
Kejailan Angkasa berhenti saat mendengar ketukan pintu. Kakinya melangkah dan meninggalkan Myria untuk menghampiri pegawai hotel yang ternyata membawakan pesanan.
“Taruh situ aja, Mas,” kata Angkasa pada sang pegawai. Kemudian, tangannya merogoh saku lalu menyelipkan tip saat pekerja itu pergi.
Myria masih berdiam diri dan tetap menempel di tembok. Dia enggan menghampiri Angkasa karena masih ada sedikit ketakutan. Hanya saja, posisi berdirinya sudah lebih tegak daripada tadi. Namun, tetap saja debaran jantungnya terus menggila.
Tidak perlu Myria mendekat karena Angkasa yang akan mendatangi. Pria itu tertawa pelan melihat istrinya kembali gugup. “Aku bantu bersihin mekapmu,” katanya seraya menarik satu tangan.
Seperti terhipnotis, Myria diam dan hanya mengikuti langkah Angkasa menuju meja rias. Dia didudukkan di kursi pun tidak protes sama sekali.
“Aku bisa bersihin ini sendiri, kok. Kamu bisa bersihin diri kamu sendiri, Ka.” Akhirnya nyawa Myria terkumpul juga.
Tangan Angkasa yang baru menarik kapas terhenti. Dia menoleh pada Myria dan kembali tersenyum. “Buka jilbabmu.”
“Eh? A–Apa?” Mata Myria membulat sempurna.
Angkasa menaruh kapas kembali. Tubuhnya berputar dan mendekati Myria. Pria itu membungkuk, lalu mengurung dengan dua tangan. “Aku aja yang buka. Kamu mendadak bingung.”
“A–Aku ….”
“Ssstt ….” Telunjuk mendarat di bibir Myria hingga wanita itu berhenti. Angkasa menggeleng pelan. “Aku tahu kamu grogi, atau bahkan takut. Tapi kita harus lewati malam ini.”
Setiap kalimat terucap dari bibir Angkasa membuat Myria makin resah. Pikiran wanita itu berhamburan ke mana-mana sehingga tidak bisa fokus. Padahal, sepekan sebelum pernikahan diselenggarakan, Nyonya Caroline dan Nyonya Nasita memberi nasihat banyak untuk menghadapi malam pertama, tetapi nyatanya semua ajaran itu lenyap begitu saja saat situasi benar-benar terjadi.
Myria menahan napas saat satu per satu jarum terlepas dari jilbabnya. Tersisa jarum di bawah dagu, tiba-tiba dia mencekal tangan Angkasa. “Kasa ….”
Dua alis Angkasa terangkat bebarengan. Dia beri tatapan intens pada Myria.
“A–aku malu.” Myria berucap lirih.
“Aku belum menelanjangimu.”
“Astagfirullah, Kasa!” Myria memukul lengan secara refleks. Andai dia sebar-bar Friska, suaminya itu mungkin sudah ditendang pula.
Angkasa menyemburkan tawa sesaat, lalu mengusap wajah sang istri yang masih tertutup cadar. “Sorry. Aku nggak tahan liat kamu dari tadi.”
Meski berubah kesal, hati Myria mudah luluh selepas mendengar kata maaf. Lagipula, saat ini adalah malam pertama dan tidak seharusnya bertengkar. Perlahan dengan pasti, wanita itu melepas jilbab serta cadarnya sendiri hingga menyisa gaun pengantin. Dia menunduk dengan arah pandang menuju tangan yang menggenggam jilbab.
Angkasa menelan ludah begitu melihat kulit Myria bagian leher. Jantungnya bekerja dua kali lebih cepat bahkan kepalanya mendadak pening.
Sembilan tahun berpisah, ternyata keindahan istrinya bertambah luar biasa. Kulit yang selalu tertutup itu terlihat halus bak porselen.
Jarak dipangkas. Angkasa mendekat dan menarik jilbab yang ada di tangan Myria. Dia membuang penutup kepala itu ke lantai lalu lanjut menatap sang istri lekat-lekat . “Kamu cantik, Myria. Beruntung banget pria yang dapetin kamu. Dan pria itu adalah aku.”
Bibir Myria berkedut. Dia tahan agar senyumnya tidak merekah dan cukup memberi sedikit lengkungan. Pipinya yang merah karena perona makin kontras dengan kulitnya yang putih.
__ADS_1
“Kamu jadi bantuin aku?” kata Myria agar tidak kebablasan.
Angkasa tersadar dan segera melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Dia harus sabar meski sejak tadi sudah ingin menerkam.
Dua manusia itu mulai mengobrol sedikit demi sedikit guna mencairkan suasana karena memang sekalipun telah lama kenal, situasi canggung tetap menghantui.
“Mau mandi? Kalau nggak, cuci muka aja. Udah malem gini.” Angkasa memberi saran setelah wajah Myria bersih. Dia juga membantu istrinya berdiri.
Anggukan diberikan Myria sebagai jawaban. “Mandi air anget aja. Nggak lama, kok.”
“Balik badan. Aku turunin ritsleting gaunmu.”
Hampir saja Myria melangkah menuju kamar mandi. Namun, dia urungkan saat mendengar tawaran lain dari sang suami. Wajahnya mendongak hanya untuk melihat ekspresi Angkasa.
“Kenapa?” Angkasa bertanya santai. “Masih belum boleh?”
Memperlihatkan tubuh pada lawan jenis memang hal yang sangat memalukan, apalagi perempuan bercadar seperti Myria. Akan tetapi, situasi sekarang berbeda, bisa atau tidak, dia harus terbiasa. “Bo–boleh, kok, kalau kamu pengin lakuin itu.”
Myria lekas berbalik memunggungi dan sukses membuat Angkasa terkejut. Pria itu mengira sang istri akan menolak seperti tadi, tetapi ternyata tidak demikian.
Dapat kebahagiaan, siapa yang tidak mau? Angkasa mendekat, lalu menyingkap rambut Myria ke samping. Dia beri kecupan singkat di leher mulus istrinya hingga membuat wanita itu terkesiap.
“Mandilah. Aku menunggumu. Jangan lupa wudu, kita salat dua rakaat.” Pura-pura tidak tahu atas respons sang istri, Angkasa bicara sesantai itu setelah berhasil menurunkan ritsleting gaun.
Angkasa tak banyak bicara. Dia sudah menyambar handuk dan masuk kamar mandi saat melihat istrinya telah selesai.
Dua rakaat salat ditunaikan dan disambung doa. Myria maju dan mencium tangan sang suami. Dua orang itu lalu diam dan hanya bertukar pandang.
“Kamu ngantuk?”
Myria menggeleng.
“Aku pesen dessert. Ayo ngemil bentar biar nggak kelaperan.”
Dilipatnya mukena, Myria bergegas mengambil makanan yang sejak tadi tak terjamah. Dia kembali dengan nampan berisi lalu meletakkan ke meja dekat tempat tidur.
Ponsel dimatikan, Angkasa hanya membuka beberapa pesan. Merasa tidak ada yang penting selain kebersamaan dengan sang istri, pria itu ikut bergabung duduk di tepi ranjang.
“Nanti pesen nasi kalau kamu nggak kenyang ini?”
“Enggak usah.” Myria menjawab sambil memotong waffle bertoping stroberi. “Aku nggak biasa makan berat malam-malam gini.”
Tak lagi bertanya, Angkasa ikut menikmati sajian yang ada. Sering kali dia menatap Myria dan justru abai dengan makanan di tangan.
Myria sendiri hanya bisa senyum-senyum tanpa menegur. Menurutnya, biarkan saja Angkasa seperti itu daripada jail.
__ADS_1
Beberapa hidangan telah habis. Angkasa meminta Myria mendekat padanya. Hal itu, tentu saja membuat istrinya berdebar tak terkendali.
Direngkuhnya tubuh Myria hingga kepala wanita itu mendarat di dada, Angkasa lantas memberi usapan lembut di kepala. “Kamu denger debaran jantungku, My?”
Myria membisu, tetapi kepalanya mengangguk.
“Kamu gitu juga nggak?”
Lagi, pertanyaan Angkasa dapat anggukan.
“Masih nggak nyangka bisa meluk kamu kayak gini. Nggak nyangka juga kita bisa sama-sama lagi padahal kemarin sempet mau nyerah.”
“Terus nikah sama cewek lain.” Myria bicara sambil memajukan bibir.
Meski tak melihat ekspresi sang istri, tetapi dari nada bicara Myria yang dibuat-buat, Angkasa bisa memastikan ada kecemburuan yang sedang diungkap. Pria itu membenarkan posisi sehingga Myria duduk sendiri.
Tangan kanan Angkasa maju dan menyelipkan rambut di belakang telinga Myria. Dia memberi tatapan lembut yang begitu dalam. “Tapi akhirnya nikah sama kamu, kan?”
Myria terdiam karena terhipnotis tatapan Angkasa. Ketika ibu jari sang suami mengusap pipinya berulang kali, kesadaran Myria makin tipis. Dia memejam dan menikmati sentuhan memabukkan yang diciptakan lelaki yang selama ini dicintai.
Kecupan singkat mendarat di bibir tanpa Myria sadari. Dua matanya langsung terbuka dan mendapati wajah suaminya sudah di depan mata.
“Ayo beribadah lebih banyak di malam ini, istriku.”
Pipi Myria berubah panas. Dia mengangguk pelan, lalu mendapat kecupan lagi. Angkasa menuntun ke tempat tidur hingga dirinya telah berbaring.
Lampu kamar meredup, selimut tertarik dan menutup tubuh dua manusia yang baru saja berstatus halal. Angkasa menatap lekat-lekat wajah Myria, mengecup kening sembari berdoa, “Bismillaahi allahumma jannibnasyaithaana wa janinibissyaithaana maa razaqtanaa.”
Apa-apa yang menjadi penutup badan sejak tadi mulai terlepas satu per satu. Sentuhan dan ucapan lembut untuk saling menggoda mengalun merdu hingga mencipta suasana menggelora. Cinta yang tersimpan rapi di hati sudah waktunya terbebas untuk saling mengikat.
Myria meringis ngilu, tetapi tersentak kala melihat Angkasa menangis. Wanita itu menghentikan gerakan suaminya sebentar. “Kasa, kenapa nangis lagi? Apa aku ngecewain kamu?”
Angkasa mendaratkan kecupan berkali-kali. "Bukan. Aku nggak nyangka bisa dapetin kamu sepenuhnya apalagi aku orang yang menikmati kesucianmu pertama kali padahal lama banget kita pisah.”
Ada haru menyulut hati. Myria ikut menangis padahal sejak tadi sudah menahan agar Angkasa tidak khawatir. Dia tersenyum lembut sambil membelai rambut suami. “Semuanya cuma buat kamu. Aku nggak pernah mau deket siapa pun, kecuali kamu.”
“Makasih, Sayang. Kamu terlalu sempurna buatku. Bilang kalau aku nyakiti kamu malam ini.”
.
.
......................
Kak, komen kalau bab ini p0rn. Biar aku revisi
__ADS_1