


Wajah Myria berubah masam mendengar ejekan sang suami. Bibirnya mengerucut hingga bisa diikat seperti es lilin. “Itu perumpaman, Kasa. Majas hiperbola.”

__ADS_1


Tawa Angkasa menyembur ke udara lagi. Makin ditanggapi, ternyata sikap Myria makin lucu. Beberapa kali Angkasa sampai dapat pukulan karena membuat istrinya kesal. Akan tetapi, pukulan tersebut tentu tidak berasa bagi pria seperti Angkasa.


Setelah puas tertawa hingga perutnya kaku, Angkasa baru diam. Jemari tangan kanan yang tidak menopang kepala digunakan untuk membelai rambut sang istri. “Kemarin ditawarin ke Tokyo aja nggak mau. Sekarang sampek Sapporo belum apa-apa udah ngeluh gini. Jadi jalan-jalan nggak?”


“Ya, jadilah!” Myria menjawab cepat. Secepat gerakannya berubah posisi menjadi miring dan  membenamkan wajah ke dada sang suami. “Udah jauh-jauh ke sini, masa cuma mau diem aja di hotel. Nggak asyik!”


“Aku nggak tega denger keluhanmu, Habibati. Kalau mau istirahat mulihin tenaga dulu, kita pending acara jalan jalannya. Baru lanjut kalau kamu udah siap. Aku nggak mau kamu jatuh sakit gara-gara liburan. Itu nggak lucu.”


Perlahan dengan hati-hati, Angkasa membenarkan posisi Myria. Dia menarik bantal dan meletakkan di bawah kepala. Jilbab serta cadar yang ada di samping badan sang istri turut disingkirkan. Kemudian, dia sendiri segera membersihkan diri ke kamar mandi.


Keluar dari kamar mandi, ternyata Angkasa menangkap kegelisahan sang istri. Myria terlihat tidur secara tak nyaman dan sering bergerak tak tentu tanpa membuka mata. Dia maklumi, mungkin istrinya terlalu lelah sampai bisa demikian.

__ADS_1


“My, ganti baju dulu biar enak tidurmu,” kata Angkasa membujuk Myria agar istrinya itu lebih nyaman dalam beristirahat. “Myria,” ucapnya lagi.


Akan tetapi, permintaan yang keluar dari bibir hanya ditanggapi dengan rintihan tidak jelas. Angkasa geleng-geleng melihat sikap istrinya. “Kalau nggak mau bangun, kepaksa aku yang gantiin bajumu.”


Bukannya membuka mata, Myria justru berbalik dan memunggungi. Dia sempat berdecak lirih sambil protes, tetapi ujungnya lanjut tidur.


Dihelanya napas panjang, sepertinya Angkasa memang harus nekad. Tanpa menawari lagi, pria itu ambil keputusan sepihak. Dia berdiri menuju koper dan membongkar isi. Dicari-cari pakaian tidur Myria yang sekiranya nyaman, lantas segera kembali.


Perkara marah atau tidak, Angkasa tidak peduli. Dia lekas membalik tubuh Myria, lalu menurunkan ritsleting di dada dan meloloskan gamis biru muda tersebut.


“Nggak bangun juga?” Angkasa tak habis pikir. Dia kira, Myria akan berontak dan segera bangun lalu mengganti baju sendiri, tetapi tetap saja mata awet memejam. Hanya mulut Myria saja yang sesekali meracau. “Kalah obat bius sama tidurmu, My.”

__ADS_1


__ADS_2