
Sabtu pagi setelah sarapan, Nyonya Nasita heran melihat putranya begitu rapi. Wanita yang sedang merapikan pot bunga di samping rumah itu bergegas masuk.
“Hari libur seperti ini, mau ke mana, Kasa?”
Angkasa yang hendak memakai sarung tangan itu berhenti lalu menoleh. Dia mengulas senyum tipis. “Ke makam bentar, Ma. Terus ke bengkel. Mumpung aku nggak lembur.”
“Pulang jam berapa?”
Bahu Angkasa terangkat, sementara tangan sibuk melanjutkan aktivitasnya tadi. “Mungkin sore. Jadi aku nggak makan siang di rumah. Mama juga nggak perlu nunggu aku pulang, habiskan waktu berduaan Mama sama Papa saja hari ini.” Kedipan sebelah mata diberikan Angkasa pada Nyonya Nasita.
Ibu dua anak itu memukul pelan bahu putranya. “Bicaramu sedikit ngawur. Mama tahu maksudmu menggoda seperti itu. Tapi, yang benar justru kamu waktunya memberi Mama cucu.”
Cucu? Angkasa terkekeh mendengar harapan ibunya. Dia rentangkan tangan dan segera memeluk Nyonya Nasita dengan erat. “Ma, Mama masih begitu cantik dan awet muda, sangat disayangkan buat dipanggil Nenek atau Oma. Aku nggak mau buru-buru. Lagi pula, calon mantu Mama belum ada.”
Tubuh Angkasa sengaja didorong, Nyonya Nasita mendongak untuk melihat wajah putranya lebih jelas. Apa maksud ucapan sang anak barusan? Bukankah kemarin-kemarin Angkasa bilang ingin melamar Myria? Mengapa sekarang kata-katanya berganti makna?
“Kenapa bicara begitu? Bukankah Myria yang akan jadi menantu Mama? Apa kamu ada pikiran untuk memberi Mama menantu yang lain, Kasa?”
Cecaran pertanyaan dari Nyonya Nasita membuat Angkasa memeluk lagi. Sudah hampir sepekan lamanya dia dilanda kegelisahan karena selalu melihat Myria bersama pria lain. Mantan istrinya itu bahkan diantar dan dijemput saat bekerja sehingga membuat Angkasa perlahan mengubur ulang seluruh harapan.
“Sepertinya, Myria sudah dijodohkan dengan pria lain, Ma. Tiap hari dia bersama pria itu. Mungkin memang sudah takdir kalau Paman Mandala nggak bakal nganggep kita keluarga. Aku nggak pa-pa, yang penting Mama dan Papa aman. Itu sudah cukup.”
Punggung berbalut sweter oversize abu-abu itu diusap lembut oleh Nyonya Nasita. Beliau mencoba menyelami pikiran putranya sekarang. Mungkin alasan itu pula yang membuat Angkasa banyak diam beberapa hari ini.
“Kamu menyerah, Nak?” Suara Nyonya Nasita melirih. Beliau tidak akan memaksa lagi jika memang putranya ingin melepas Myria. Bagi Nyonya Nasita, kesehatan Angkasa adalah yang terpenting saat ini meski dirinya juga menyayangi Myria dan ingin memiliki.
__ADS_1
“Aku sedang berada di tahap pasrah, Ma. Aku nggak mau nyiksa diri dengan memikirkan masalah ini begitu serius. Ada banyak pekerjaan yang lebih penting dibanding perkara hati. Kalau memang Myria mau menikah dengan pria lain, itu haknya.”
Wajah halus dengan kulit putih itu diusap lembut oleh Nyonya Nasita. Beliau menangkup pipi Angkasa dan memberi tatapan yang begitu dalam. “Mama hargai keputusanmu kalau memang tidak bersama Myria lagi. Tapi Mama tetap ingin kamu menghilangkan traumamu soal pernikahan. Menikah tidak seburuk ketakutanmu, Kasa. Kamu pasti bisa berjuang bersama istrimu kelak apa pun itu ujian yang ada karena kamu sekarang sudah jauh lebih dewasa.”
“Paham maksud Mama, Nak?”
Kedua bibir tipis itu mengatup, sementara kepala mengangguk pelan. Senyum tersungging di bibir Angkasa kembali karena tak ingin membuat sang mama khawatir. “Aku berangkat, Ma.”
“Hati-hati,” kata Nyonya Nasita sambil mengusak rambut putranya. Setelah itu, Angkasa benar-benar pergi.
Mengunjungi makam ibu mertua adalah kebiasaan Angkasa sejak dahulu. Bahkan, saat di rumah sakit jiwa, kedua orang tuanya maupun Sakti sering mengantar tanpa melarang kapan pun dia ingin pergi. Setelah keluar dari rumah sakit dan bisa beraktivitas seperti sediakala, Nyonya Nasita baru mengizinkan Angkasa pergi sendiri.
Pemakaman umum yang telah berubah lebih hijau dan makin banyak makam warga sekitar menjadi tempat Angkasa berdiri sekarang. Pria itu berjongkok lalu membersihkan rerumputan selepas berdoa.
Tentu tidak ada sahutan dari siapa pun. Namun, hal itu cukup melegakan hati dan pikiran yang kacau sejak kemarin.
Setiap hari Angkasa menghindari Myria. Bahkan saat Sakti menawarkan bantuan untuk menyelidiki pria yang selalu bersama mantan istrinya itu, Angkasa menolak karena tidak ingin lebih sakit hati lagi mendengar kenyataan. Angkasa bertekad sembuh sepenuhnya meski pengobat trauma bukanlah Myria.
Hari berlalu dengan rutinitas dan segala jadwal pekerjaan yang padat. Beberapa kali divisi desainer lembur bersama manajer produksi serta manajer lain sampai malam karena dikejar waktu.
Seperti malam ini, semua orang berharap ini malam terakhir mereka lembur. Malam-malam sebelumnya sudah cukup membuat badan remuk redam seperti usai dipukul.
“My, duluan, ya.” Satu teman berpamitan karena Myria menolak diajak pulang bersama.
“Iya. Hati-hati,” kata Myria sembari melambaikan tangan. Dia sengaja menunggu Angkasa dan Sakti di depan pintu masuk karena ingin membicarakan sesuatu.
__ADS_1
Setelah hampir 15 menit menunggu di depan lobby, bahkan sampai dapat pertanyaan dari sekuriti, akhirnya Myria melihat dua pria yang baru keluar dari lift. Dia telah memantapkan hati untuk mencegat kedua atasannya itu di samping pintu.
Ketika pintu lobby dibukakan oleh sekuriti, Angkasa dan Sakti lewat dengan santai. Tidak ada obrolan di antara mereka karena keduanya juga lelah. Namun, alangkah kagetnya saat dalam kondisi diam, tiba-tiba ada orang muncul dan mengadang jalan.
Mata Angkasa maupun Sakti melebar. Keduanya bahkan nyaris memukul secara refleks saking kagetnya.
“My, lo belum balik?” Sakti bertanya dengan intonasi sedikit tinggi, efek dari ketidaksiapan melihat orang lain yang tadi tidak terlihat dari dalam.
“Belum. Aku pengin … ngomong sama Kasa.”
“Oh, oke. Kalau gitu gue ambil jarak dari kalian.” Paham situasi, Sakti segera melanjutkan langkah menuju basement di mana motornya teparkir. Meski sebenarnya ada rasa ingin tahu, tetapi sebisa mungkin Sakti menahan. Nanti, Angkasa juga akan cerita sendiri pikirnya.
“Kenapa?” Merasa Sakti sudah tidak bisa mendengar, Angkasa bertanya. Nada bicaranya tidak berubah sejak kemarin-kemarin, masih ada aroma kekesalan menguar ke udara sekitar. “Nggak ada yang jemput?”
Myria menggeleng. “Aku mau kasih tahu kamu soal Andreas.”
Nama pria lain disebut, percikan api mulai menghangatkan hati dan mungkin sebentar lagi membara kobarannya. Ekspresi Angkasa berubah seketika dan langsung menyeringai sinis.
“Pria yang kamu lihat tiap pagi sama siang di restoran kemarin-kemarin itu namanya Andreas. Dia ….”
“Urusannya denganku apa?” Belum selesai Myria menjelaskan, tetapi telinga Angkasa tidak betah mendengar. Dia sudah putuskan untuk mengakhiri saja daripada harus memperparah keadaan dengan melawan Tuan Tirta. Bisa-bisa orang tuanya terancam andai itu dilakukan. “Lupakan ucapanku kemarin. Fokuslah bekerja di sini tanpa menyangkutpautkan masa lalu.”
Myria tersentak. Nyawanya seperti tercerabut paksa tanpa aba-aba. Hatinya ikut sakit luar biasa mendengar perkataan Angkasa. “Kasa, kenapa ngomong gitu? Apa maksudmu? Bukannya kamu sendiri yang bilang biar aku nunggu karena kamu butuh waktu?”
“Kapan aku bilang? Aku sudah katakan jangan menungguku yang nggak bisa kasih kepastian padamu, Myria.”
__ADS_1