Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 66


__ADS_3

“Friska!” Myria segera berlari kecil menghampiri Friska yang lebih dahulu menuju toilet. Perasaan panik sekaligus khawatir tentu saja langsung menyerang hati. Dia berusaha memijat bahu serta leher belakang sahabatnya secara perlahan.


“Kamu sakit? Dari kemarin udah ngeluh nggak enak badan, kenapa maksain ke sini malem-malem, sih, Fris?”


Friska tak mampu menjawab. Dia terus memuntahkan isi perutnya berulang. Tidak ada yang salah dengan makanan yang dikonsumsi siang atau pagi tadi, tetapi memang dari kemarin-kemarin Friska merasa tidak enak badan.


“Aku panggilin Pak Zayyan, ya?” Tawaran diberikan Myria. Tak mungkin wanita itu merahasiakan kondisi Friska pada suami sahabatnya tersebut.


“Nggak usah, My.” Beberapa lembar tisu ditarik Friska untuk mengeringkan mulut setelah dicuci. Dengan langkah tertatih karena badan mendadak lemas, dia keluar kamar mandi. Myria di belakang memapahnya hati-hati.


“Minum teh atau minuman hangat lain, ya? Jahe mau?” kata Myria setelah mendudukkan Friska ke kursi meja makan. Sahabatnya itu hanya mengangguk sambil bersandar.


Api mulai menyala. Sesekali, Myria menoleh ke belakang untuk memastikan sahabatnya baik-baik saja. Tidak lucu andai Friska pingsan saat Myria fokus menghadap kompor.


Sambil menunggu air mendidih, Myria mendekat dan menarik kursi di sebelah. “Apa yang kamu rasain?”


Friska menggeleng lagi. “Lemes dikit gara-gara muntah tadi. Tapi bentar lagi paling juga seger.”


“Makan dulu, ya? Nggak usah maksa buat bantuin. Ini udah diurusin sama Bibi. Kamu ngeyel, sih.”


“Iya, Bawel. Aku diem aja.”


Jawaban Friska membuat Myria mendesis sebal. Padahal, rasa khawatir sudah sampai di ubun-ubun tadi, tetapi wanita satu itu masih sempat bercanda. Friska tidak tahu bahwa pikiran Myria sudah ke mana-mana dan takut disalahkan.


Suara air mendidih menjeda perdebatan dua wanita itu. Myria segera menggeprek jahe dan menuangkan air hangat ke gelas. Beberapa sendok madu ditambahkan agar memberi sedikit rasa manis.


“Aku tambahin air suhu ruang tadi, jadi nih masih anget.” Gelas tersodor ke arah Friska. Myria segera memberi perintah agar sahabatnya segera menghabiskan.


“Kamu udah ke dokter?” tanya Myria lagi.


“Ngapain ke dokter? Aku nggak sakit.”


“Idih, dari kemarin ngeluh badan nggak enak siapa? Itu anak-anak di butik juga masih inget kalau seminggu ini kamu bilang capek mulu padahal cuma bikin patern di laptop. Urusan ngukur klien sama ngeluarin kain juga aku sama yang lain.”

__ADS_1


Friska tersenyum malu-malu. Dia kembali menyeruput air jahe. “Ya, sorry. Ngantuk mulu bawaannya.”


“Kebanyakan begadang, sih.”


Cibiran Myria tak bisa disangkal. Friska mengakui apa yang dikatakan Myria memang benar adanya. Beberapa hari terakhir dirinya seolah angkat tangan dalam pekerjaan yang terlalu banyak bergerak. Suasana hati Friska ingin terus bermalas-malasan.


“Fris.”


“Hm.”


“Kamu udah haid?” Sejak tadi, Myria tidak kepikiran menanyakan itu. Setelah menyimpulkan beberapa dugaan, barulah dia mengeluarkan pertanyaan demikian.


Tangan langsung menaruh gelas ke meja, sementara dua mata Friska membulat diiringi ekspresi tersentak. Dia menoleh ke samping lagi. “My ….”


Rengekan Friska ikut membuat Myria kaget sekaligus bingung. “Apa? Gimana?”


“Masa aku hamil, sih? Aaa … nggak mau. Nggak, My! Myria, tolongin aku.”


Benar-benar di luar dugaan respons yang ditunjukkan Friska. Biasanya, wanita tahu dirinya hamil akan begitu bahagia atau terharu, tetapi mengapa Friska berbeda?


Mendapati sahabatnya tenang, Myria kembali duduk. Dirapatkannya kursi, lalu bicara sangat pelan sampai para asisten rumah tangga keheranan.


“Cerita sama aku. Kenapa kamu bisa gitu? Apa Pak Zayyan … maaf, nggak baik sama kamu sampek bingung gini kalau bener kamu hamil? Harusnya, kan, seneng, Fris.”


Binar keceriaan Friska memudar. Cara pandangnya pun meredup. “Enggak, kok. Aku cuma belum kepikiran punya anak buat sekarang. Pernikahanku baru sebulan, My. Aku belum puas pacaran. Ada anak, perhatianku ataupun Mas Zayyan pasti kebagi.”


“Astaghfirullah, Friska. Kok, bisa kamu ada pikiran gitu? Jangan suka nebak-nebak yang buruk. Inget, ya, Fris, Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Mikir yang baik-baik aja buat semua takdir yang kita hadapi.”


Bibir berlapis lipstik nude itu tak lagi membantah. Friska menarik napas, lalu mengembuskan berat. Pikirannya tetap berkelana sekalipun baru saja diberi nasihat. Tanpa sadar, tangan mengusap perut yang masih datar.


Berkali-kali Myria meyakinkan andai sahabatnya itu benar hamil, pasti Pak Zayyan akan senang. Friska tak menyanggah lagi, tetapi jika dilihat dari sorot matanya masih menyirat kekhawatiran.


“Aku seneng kalau kamu beneran hamil. Pulang dari sini, beli testpack terus besok dipakek. Jangan lupa kasih tahu aku. Aku yakin Pak Zayyan bakal seneng, kok.”

__ADS_1


“Sayang ….” Suara Angkasa menjadi pemutus obrolan. Pria itu datang dari arah depan dan langkahnya terdengar kian dekat. Myria lekas beranjak dan menghampiri agar Angkasa tidak berteriak lagi.


“Eh, Fris, gue nggak liat lo dateng. Sorry, ya.” Sejak tadi sibuk, Angkasa sampai tak sadar kapan Friska masuk.


“Nggak pa-pa, Ka. Gue dateng langsung ke sini tadi, lo masih ngobrol ama karyawan tadi.”


Angkasa bergumam sambil mengangguk.


“Ngapain tadi manggil?” Myria mengingatkan agar suaminya tidak bertanya macam-macam.


“Itu, anak-anak mau pulang. Ayo, keluar bentar.”


Myria mengiyakan. Sebagai tuan rumah, dia juga perlu mengucap terima kasih atas kedatangan para pekerja perusahaan maupun pekerja butiknya sendiri.


Sementara Myria sibuk dengan tamu, Friska kembali pada sang suami. Dia duduk dengan tenang, lalu mengambil hidangan yang sekiranya bisa dimakan.


“Nggak lihat kamu keluar tadi.” Pernyataan dari Pak Zayyan menyambut kedatangan Friska.


“Iya, Mas. Tadi bantu di belakang aja.”


Bibir Pak Zayyan mengucap kata ‘oh’ lalu lanjut menikmati makanan yang diambilkan sang istri. Dia nikmati hidangan sekaligus suasana ramai penuh manusia tersebut.


“Mas.”


“Ya, mau nambah?” Baru dipanggil, Pak Zayyan sudah menawarkan sesuatu. Namun, tawaran beliau ditolak Friska.


“Kalau … aku hamil gimana?”


.


...—TBC—...


Apa ada rumah tangga tokoh bahagia tanpa masalah?

__ADS_1


Nggak ada, ya, Kak kalau di tulisanku. Hehehe


Jadi ya, moga ttep bisa dinikmati tulisan aku ini. 🤗


__ADS_2